Berita Dunia Islam Terdepan

Penelitian The Australian Strategic Institute dianggap tidak relevan

3

JAKARTA (Arrahmah.com) – Menanggapi tudingan The Australian Strategic Institute, yang menyebutkan bahwa penjara di Indonesia merupakan sarana bagi para “teroris” untuk mengembangkan jaringan, Kasubdit Komunikasi Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Akbar Hadi malah mempertanyakan relevansi dan kebenaran dari penelitian tersebut.

Akbar Hadi mengungkapkan bagaimana bisa sebuah lembaga penelitian dari luar negeri bisa masuk ke kompleks penjara ‘teroris’, apalagi melakukan wawancara secara mendalam. Sedangkan lembaga penelitian dan media massa lokal saja teramat sulit menembus pintu penjara khusus “teroris”.

Dalam hasil wawancara yang dilansir situs Okezone.com pada Jumat (20/5/2011) , Hadi mengungkapkan keyakinannya bahwa penelitian tersebut tidak relevan, apabila melihat kondisi penjara saat ini. Bisa jadi hal tersebutmerupakan hasil penelitian lama bukan sekarang. Bahkan Hadi mengatakan kemungkinan The Australian Strategic Institute mendapat data dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bukan wawancara langsung.

Hadi juga menjelaskan kondisi kapasitas penjara di Indonesia beberapa tahun terakhir sudah lebih baik, penjagaannya sudah lebih ketat. Cipinang saja saat ini hanya menampung 1.300 sampai 1.500 orang dan sudah stabil dan sudah sesuai dengan penjagaannya.

Terkait hasil penelitian The Australian Strategic Institute yang menyebut salah satu terdakwa ‘teroris’ mengaku akan langsung mengebom jika sudah keluar, Hadi mengatakan bahwa pihaknya telah berusaha maksimal. Para terpidana diberikan pencerahan seperti ceramah agama dan moral. Lebih jauh Hadi mengatakan bahwa pihaknya juga berusaha mengikis pikiran ‘radikal’ para napi.  Kalau sudah keluar pun masih tetap dipantau, mereka dikembalikan kepada keluarganya dan masih wajib lapor.

Berdasarkan keterangan Hadi, saat ini di Cipinang, ada sekitar 15 sampai 20 orang terpidana kasus ‘teroris’. Di Cipinang, blok penjara ‘teroris’ terpisah dengan terdakwa kasus lain. Penjagaannya juga sangat ketat karena bekerjasama dengan Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). (rasularasy/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...