Berita Dunia Islam Terdepan

CIA pura-pura adakan program vaksinasi untuk mendapatkan DNA keluarga Syaikh Usamah

3

ABBOTTABAD (Arrahmah.com) – CIA menyelenggarakan program vaksinasi palsu di kota tempat mereka mengklaim berhasil menewaskan Syaikh Usamah bin Laden untuk memperoleh DNA dari keluarga pemimpin Al Qaeda itu, tim investigasi Guardian mengungkapkan.

Sebagai bagian dari persiapan untuk melancarkan serangan yang menewaskan Syaikh Usamah, agen CIA merekrut seorang dokter senior untuk mengatur penyelenggaraan vaksinasi di Abbottabad, bahkan memulai “proyek” tersebut di bagian paling miskin di kota itu agar terlihat lebih alami, berdasarkan temuan yang diperoleh dari keterangan para pejabat Pakistan dan Amerika Serikat serta penduduk setempat.

Sang dokter, Shakil Afridi, sejak saat itu telah ditangkap oleh lembaga Inter-Services Intelligence (ISI) karena bekerja sama dengan agen intelijen Amerika.

Hubungan antara Washington dan Islamabad, yang sudah sangat menegang oleh operasi Abbottabad ini telah memburuk jauh sejak saat itu. Penangkapan dokter tersebut semakin memperburuk relasi kedua negara. AS berusaha untuk membebaskan Afridi.

Rencana vaksinasi ini dibuat setelah petugas intelijen Amerika melacak kurir Al Qaeda, yang dikenal dengan nama Abu Ahmad al-Kuwait, sampai AS mengetahui tempat yang diduga menjadi persembunyian Syaikh Usamah. Badan ini memantau tempat persembunyian Syaikh Usamah melalui satelit dengan pengawasan dari sebuah rumah yang dijadikan markas CIA di Abbottabad.

DNA dari salah satu anak Syaikh Usamah, lansir Guardian, bisa dibandingkan dengan sampel dari adiknya, yang meninggal di Boston pada tahun 2010, untuk memberikan bukti bahwa keluarga Syaikh Usamah benar-benar berada di sana.

Kemudian, agen CIA mendekati Afridi, salah seorang pejabat kesehatan yang menanggungjawabi Khyber, bagian dari daerah suku ada di sepanjang perbatasan Afghanistan.

Afridi yang pergi ke Abbottabad pada bulan Maret mengatakan ia telah memperoleh dana untuk memberikan vaksinasi hepatitis B gratis. Melewati pengelolaan layanan kesehatan Abbottabad, ia membayar sejumlah staf kesehatan daerah setempat yang mengambil bagian dalam operasi tanpa mengetahui apapun mengenai keterkaitan program vaksinasi gratis itu dengan pencarian Syaikh Usamah. Beberapa di antara pengunjung posko kesehatan itu merupakan orang-orang yang memperoleh akses ke kompleks Syaikh Usamah.

Sebelumnya, Afridi menempel sejumlah poster promosi program vaksinasi gratis ini di sekitar Abbottabad. Dalam poster tersebut, diperlihatkan vaksin yang dibuat oleh Amson, produsen obat yang berbasis di pinggiran Islamabad.

Pada bulan Maret petugas kesehatan memberikan vaksin di lingkungan miskin di tepi Abbottabad yang disebut Nawa Sher. Vaksin Hepatitis B biasanya diberikan dalam tiga dosis. Dosis kedua diberikan sebulan setelah yang pertama.

Tapi pada bulan April, tidak ada pemberian dosis kedua di Nawa Sher. Sang dokter kembali ke Abbottabad dan memindahkan para petugas posko vaksinasi ke Kota Bilal, di pinggiran dekat tempat tinggal Syaikh Usamah.

Tidak diketahui persis bagaimana cara sang dokter mendapatkan DNA dari vaksinasi, meskipun sejumlah petugas pembantu diminta untuk mengambil sampel darah setelah pengambilan obat.

“Semuanya benar-benar tidak teratur,” kata seorang pejabat Pakistan. “Kota Bilal adalah kota yang dihuni oleh kalangan yang memperhatikan kesehatan. Mengapa Anda memilih tempat itu untuk memberikan vaksin gratis. Bagaimana mungkin ahli bedah Khyber berkerja di Abbottabad??”

Seorang perawat yang dikenal dengan nama Bakhto (Mukhtar Bibi), berhasil masuk ke kompleks Syaikh Usamah untuk mengelola vaksin. Menurut beberapa sumber, dokter yang menunggu di luar, menyuruhnya untuk mengambil tas yang dilengkapi dengan perangkat elektronik.

Dalam hal ini tidak jelas apa jenis perangkat itu, atau apakah dia meninggalkannya atau membawanya kembali. Selain itu, juga tidak diketahui apakah CIA berhasil memperoleh DNA Syaikh Usamah atau tidak. Salah satu sumber menyatakan operasi itu tidak berhasil.

Islamabad menolak berkomentar secara resmi mengenai penangkapan Afridi, tapi seorang pejabat senior mengatakan: “Negara manapun akan menahan orang-orang yang bekerja pada agen mata-mata asing.”

Pada saat yang sama, CIA pun menolak mengomentari plot vaksinasi yang berhasil diungkap oleh tim investigasi dari salah satu agen berita Inggris tersebut. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...