Berita Dunia Islam Terdepan

Ali Abdullah Saleh: “Sampai bertemu di Sana’a!”

2

SAN’A (Arrahmah.com) – Presiden Yaman yang diperangi, Ali Abdullah Saleh, berjanji pada hari Selasa (16/8/2011) untuk kembali ke negerinya dari Arab Saudi, sebuah langkah yang berpotensi menimbulkan fase baru kekisruhan yang sudah melanda negeri miskin itu selama enam bulan dalam rangka menendang rezim Saleh dari kekuasaan.

Kondisi keamanan di Yaman semakin memburuk selama pemberontakan berlangsung. Sementara pada saat yang sama, Al Qaeda semakin menguat dan telah menguasai sepenuhnya wilayah selatan negara itu. Pasukan pro pemerintah pun harus bertarung menangani perlawanan suku oposisi di bagian lain negaranya. Hanya selama dua hari terakhir sekitar 33 orang tewas dalam pertempuran di utara ibukota, pejabat medis melaporkan.

Berbicara melalui televisi dari ibukota Saudi, Saleh bersumpah untuk kembali ke negerinya dan mengatakan kepada para pendukungnya, “Sampai bertemu di Sana’a!” Dalam kesempatan itu, ia pun mengancam lawan-lawan politiknya dan menyebut mereka “pengeksploitasi, pedagang perang, dan penjarah jalanan.”

Saleh yang hanya pekan lalu meninggalkan rumah sakit di Riyadh tampak ada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan penampilan pertamanya melalui televisi pasca serangan di istananya.

Selain sarung tangan putih yang menutupi tangannya yang terkena luka bakar, secara keseluruhan kondisi presiden korup itu telah pulih. Wajahnya tidak lagi legam karena luka bakar, ia pun tampak lihai dan percaya diri di hadapan kamera.

Saleh sama sekali tidak menyinggung kesepakatan transfer kekuasaan -yang didukung oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat- yang akan memberinya kekebalan hukum dari penuntutan jika ia dengan suka rela mundur dari kekuasaan. Ia hanya menyatakan bahwa ia bersedia memberikan kekuasaan kepada wakil presiden jika pejuang suku bersenjata yang mendukung para demonstran menarik diri dari jalanan dan pihak oposisi segera mengakhiri aksi protes.

Namun, pihak oposisi telah menolak tawaran terakhir dari Saleh dan menyebut Saleh tidak tulus dan tidak benar-benar ingin menyerahkan kekuasaan. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...