Berita Dunia Islam Terdepan

Mengaku dapat info dari BIN sebelum pemboman di Solo, Kapolri hanya kerahkan 2 petugas untuk jaga GBIS. Ada apa ini?

1

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq merasa aneh dan mempertanyakan terkait upaya pencegahan aksi bom di Solo yang ‘hanya’ mengerahkan dua orang polisi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, padahal sudah mendapatkan info dari BIN terkait aksi pemboman tersebut.

Seperti pengakuan Kapolri sebelumnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan telah menerima informasi dari BIN tentang rencana aksi bom di Solo, dimana Polri telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan menempatkan dua petugas telah ditempatkan di GBIS, Kepunton, Solo.

“Kalau cuma dua polisi mah apa bedanya dengan pengamanan biasa, lebih banyak polisi di Jembatan Semanggi,” kata Mahfud di Gedung DPR, Senayan, Rabu (28/9/2011).

Mahfud juga mempertanyakan soal prosedur yang dimiliki polisi saat menerima informasi.

“Jadi dipertanyakan SOP-nya. Apa memang begitu SOP-nya? Istilah saya polisi yang ditempatkan di jalan raya yang tidak ada ancaman bomnya lebih banyak kok, dan lebih sigap,” katanya.

Mahfud mengungkapkan polisi seharusnya bisa bertindak lebih sigap. Apalagi, konon BIN telah memberikan informasi pendahuluan tentang enam orang yang sudah disiapkan untuk melakukan pemboman, sebelum bom Cirebon.

“Dan bahkan BIN sudah menyampaikan informasi per tanggal 21 September bahwa ada yang ingin dijadikan Solo sebagai Ambon kedua. Artinya, logikanya bahwa dari lima orang karena satu sudah menjadi pelaku di Ambon, mereka sudah menetapkan tempat operasinya. Itu kan logikanya seperti itu,” katanya.

Ditambah lagi, kegiatan internasioal akan digelar di kota Solo. “Nah kenapa kemudian ini kejadian, kan mestinya polisi tanggap. Apalagi Solo memang daerah yang potensial dan kemudian di Solo akan ada event internasional, pertemuan parlemen se-Asia. Ya kan? Ini kan akan menarik perhatian banyak negara,” kata Mahfudz.

Bisa jadi ‘upaya’ yang setengah-setengah, ‘usaha yang seolah antara mau dan tidak mau’ tersebut merupakan tindakan pembiaran yang disengaja untuk kembali mendeskreditkan ummat Islam. Wallohua’lam. (eramuslim/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...