HAMA (Arrahmah.com) – Ribuan orang menggelar protes di kota-kota di seluruh Suriah pada Rabu malam dan Kamis pagi yang menuntut dibukanya blokade keamanan di Hama, sebagai kota terbesar keempat di negara tersebut.
Tentara bersenjata dengan tank Suriah telah mengelilingi Hama selama lima berturut-turut pada hari Kamis (7/7/2011), sehingga memotong pasokan air dan listrik sebagian besar penduduk kota.

Seorang aktivis hak asasi manusia engatakan bahwa lebih dari 20 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan di kota. Tentara juga telah melukai lebih dari 80 orang ketika mereka menerobos penghalang yang disiapkan oleh warga setelah protes anti-pemerintah besar-besaran di kota.

Dikatakan sedikitnya 22 orang tewas pada hari Selasa (5/7), sementara berdasarkan hasil penelitian lembaga Hak Asasi Manusia mengatakan pada Rabu bahwa setidaknya 23 telah tewas dalam 24 jam.

“Para korban yang terluka sedang dirawat di dua rumah sakit di Hama,” kata ketua Organisasi Nasional, Ammar Qurabi kepada AFP di Nikosia. Ia juga menambahkan bahwa tentara telah menduduki rumah sakit Al Hurani.

Amnesti Internasional yang berbasis di London menuduh pasukan pemerintah Suriah telah  melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam penumpasan yang mematikan pada protes anti-pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu sejak pertengahan Maret.

Sebelumnya pada tahun 1982, Hafez Assad memerintahkan pasukannya untuk menumpas “pemberontakan” oleh kaum “fundamentalis Sunni” yang menewaskan antara 10.000 dan 25.000 orang.

Seorang aktivis mengatakan bahwa sejak pasukan keamanan menembak mati 48 demonstran di kota pada tanggal 3 Juni 2011, Hama telah lolos dari cengkeraman rezim Assad. Hari berikutnya, lebih dari 100.000 pelayat dilaporkan telah mengambil bagian dalam pemakaman mereka.

Sebuah pernyataan oleh Human Rights Watch mengatakan bahwa pasukan keamanan dan pejuang pro-pemerintah, yang dikenal sebagai “shabiha,” menggerebek rumah dan mendirikan pos pemeriksaan di sekitar Hama. Kelompok hak asasi manusia mengatakan sedikitnya 16 orang telah tewas di kota itu sejak Senin.

“Hama adalah kota terbaru untuk menjadi korban pasukan keamanan Presiden Bashar Al Assad meskipun janji-nya yang mengatakan akan mentolerir protes damai,” kata Sarah Leah Whitson, direktur Timur Tengah di Human Rights Watch.

“Pasukan keamanan menanggapi protes dengan kebrutalan selama beberapa bulan terakhir.”

Menurut badan pengamat Suriah, tubuh salah seorang yang tewas dalam serangan Selasa (5/7) itu dibuang di sungai Orontes (Assi), sebuah sungai di Hama, yang terkenal dengan watermills kuno.

Sementara itu warga siap mati untuk mempertahankan kota daripada membiarkan tentara pro-pemerintah masuk, “kata Rami Abdel Rahman, kepala badan pengamat Suriah yang berbasis di London.

Aktivis lain bersikeras bahwa di Hama sebanyak 500.000 orang turun ke jalan untuk demonstrasi Jumat lalu melawan rezim Assad, adalah sebuah aksi yang “100 persen damai”.

Tapi pihak pemerintah mengklaim bahwa pasukannya telah menderita korban akibat serangan kelompok bersenjata di kota.

“Pasukan keamanan, yang ikut andil dalam memulihkan ketertiban di Hama ketika aksi protes diserang dengan bom molotov oleh kelompok bersenjata, “klaim kantor berita resmi Suriah, SANA.

“Salah satu anggota pasukan keamanan tewas dan 13 terluka dalam bentrokan. Beberapa pria bersenjata tewas dan lainnya luka-luka”.

Sementara itu kelompok-kelompok HAM mengatakan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dan ribuan lainnya ditangkap sejak aksi protes dimulai sekitar empat bulan lalu. (rasularasy/arrahmah.com)

Topik: