Amerika adalah kacung Israel

23

JAKARTA (Arrahmah.com) – Masyarakat dunia saat ini sedang disibukkan dengan berbagai gejolak yang melanda Timur Tengah. Libya, Yaman, Bahrain, Suriah dan tempat-tempat lain di dunia Arab. Sementara itu Israel masih konsisten dan asyik untuk memperluas daerah rampasan di Tepi Barat Sungai Jordan dan Jerusalem Timur.

Negara Zionis itu juga seenaknya meningkatkan pemboman terhadap rakyat terkepung di Jalur Gaza, tempat militer Yahudi membantai delapan orang Palestina. Empat korban –menurut laporan media internasional– berasal dari satu keluarga, dua di antara mereka adalah anak kecil.

Berita itu bukanlah hal baru di Palestina, berapa banyak warga Palestina yang terbantai pekan lalu oleh zionis, dan semuanya hanya sekedar mendapat aksi kecaman bukan tindakan.

Meskipun demikian berita tersebut tetap menarik perhatian media Amerika. Menurut laporan, peristiwa tersebut dimasukkan ke dalam bagian “News in Brief” –tapi saat satu keluarga Yahudi yang terdiri atas lima lima orang ditikam oleh orang Palestina di Tepi Barat, perhatian yang diberikan media Amerika jauh lebih besar.

Meskipun banyak pengulas berita mencela aksi pemerintah Yahudi tersebut, tak seorang pun dari mereka mempertimbangkan konteksnya; Tepi Barat Sungai Jordan adalah wilayah yang dijajah, dan bukan hanya hukum internasional menganggap wilayah itu berada di luar batas kolonisasi oleh kaum pendudukan, tapi hukum juga menganggap wilayah semacam itu sebagai daerah pertempuran.

Jadi, jika orang membawa anak-anak dan kaum perempuan ke daerah pertempuran, terbuka peluang mereka akan cedera.

Yang jadi pertanyaan ialah apakah kaum Yahudi bisa lolos dengan aksi kolonial mereka, dan dengan tindakan brutal yang setiap hari mereka lakukan terhadap orang Palestina, seandainya saja tak ada dukungan dari AS, sekutu dan pelindung kuatnya?

Coba saja bandingkan dengan aksi kapal perang AS yang menghujani sistem pertahanan Libya dengan rudal jelajah Tomahawk, sementara pesawat tempurnya mengganyang kendaraan militer negara Afrika Utara tersebut. Presiden AS Barack Obama menegaskan aksi itu “dimaksudkan untuk melindungi warga sipil”.

Tapi bagaimana dengan rakyat miskin Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza, apakah mereka bukan warga sipil? Apakah mereka tak pantas dilindungi dari kekejaman kaum Yahudi?

Amerika Serikat juga telah dengan ringan tangan membom penduduk di daerah sabuk suku Pakistan di perbatasan dengan Afghanistan, padahal mereka juga warga sipil. Mereka dicap sebagai “teroris” oleh negara adidaya tersebut, tapi benarkah tudingan itu?

Sewaktu Dewan Keamanan PBB baru-baru ini berusaha mengesahkan resolusi untuk mengutuk perluasan wilayah Israel di tanah Arab, Washington menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan rencana itu. Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice diberitakan mengatakan kepada wartawan bahwa “sungguh, sejujurnya, dengan menggunakan hak veto tak berarti Washington menyetujui perluasan wilayah Israel”. Lalu apa maksudnya? Beginilah sikap muka-dua, standard-ganda Amerika.

Orang boleh tak menganggap remeh ancaman pemimpin Libya Muamar Gaddafi untuk tak memperlihatkan belas kasih terhadap mereka yang menentang dia. Tapi kapan ya terakhir kali orang mendengar AS mengekang negara kliennya, Israel, agar “tak memperlihatkan sikap tak kenal ampun” terhadap rakyat di Lebanon dan Jalur Gaza. Di kedua wilayah tersebut –dalam dua agresi militernya– Israel menewaskan ribuan warga sipil dan meluluh-lantakkan rumah serta lahan mereka.

Pemerintahan Obama telah menghabiskan mayoritas masa jabatannya untuk memperbaiki hubungan dengan negara Islam, terutama negara Arab. Tapi bagi AS apa yang Israel mau bisa didapatkan, dan apa yang Israel lakukan tak pernah menghadapi hukuman.

“Pendudukan –yang tidak sah, tak manusiawi, dan tak sejalan dengan nilai-nilai Yahudi– telah berlangsung selama 44 tahun,” tulis David Remnick di potongan “Talk of the Town” di New Yorker belum lama ini.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berpendapat ia dapat terus bertindak semaunya, dan terjamin di balik tembok kokoh. Pada penghujung Februari 2011, ia menelefon Kanselir Jerman Angela Merkel untuk menyampaikan ketidak-senangannya sebab Jerman telah memberi suara buat resolusi PBB yang mengutuk penjajahan Yahudi, sehingga Merkel dilaporkan nyaris tak bisa menahan amarahnya.

“Berani sekali kamu?” kata Merkel sebagaimana dikutip media Internasional. “Kamu lah yang telah mengecewakan kami. Kamu tak pernah melakukan satu langkah pun ke arah perdamaian.” Kanselir Jerman tersebut bisa berkata demikian pada perdana menteri Israel, tapi seorang presiden Amerika tak pernah berani melakukannya.

Amerika Serikat, kalau saja tulus mengenai demokrasi dan melindungi warga sipil, memiliki waktu 44 tahun untuk memperlihatkannya di Palestina.

Rakyat Palestina memiliki puluhan alasan untuk membela diri. Di antaranya adalah resolusi Dewan Keamanan PBB yang “secara langsung mengecam pelanggaran Israel terhadap semua resolusi Dewan Keamanan PBB, Piagam PBB, Konvensi Jenewa, hukum terorisme internasional atau pelanggaran terhadap hukum lain internasional”.

Alasan lain dapat ditemukan di Laporan Goldstone. Tapi Sarannya belum diterapkan lebih dari 18 bulan setelah laporan tersebut diajukan kepada Dewan Hak Asasi Manusia. Paragraf 1912 laporan itu menegaskan “semua Negara Konvensi Jenewa Keempat yang berkaitan dengan Perlindungan Warga Sipil dalam Masa Peran, 12 Agustus 1949, berisi kewajiban tambahan. Sementara itu Piagam PBB dan hukum internasional mesti dihormati guna menjamin kepatuhan Israel pada hukum kemanusiaan internasional sebagaimana termaktub di dalam Konvensi itu”.

Yang paling mendesak dapat ditemukan di Piagam PBB, Pasal 52, yang menetapkan, “Tak ada di dalam Piagam saat ini yang bisa merusak hak yang melekat bagi perorangan atau kolektif untuk membela diri jika serangan bersenjata terjadi terhadap satu Anggota PBB, sampai Dewan Keamanan melakukan tindakan yang diperlukan guna memelihara keamanan dan perdamaian internasional.”

Tampak sekali betapa besar kekuasaan Israel sebagai negara kecil yang ditakuti oleh kacung-kacungnya yang memakai kostum kebesaran sebagai Negara adidaya. Toh sebutan Amerika sebagai polisi dunia tak memberi pengaruh apa-apa untuk kebebasan Palestina, malah hanya memperparah dan menambah daftar Negara yang tergencet di Timur Tengah.

Ketika masyarakat internasional telah meninggalkan tanggung jawabnya terhadap rakyat Palestina, dan terutama mereka yang berada di Jalur Gaza, lalu apa yang tersisa buat rakyat Palestina selain membela diri?  (ant/rasularasy/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.