Berita Dunia Islam Terdepan

Tak rela Reog dan kenduri disebut bid’ah, warga Nadhiyin protes pada radio dakwah

13

PONOROGO (Arrahmah.com) – Tak terima tradisi Reog, kenduri atau selamatan disebut bid’ah sekitar seribu warga NU atau Nadhliyin di Kabupaten Ponorogo yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Antiradikalisme (AMAR), melakukan demonstrasi di pusat kota.

Dalam aksi yang dilakukan pada hari Kamis (29/9/2011) tersebut massa mengklaim bahwa ajaran ‘radikalisme Islam’ mulai muncul di wilayah tersebut. Aksi dimulai dari gedung DPRD setempat sekitar pukul 09.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan pawai sepeda motor menyusuri ruas jalan protokol kota Ponorogo.

“Kami minta pemerintah daerah, aparat kepolisian dan jajaran terkait untuk menindak tegas setiap kelompok maupun golongan yang mengajarkan paham radikalisme (Islam). Selain bertentangan dengan ajaran agama, propaganda atas ajaran/paham itu bisa memicu perpecahan umat,” ujar M Asrofi, korlap aksi tersebut.

Protes massal yang dilakukan sejumlah ormas NU, mulai dari Gerakan Pemuda Ansor, Banser, PMII, IPNU, serta IPPNU kemarin merupakan respons terbuka yang mereka lakukan secara masif atas aktivitas Radio ‘Idzatul Al Khoir’ yang ada di kantor Majelis Tafsir Al Quran (MTA).

Mereka menuduh radio tersebut menyebarkan ajaran berbau pertentangan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan), pasalnya dalam acara radio tersebut kerap kali mendakwahkan bahwa beberapa tradisi seperti reog, kenduri, atau selamatan adalah bid’ah.

“Kami tidak rela kalau tradisi reog, kenduri, atau selamatan dianggap sebagai ajaran ‘bid’ah’ (sesat), seperti selama ini kerap dipropagandakan ajaran mereka,” ucap koordinator aksi, Ahmad Subekhi.

Keberadaan program siaran Radio Idzatul Al Khoir yang baru berdiri selama beberapa bulan terakhir di kota Ponorogo beberapa kali memicu protes masyarakat, khususnya warga Nahdliyin.

“Kami mengecam keras adanya praktik-praktik menyesatkan, adu domba, apalagi pemaksaan keyakinan terhadap masyarakat. Pemerintah harus menghentikan propaganda tersebut, agar tidak memicu konflik horizontal,” klaim Asrofi.

Beginilah ketika manusia tak ‘rela’ diberi pemahaman yang benar tentang Islam. Bukannya berusaha instropeksi diri dan mencari tahu lebih banyak tentang Islam, malah menuduh yang tidak jelas.

Ketika ada orang berdakwah pada kita tentang sesuatu hal yang selama ini bertentangan dengan pemikiran yang berkembang di masyarakat, sudah selayaknya kita mencari tahu sumber dan landasan hukumnya dalam Islam. Bukan dengan serta merta menerima atau bahkan menuduh yang bukan-bukan tanpa bukti dan pengetahuan yang mumpuni.

Padahal siapapun tahu, dalam tradisi reog melibatkan aksi persekutuan manusia dengan jin dalam melakukan atraksinya, belum lagi para wanita yang memakai kostum tanpa menutup aurat secara syar’i sambil menari-nari mengikuti lagu.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179) Wallohua’lam. (dbs/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...