Berita Dunia Islam Terdepan

Syafii Maarif: Pemerintah tak pernah serius tanggapi kritik

0 2

JAKARTA (Arrahmah.com) – Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan pertemuan lanjutan antara tokoh-tokoh lintas agama dan presiden tidak efektif.

Pasalnya, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah serius menanggapi kritik yang disuarakan masyarakat.

Syafii, berpendapat pertemuan antara Presiden dan tokoh-tokoh lintas agama di Istana pada Senin malam, tidak menyentuh substansi permasalahan.

“Sama sekali belum,” kata Buya melalui pesan pendek kepada Media Indonesia, Selasa (18/1/2011).

Ia menilai pertemuan lanjutan tidak akan efektif lagi. “Pertemuan lanjutan mungkin tidak ada gunanya lagi karena pengalaman selama ini menunjukkan pemerintah tidak pernah serius dalam menanggapi kritik publik,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah tokoh lintas agama yang mengikuti pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku tidak puas dengan isi dan hasil pertemuan yang belum lama ini dilakukan.

Pernyataan ini disampaikan  Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Andreas Yewanggoe kepada wartawan di Jakarta, Selasa kemarin (18/1).

Mereka tidak puas karena pertemuan itu terlalu protokoler, normatif, dan tidak menyentuh substansi persoalan. Bahkan pertemuan itu juga terkesan dimanfaatkan Presiden untuk menyampaikan keberatan sekaligus melakukan pembelaan terhadap tudingan kebohongan yang dilontarkan sejumlah tokoh lintas agama.

20 tokoh lintas agama bertemu Presiden yang didampingi sejumlah menteri di Istana Negara, Jakarta, Senin malam lalu. Pertemuan itu berlangsung setelah sejumlah tokoh lintas agama menuding pemerintahan Presiden SBY melakukan berbagai kebohongan.

Hadir di antara mereka Ketua PP Muhammadiyah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dan Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya. Selain itu hadir juga  Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Andreas Yewangoe, tokoh Katolik Franz Magnis Suseno, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin, serta tokoh Konghucu Budi Tanoewibowo. (hid/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...