Berita Dunia Islam Terdepan

Seorang perempuan Libya jadi pemandu aksi pemboman salibis NATO?

1

TRIPOLI (Arrahmah.com) – Kampanye pemboman salibis NATO yang selama ini disinyalir melemahkan posisi Muammar Gaddafi ternyata didukung oleh peranan rahasia seorang perempuan Libya berusia 24 tahun yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memata-matai sejumlah fasilitas militer milik Gaddafi dan memberitahukan informasi yang didapatnya kepada aliansi militer salibis Barat, lansir Reuters pada Senin (12/9/2011).

Perempuan, yang bertugas dengan nama Nomidia, menggunakan metode yang cukup rumit untuk menghindari penangkapan – termasuk gemar mengubah tempat tinggal, nomor telepon, serta berusaha untuk menyembunyikan aktivitasnya dari semua orang, kecuali anggota keluarganya.

Jarang yang menaruh kecurigaan pada Nomidia, bahkan pasukan keamanan Gaddafi. Jenis kelaminnya yang perempuan dan usianya yang masih belia membuat masyarakat konservatif Libya tidak mencurigainya.

“Saya tidak diradar,” kata perempuan yang juga seorang insinyur itu pada Reuters dalam sebuah wawancara di lobi sebuah hotel Tripoli, dua minggu setelah pemberontakan merusak kendali Gaddafi atas ibukota Libya setelah 42 tahun berkuasa.

“Mereka lebih berkonsentrasi pada kaum laki-laki dan hampir mustahil untuk berpikir bahwa seorang gadis melakukan semua ini.”

Nomidia berbicara dengan menyembunyikan identitas aslinya. Dia mengatakan, meskipun saat ini Tripoli ada di bawah kendali pemerintah sementara yang baru, namun ia yakin masih ada “kolom kelima” loyalis Gaddafi yang mungkin akan menargetkan dirinya atau keluarganya.

Reputasi sebagai mata-mata rahasia ini dikuatkan oleh dua orang lainnya yang merupakan bagian dari sebuah jaringan anti-Gaddafi bawah tanah dan membantunya mengirimkan rincian tentang pasukan keamanan.

“Dia adalah sumber yang sangat penting, dan sangat terpercaya,” kata Osama Layas, ahli ilmu patologi forensik yang merupakan anggota jaringan itu.

Nomidia memulai pekerjaannya sejak lima bulan lalu, saat Gaddafi dan pasukan keamanan mencengkeram kota dan menahan informasi yang dapat berguna bagi lawan-lawannya.

Saluran telepon dipantau, pesan teks di telepon seluler diblokir, dan internet tersedia hanya untuk kantor-kantor pemerintah dan sekelompok wartawan asing yang disimpan di bawah penjagaan di sebuah hotel bintang lima.

Penjara kota itu penuh dengan orang yang diduga membantu pemberontak anti-Gaddafi atau bahkan hanya menyampaikan informasi kepada seseorang di luar Libya.

Dengan tubuhnya yang semampai dan kerudung hijau yang menutupi kepalanya, Nomidia mengatakan ia merasa terdorong untuk bertindak setelah melihat cara brutal pasukan Gaddafi yang memicu gejolak pertama pemberontakan di kota-kota di seluruh negeri.

“Saya tidak bisa membantu ketika saya melihat apa yang Gaddafi lakukan di Benghazi pertama kali, di Misrata, di Zawiyah, di Tripoli, Pegunungan Barat,” katanya.

Dia mulai bersuara melalui al-Ahrar, stasiun televisi anti Gaddafi yang berbasis di Doha, Qatat Dia mengucurkan informasi dari Tripol dan produsen di stasiun itu mempublikasikan informasinya di bawah nama kontributor Nomidia.

Tak lama kemudian, ia pun menyampaikan informasi mengenai pasukan militer Gaddafi yang selama ini sengaja digudangkan (tidak diudarakan) statsiun tersebut untuk menghindari peringatan dari pemerintah Gaddafi.

