Berita Dunia Islam Terdepan

AS-Australia bahu-membahu gagalkan pelarangan bom cluster

8

CANBERRA (Arrahmah.com) – Australia diam-diam bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk melemahkan perjanjian internasional yang melarang penggunaan bom cluster, menurut memo diplomatis AS yang dibocorkan oleh Wikileaks, lansir The Age pada Minggu (1/5/2011).

Meskipun mengambil sikap seolah-olah mengutuk cluster (bom curah) sebagai penyebab jatuhnya sejumlah besar korban sipil, Australia pribadi siap untuk menarik diri dari perundingan internasional yang membicarakan larangan global terhadap senjata mematikan itu jika mengancam hubungannya dengan pasukan AS.

AS terus mengklaim bom cluster merupakan “senjata yang legal dan berguna”, termasuk saat melakukan operasi militer di Afghanistan, dan telah menegaskan bahwa tidak akan menandatangani perjanjian apapun yang akan melarang penggunaan bom tersebut.

Pengungkapan ini datang saat Parlemen Federal Australia bersiap untuk mempertimbangkan RUU yang mengesahkan tanda tangan Australia pada konvensi amunisi cluster.

Memo diplomatis dari kedutaan besar AS di Canberra itu mengungkapkan bahwa tahun 2007, pemerintah Kevin Rudd yang baru terpilih segera mengatakan kepada AS pihaknya siap untuk menarik diri dari negosiasi apapun jika akan membahayakan penggunaan senjata tersebut dan jika negosiasi tersebut akan mengganggu relasi antara Australia dengan negara Paman Sam.

Memo itu pun menunjukkan bahwa Australia diam-diam melobi negara Asia – termasuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam – terkait dengan isu ini dalam perjanjian Oslo Desember 2008 yang berisi pelarangan atas penggunaan, pemindahan, dan penimbunan bum cluster.

Bersama dengan Inggris, Kanada, dan Jepang, Australia akhirnya dilaporkan berhasil mengamankan celah yang diinginkan kerjasama pertahanan AS-Australia. Dan pada Desember 2008, pemerintah Australia yang berkuasa saat itu mengkonfirmasi AS bahwa perjanjian itu tetap dilakukan namun hanya akan berdampak kecil pada kerja sama militer kedua negara. Meskipun Australia tidak akan diizinkan secara fisik menggunakan senjata cluster, namun negara itu bebas untuk melakukan perencanaan taktis dalam menggunakan senjata tersebut. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...