Berita Dunia Islam Terdepan

Berpegang kuat pada prinsip Islam, media Islam dianggap ‘radikal’

8

JAKARTA (Arrahmah.com) –  Media Islam memiliki ciri khas tersendiri dalam menyuarakan pesan-pesan Islam, oleh karena itu media Islam memiliki tanggungjawab besar yang memiliki bukti otentik berupa teks yang bisa dibaca orang kapan saja. Demikian yang diungkapkan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya.

“Media Islam yang tidak konsisten, tentu saja akan dijauhi pembacanya. Sedangkan, pembaca media islam bukan hanya dibaca oleh orang Islam saja, tapi siapa saja. Tapi bagi saya, apapun yang terjadi, prinsip harus dipegang.  Situs Islam,  seperti Voa-Islam dan ar-Rahmah tentu punya prinsip, sehingga ada yang menilai situs tersebut dianggap terlalu keras membela Islam dan para terorisme. Tapi itu, kan anggapan orang luar saja,” kata Mustofa.

Lebih lanjut Mustofa mengatakan bahwa apapun yang terjadi, media Islam harus teguh memegang prinsip, tidak boleh terganggu oleh suara-suara miring dari pihak luar karena dalam dakwah hal itu sudah biasa.

“Tentu, dakwah di zaman Rasul dengan sekarang berbeda. Di masa  Rasulullah, yang mendakwahkan Islam akan dilempar kotoran hewan, tapi sekarang bukan lagi kotoran hewan, tapi yang dilempar adalah isu-isu miring,” ujarnya.

Tak dipungkiri, media-media Islam yang tidak ikut mendukung kampanye pemerintah, akan dicap melawan pemerintah. Begitu juga, media Islam yang tidak mendukung program pemberantasan terorisme, akan dianggap pro terhadap terorisme. Ini sebuah dilema dan persepsi yang salah.

Mustofa mengungkapkan malah menjadi lucu ketika media Islam tidak menoleh dan membela kepentingan Islam. Memang, jika dibandingkan dengan media umum, karakter media Islam lebih mengetahui persoalan, jika menyangkut keislaman. Maka sudah sepantasnya lah media yang mengetahui soal islam itu menyuarakan kepentingan Islam.

Mustofa menjelaskan jika membandingkan media Islam dengan media umum sudah pasti berbeda. Media umum hanya memberitakan fakta apa yang dilihat (snapshoot), sedangkan media Islam  mengupas dibalik semua peristiwa dan fakta itu, jadi tidak sekedar memberitakan fakta.

“Media Islam memang punya karakter tersendiri ketimbang media umum. Karena, media Islam harus membela jika menyangkut kepentingan Islam.”

Media Islam yang hanya memberitakan fakta adalah kesalahan besar. Karena fakta itu bisa dibuat. Termasuk, bom bisa dibuat oleh siapapun. Tidak harus pelaku bom, karena pelaku bom belum tentu sadar bahwa dia mengebom.

Bahkan yang harus diperhatikan media Islam adalah, jika hanya menyampaikan fakta semata, tidak mengupas apa dibalik fakta, maka itu namanya tidak tabayun. Karena itu  ada istilah cross check (tabayun), dimana sebuah fakta harus dicari pembandingnya. Setidaknya harus menjawab pertanyaan kritis, apa benar ini tindakan terorisme, apa benar ini bom bunuh diri, apa benar ini fakta sesungguhnya? Inilah yang disebut sebagai perimbangan atau kesimbangan.

Mustofa menjelaskan bahwa keseimbangan antara media Islam dengan media umum juga berbeda. Media umum tidak akan mengurai dibalik fakta sedetil media Islam, hal tersebut dikarenakan media umum tidak didorong oleh tabayun sebagai bentuk ibadah. Sedangkan media Islam, tabayun itu merupakan bagian dalam kerangka ibadah.

Ghirah keislaman dari media Islam adalah nilai plus, ketika media umum tidak memiliki beban apa-apa, kecuali hanya semangat bekerja saja dengan orientasi hasil. Secara profit, media Islam belum tentu meraih keuntungan, tapi secara syar’i, media Islam membawa pesan-pesan ibadah.

Saat ini, para jurnalis muslim memang belum memiliki panduan menulis tentang peliputan kasus ‘terorisme’. Sehingga acapkali terjadi kesalahpahaman dan dilema, ketika melaporkannya dalam sebuah berita. Sebagai contoh, istilah teroris menjadi diskusi panjang para jurnalis muslim.

“Memang yang mengeluarkan istilah teroris adalah pemerintah. Ini berkaitan dengan tindak pidana UU Terorisme. Dalam hal ini, pemerintah mengekor dengan keinginan pemerintah AS sejak tahun 2001.”

Mustofa berpendapat bahwa media Islam boleh saja menyebut teroris dalam “tanda petik”. Terpenting, di dalam badan berita itu harus menjelaskan. Sebagai ide, kenapa tidak, jika media Islam mencoba merekonstruksi istilah terorisme menurut kacamata redaksi masing-masing.

