MUI serukan tujuh poin taushiyah Ramadhan 1432 H

14

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan tujuh poin taushiyah (pesan-pesan) menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1432 H. Taushiyah itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal MUI Ichwan Sam di Kantor Pusat MUI, Jl. Proklamasi No. 51 Jakarta Pusat, Sabtu (30/7/2011).

Dari tujuh poin taushiyah itu adalah agar menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai bulan kedamaian, bulan anti kekerasan, bulan anti korupsi, bulan bebas fitnah dan ghibah. “Pendek kata, inilah bulan penumpasan nafsu dan kekejian syaitoniyah dan penggalangan aksi kebajikan serta kesantunan terhadap sesama, karena bulan Ramadhan adalah saat panen raya pahala bagi para pengamalnya,” ujar Ichwan saat membacakan taushiyah.

Pesan lainnya adalah mengajak kaum muslimin/muslimat dan segenap masyarakat Indonesia untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan sukacita dan penuh optimisme karena Ramadhan adalah bulan kebajikan, bulan ibadah, dan bulan ampunan yang pasti akan membawa kebaikan, kesejahteraan, serta pencerahan hati dan pikiran umat manusia.

“Menyerukan kepada umat Islam agar memasuki Ramadhan dengan penuh keimanan, senantiasa mengharap ridha Allah swt dalam suasana hati yang sejuk, tenang, dan damai, serta mengembangkan sikap toleransi (tasamuh) dalam menjalankan agama, tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan, termasuk perbedaan faham keagamaan, serta menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia (tabdzir) dan pemborosan (israaf) yang mendatangkan kemudaratan bagi diri sendiri dan orang lain,” katanya.

Poin lainnya, mengajak seluruh organisasi/lembaga Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan untuk mengisi bulan Ramadhan demi lebih memberi makna pada pengayaan nilai dan khasanah Ramadhan sebagai bulan penuh berkah (syahr al-mubarak) dan bulan puasa (syahr al-shiyam) dengan menyelenggarakan berbagai program keutamaan untuk keluarga, remaja, dan anak-anak seperti tadarus Al Quran, pesantren kilat, perkemahan Ramadhan, kursus keagamaan, dan sebagainya.

Selanjutnya, kepada masyarakat luas diharapkan agar menghormati kemuliaan bulan Ramadhan dengan bersama-sama membangun kondisi yang kondusif bagi umat Islam untuk dapat menunaikan ibadah secara tenang dan khusyuk serta menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pengendalian diri.

Pesan lainnya, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan amal. Oleh karena itu, diimbau kepada para “aghniya” (kaya) untuk meningkatkan amal saleh dengan membantu kaum dhuafa melalui penyaluran zakat, infak, sodaqoh, dan amal sosial lainnya.

Terakhir, menyerukan kepada pemerintah agar memberikan kesempatan kemudahan dan jaminan keselamatan kepada masyarkat luas dalam memanfaatkan fasilitas transportasi dan fasilitas umum lainnya bagi mereka yang bersilaturrahmi dengan keluarga dan handai tolan merayakan Lebaran Idul Fitri. (pr/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.