Berita Dunia Islam Terdepan

Gedung Putih : Perlu untuk memonitor propaganda online “ekstrimis”

2

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Portal berita Amerika Cnet News mempublikasikan sebuah artikel berjudul “White House : Need to monitor online extremism”.  Artikel ini menyoroti proses transformasi lebih lanjut dari Amerika ke sebuah negara polisi totaliter.  Proses ini meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Sebuah strategi “terorisme” Gedung Putih yang dirilis pada 3 Agustus lalu mengatakan bahwa Facebook, Twitter dan jaringan sosial lainnya membantu dalam narasi “memajukan kekerasan ekstrimisme” dan harus dipantau oleh pemerintah, lapor Cnet News.

Strategi berisi 12 halaman (PDF), yang menguraikan cara-cara untuk merespon kekerasan “ekstrimisme”, berjanji bahwa : “Kami akan  terus memonitor peran penting internet dan situs jejaring sosial dalam memajukan narasi kekerasan ekstrimisme”.

Presiden Obama mengatakan dalam sebuah statemen yang menyertai laporan bahwa pemerintah federal akan mulai “membantu masyarakat untuk lebih memahami dan melindungi diri terhadap propaganda ekstrimisme terutama melalui online”.

Sementara banyak dokumen Gedung Putih yang fokus terhadap Al Qaeda, juga berbicara mengenai teroris dalam negeri, neo nazi, anti-semit dan “berbagai ideologi” yang mempromosikan radikalisasi.

Pengumuman ini mungkin merupakan sinyal bahwa pemantauan jaringan sosial akan diperluas melampaui apa yang sudah dilakukan oleh Departemen Keamanan dalam negeri AS.

Di bulan Juni 2010, Departemen Keamanan dalam Negeri AS (DHS) mengonfirmasikan bahwa agennya diizinkan untuk membuat akun di situs jejaring sosial dalam beberapa situasi.

DHS akan memantau kegiatan di situs media sosial menggunakan mesin pencari dan alat-alat lainnya, ungkapnya dalam pengumuman tahun lalu.

Ini tidak hanya terjadi di Amerika.

Pada tahun 2009, Inggris mengumumkan akan memantau semua percakapan di situs jejaring sosial termasuk Facebook, MySpace, Bebo, Twitter, dan Skype dalam penumpasan “teroris” di internet.  Juga hal ini dilakukan oleh pemerintahan Chili.  Dan tentu saja diikuti oleh beberapa rezim yang represif yang telah cukup memblokir situs web sepenuhnya.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...