“Bisa saja mengundang pimpinan media umum untuk berdiskusi. Dalam diskusi itu, bisa dibahas soal  istilah terorsime, kelompok bersenjata, makar dan sebagainya. Barangkali, sesama jurnalis bisa menyatukan persepsi, untuk menghindari terjadinya fitnah. Mengingat pemaksaan kata-kata teroris, dapat  menyebabkan timbulnya fitnah yang menyakitkan.”

Menurut Mustofa, media Islam punya hak dan kewenangan, untuk memilih narasumber, tergantung ciri khas medianya. Terbukti setiap media tidak sama dalam memilih narasumbernya. Memang, seyogianya, media Islam memilih narasumbernya, dan kalo bisa menghindari narasumber yang tidak sesuai dengan visi-misnya.

Jika tidak ada pilihan, seperti jumpa pers, pengamat yang pro pemerintah (BNPT) ikuti saja, tapi harus dicari pendapat lain, atau ada pengimbangan. Media Islam hendaknya tidak mentah-mentah menelan informasi atau pendapat dari satu pihak. Ada baiknya, membagi porsi saja, misalnya pendapat pro BNPT 20%, sedangkan pendapat lain 80%. Intinya, media islam, harus pintar-pintar memilih narasumber.

Mustofa berharap agar umat Islam bersikap arif dalam menyikapi kasus terorisme. Bagaimanapun, semua pihak, termasuk media Islam dipastikan tidak akan menyetujui aksi pengeboman. Disinilah peran media Islam yang notabene hanya membela, ketika Islam menjadi tertuduh.

“Media Islam yang mengutip pendapat ormas maupun tokoh Islam atas ketidaksetujuan dari tindakan pengeboman, tidak perlu dipersoalkan. Tidak apa-apa, jika yang disikapi aksi bomnya, tapi bukan mengutuk agamanya. Media Islam yang memegang prinsip, dipastikan banyak tantangan dan musuhnya. Itu sudah wajar. Hal itu sekaligus untuk menguji media Islam, apakah tumbang sampai di situ, atau akan tetap menjalan visi misinya atau istiqomah?” tandas Mustofa.

Media Islam, hendaknya jangan melemah, hanya karena tak tahan kritik dan upaya untuk menakuti-nakuti, apalagi sampai luntur dan berhenti ghirah keislamannya, akhirnya membuat media Islam menjadi banci. Media Islam yang tidak berani tegas, akan kehilangan kepercayaan (trust) dari pembacanya.

Terkait banyaknya opini yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu yang mencap situs-situs Islam diangggap ‘radikal’, Mustofa menolak dan menentang desakan itu.

“Saya sangat menentang, ketika Menkoinfo berkeinginan untuk menutup situs-situs jihad dan sebagainya, meski akhirnya tidak terjadi. Harus diakui, akan sulit dibedakan, mana situs jihad, radikal, terorisme dan kekerasan. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan memberi stigma kepada situs-situs Islam.”

Mustofa Arrahmah dan voa-Islam sebenarnya situs yang biasa-biasa saja. Kalau arrahmah atau Voa-Islam dianggap sebagai situs radikal, setiap orang yang membaca situs tersebut  pasti besoknya akan ngebom. Tapi ini kan tidak. Voa-Islam maupun Arrahmah tidak pernah menyuruh siapapun untuk melakukan pengeboman.

“Saya pernah istri saya buka situs voa Islam dan ar Rahmah. Komentar istri saya, situs itu biasa-biasa saja, tidak ada keingianan untuk ngebom.”

Sangat aneh, ketika situs Ar Rahmah dan Voa Islam disamakan dengan situs porno, seperti dikatakan Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj.  Bagaimanapun kedua situs Islam itu berangkat dari hal yang suci, sedangkan situs porno berangkat dari kejahatan.

“Sangat tidak tepat dan keliru. Saya sangat menentang sekali pendapat itu. Nanti, saya akan merealese ucapan-ucapan para pejabat dan tokoh agama yang begitu mudahnya menjustifikasi. Saya kira statemen tokoh  itu adalah bentuk mencari muka, yang memanfaatkan momen.” 

Tidak hanya itu, bahkan berkali-kali Mustofa mengingatkan para pengamat terorisme di televisi, agar hati-hati menjustifikasi soal celana ngatung, jenggot panjang, dan cadar, seolah berbahaya dan mengkhawatirkan.

“Koruptor di pengadilan saja, yang sehari-hari tidak pernah pake cadar, seperti Yulianis, menutupi wajahnya dengan cadar. Di TV One, saya menilai Prof Sarlito membuat kesalahan besar, dengan menjustifikasi jenggot panjang dan celana ngatung sebagai ideologi berbahaya” ucapnya.

Lebih lanjut Mustofa berpendapat sebenarnya mereka bukan Islamophobi, mereka hanya tidak paham. Bahkan pengamat yang keliru biasanya dikarenakan ada kaitan dengan proyek mereka dibidang riset, re-edukasi,  dan deradikalisasi yang pendanaannya diperoleh dari pemerintah. Dimana biasanya, kalau sudah bicara proyek, analisanya kadang menjadi tidak objektif. (voaI/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...