Berita Dunia Islam Terdepan

AS kecewa karena presiden Yaman tolak meletakkan jabatannya

1

SANAA (Arrahmah.com) – Washington “sangat menyesalkan” sikap Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh karena menolak menandatangani rencana peletakan jabatannya yang telah diperantai oleh negara-negara Teluk, dalam rangka mengakhiri protes mematikan selama empat bulan di Yaman.

Minggu (22/5/2011) malam, negara-negara Teluk  tetangga Yaman mengumumkan berhenti dalam mengupayakan mediasi sebagai reaksi terhadap penolakan Saleh, sementara Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menuduh Saleh “mengingkari komitmennya.”

“Amerika Serikat sangat kecewa dengan Presiden Saleh yang terus menolak inisiatif  Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Dia mengingkari komitmennya dan mengabaikan aspirasi sah rakyat Yaman ” kata Clinton dalam sebuah pernyataan.

Ketua GCC Abdullah al-Zayani meninggalkan Sanaa Minggu (22/5) setelah Saleh membuat syarat baru yakni menuntut agar perwakilan oposisi menandatanganinya di istananya.

Menanggapi hal tersebut, para menteri GCC mengumumkan dalam pertemuan di Riyadh bahwa mereka menghentikan upaya mediasi meski masih mengharapkan Saleh akan menandatangani kesepakatan, yang mereka gambarkan sebagai “cara terbaik untuk mengatasi situasi terkini.”

Sementara itu, kedutaan besar AS di Sanaa, Yaman, ditutup sementara akibat krisis politik yang kian membara di negara itu.

“Kedubes AS ditutup sementara setidaknya selama dua hari pada Selasa dan Rabu (24-25 Mei) terkait situasi keamanan yang tidak kondusif di Yaman. Kedubes dibuka hanya untuk pelayanan darurat kepada warga AS di negara itu ” menurut kantor berita Yaman, SABA, yang dipantau ANTARA dari Kairo, Senin (23/5).

Sejak akhir Januari, pasukan keamanan dan para pendukung bersenjata Saleh menumpas protes yang menuntut pelengserannya, yang mengakibatkan sedikitnya 181 orang tewas, menurut perhitungan yang dikumpulkan dari laporan para aktivis dan dokter.

Zayani dan para duta besar Barat sebelumnya dikepung di kedutaan besar UEA oleh kaum loyalis bersenjata rezim yang berkuasa, yang nampaknya berbalik dengan maksud menghentikan mediator jangan sampai mencapai istana Saleh untuk rencana penandatanganan itu.

Namun dua helikopter Yaman pada akhirnya menerbangkan ketua GCC dan duta besar AS ke istana, kata seorang pejabat keduataan kepada AFP.

GCC mengeluarkan pernyataan yang menyesalkan insiden tersebut.

Saleh memperingatkan perang saudara apabila oposisi menolak menandatangani kesepakatan GCC tersebut dimana dirinya ikut hadir.”Jika mereka tetap keras kepala, kami akan melawan mereka dimanapun dengan segala cara,” katanya.

“Jika mereka tidak tunduk, dan ingin membawa negara ke dalam perang saudara, biarkan mereka bertanggungjawab untuk itu dan demi darah yang tercurah dan itu akan tercurah jika mereka tetap bersiteguh pada kebodohan mereka.”

Pemimpin muda Wassim al-Qershi bersumpah Minggu bahwa gerakan protes akan tetap bersifat damai namun tetap mengecam rencana transisi Teluk karena menjanjikan kekebalan dari penuntutan kepada Saleh dan para pembantunya.

“Inisiatif Teluk adalah sebuah jalan keluar bagi presiden, dan bukan solusi bagi Yaman,” katanya, menambahkan: “Kami ingin presiden dan para pembantunya diadili.”

Berdasar syarat persetujuan tersebut, Saleh akan menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden 30 hari sesudah persetujuan ditandatangani, dan dia dan para pembantunya akan diberi kekebalan dari tuntutan oleh parlemen.

Sebuah pemerintahan nasional bersatu yang dipimpin oleh perdana menteri dari oposisi akan dibentuk, dan pemilihan presiden menyusul 60 hari sesudah lengsernya Saleh. Oposisi mendesak AS dan Arab Saudi agar lebih menekan Saleh supaya menandatangani kesepakatan dan bersumpah akan melanjutkan protes-protes mereka.

Ratusan ribu penentang Saleh turun ke jalan-jalan di Sanaa Minggu (22/5), dalam pawai terbesar mereka sejak protes berlangsung Januari.

Para dokter mengatakan orang-orang bersenjata menembak mati seorang demonstran. Oposisi menyalahkan para “penjahat brutal dan kasar” kaum loyalis. Namun Senin, penghalang-penghalang jalan yang dipasang para pendukung Saleh telah disingkirkan, dan kehidupan di Sanaa kembali pulih ke keadaan normal. (rasularasy/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...