Selanjutnya, statsiun itu mulai menyampaikan informasi kepada NATO, melalui pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC).

Informasi yang diberikan Nomidia di antaranya lokasi penyimpanan senjata dan tank-tank mereka.

Dengan penyadapan jaringan telepon oleh rezim Gaddafi, Nomidia menyatakan inilah yang paling berbahaya dari kegiatannya.

“Saya menggunakan banyak ponsel. Saya menggunakan 12 kartu SIM dan tujuh ponsel yang berbeda,” katanya.

Pada satu titik, seorang pengusaha dan anggota anti-Gaddafi jaringan memberinya telepon satelit untuk digunakan, meskipun alat ini pun beresiko karena pemerintah telah melarang penggunaannya.

Dia juga sering mengubah lokasi tempat tinggalnya.

“Suatu hari saya menelepon dari Tajoura, satu hari dari Souk al-Jumaa, tempat yang berbeda.,” katanya.

NTC membenarkan kabar tersebut.

“Kami memiliki setidaknya 16 orang yang bekerja untuk dalam melakukan hal ini. Bahkan ada seorang perempuan yang memberikan kami informasi,” kata Hisyam Buhagiar, seorang pejabat militer senior NTC.

“Ini adalah operasi besar yang tidak mungkin anda lakukan tanpa mereka,” katanya.

Sementara itu, juru bicara NATO mengatakan dia tidak bisa mengungkapkan rincian tentang siapa yang menyampaikan informasi tentang target di Tripoli, tapi ia mengatakan bahwa mereka memainkan peran yang berharga.

“Kami sangat bergantung pada intelijen dan pengawasan dalam menjalankan misi ini,” kata juru bicara itu. “Hal ini cukup jelas bahwa kami menggunakan sumber-sumber informasi yang baik.”

Dalam wawancara dengan Reuters, Nomidia menyebut tiga lokasi yang katanya telah terkena serangan salibis NATO setelah ia memberikan informasi. Lokasi itu di antaranya distrik Salaheddin yang sebelumnya digunakan oleh sebuah perusahaan Turki, di mana pro-Gaddafi milisi menyimpan senjata, kamp militer di lingkungan Al-jibs Bawabit, dan kantor badan intelijen di distrik Sidi El-Masri.

Insiden di akhir Agustus ini menegaskan kegesitan Nomidia dan sumber telah menembus administrasi Gaddafi.

Saat pemberontak merangsek masuk ke ibukota, NTC mengklaim pihaknya telah menangkap Saif Al-Islam, salah satu putra Muammar Gaddafi. Tapi hal itu tidak terbukti karena beberapa jam kemudian Saif muncul di salah satu hotel yang menjadi tempat bagi para wartawan asing.

Nomidia sudah tahu laporan itu tidak benar karena, katanya, dia punya sumber di dalam ruang operasi di Bab Al-Aziziyah, tempat pasukan keamanan Gaddafi diarahkan.

“Dia menelepon saya… dan menyatakan Saif masih hidup, mereka tidak menangkapnya,” katanya.

“Dia mendapat informasi dari dalam Bab al-Aziziyah Dia memiliki kontak di sana.. Dan ternyata benar. Setelah setengah jam, Saif itu di CNN,” kata statsiun televisi tempat Nomidia memberikan informasi.

Dua bulan sebelumnya, dia nyaris tertangkap. Pasukan keamanan Gaddafi telah melacak salah satu kartu SIM yang ia gunakan, dan tahu nama aslinya pertama, meskipun bukan nama keluarganya.

“Saat itu saya mematikan semua ponsel saya dan saya terus bergerak bersama seluruh keluarga, dari rumah ke rumah, untuk memperoleh keamanan,” katanya. “Itu adalah situasi yang paling sulit.”

Saat ini, peran Gaddafi telah rusak, dan Nomidia pun merasa lega serta melonggarkan aksinya. Reuters melansir bahwa Nomidia memiliki peran yang cukup besar dalam meruntuhkan kekuasaan Gaddafi. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...