Berita Dunia Islam Terdepan

Tembakan polisi Suriah tewaskan 34 demonstran

0

DAMASKUS (Arrahmah.com) –  Pasukan keamanan Suriah menembak mati sedikitnya 34 orang, termasuk seorang anak, ketika protes pro-demokrasi berlangsung di negara itu setelah sholat Jumat (20/5/2011).

Anak itu termasuk diantara 12 orang yang tewas di kota Homs, Suriah tengah, sementara 15 orang lain tewas di kota Maaret al-Naaman dekat kota Idlib di wilayah barat. Dua orang lagi tewas di daerah selatan, Daraa, pusat protes yang melanda Suriah sejak 15 Maret, satu orang tewas di Daraya, daerah pinggiran Damaskus, dan satu lagi di kota pesisir Latakia, Demikian kata sejumlah aktivis.

Para aktivis itu menambahkan, dua orang lagi tewas di kota wilayah timur, Deir Ezzor, dan satu orang tewas di kota tengah, Hama. Puluhan orang juga terluka dalam demonstrasi-demonstrasi itu.

Sementara itu, televisi pemerintah menyalahkan geng-geng bersenjata dalam aksi kekerasan tersebut, yang menyatakan geng-geng bersenjata telah melepaskan tembakan pada warga sipil dan aparat keamanan di daerah Idlib dan di pinggiran Homs, yang mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban.

Seorang aktivis mengatakan, demonstrasi dilakukan di luar sebuah masjid di Damaskus pusat namun segera dibubarkan oleh pasukan keamanan.

Seorang aktivis lain di Homs melaporkan, pasukan keamanan menyerbu sebuah rumah sakit setempat dan memindahkan beberapa korban terluka serta mayat seorang korban.

Protes juga dikabarkan berlangsung di kota-kota lain di negara itu.

Di  Ain Arab, sebuah daerah mayoritas Kurdi dekat kota Aleppo, Suriah utara, ratusan orang turun ke jalan dengan meneriakkan slogan-slogan “Tidak untuk kekerasan, ya untuk dialog” dan “Kami bukan Islamis atau Salafis, kami ingin kebebasan. Tak ada yang menyerukan keruntuhan rejim” kata Radif Mustapha, ketua kelompok HAM Kurdi yang dihubungi melalui telefon, seperti yang dikutip AntaraNews.

Di Banias, ribuan pria, wanita dan anak-anak berpawai, dimana banyak dari demonstran pria tidak memakai baju untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersenjata, kata Rami Abdel Rahman, dari Observatorium HAM Suriah yang berpusat di London kepada AFP.

Keterangan para saksi itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara independen karena wartawan asing dilarang pergi ke Suriah untuk meliput protes yang merupakan tantangan terbesar bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Suriah sejak pertengahan Maret dilanda protes yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menuntut reformasi besar-besaran di negara yang dikuasai Partai Baath selama hampir 50 tahun itu.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan pasukan keamanan Suriah telah membunuh ratusan warga sipil dalam penumpasan terhadap demonstrasi damai.

Menurut mereka, ribuan orang Suriah ditangkap dan puluhan orang hilang setelah demonstrasi menuntut kebebasan politik dan diakhirinya korupsi meletus hampir enam pekan lalu.

Pemerintah mengumumkan serangkaian langkah reformasi dalam upaya menenangkan para demonstran, termasuk pembebasan tahanan dan rencana membuat undang-undang baru mengenai media dan perizinan bagi partai politik.

Bahkan Presiden Bashar al-Assad juga memutuskan mencabut undang-undang darurat, yang disusun pada Desember 1962 dan diberlakukan sejak Partai Baath berkuasa pada Maret 1963.  (rasularasy/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...