Berita Dunia Islam Terdepan

Penyiksaan Terhadap Tahanan Muslim Oleh Militer Musyrik Thailand Tak Terungkap Publik

0 8

Dunia masih diramaikan oleh pemberitaan mengenai bocornya dokumen-dokumen rahasia yang memperlihatkan keburukan AS yang dirilis oleh situs Wikileaks milik Julian Assange.  Dalam dokumen tersebut terungkap bagaimana AS menyiksa tahanan Irak serta pembunuhan terhadap sipil Irak.  Publik internasional seperti terlupa dengan adanya penyiksaan lain di dunia ini.

Yaitu Thailand, penyiksaan terjadi di sana, bukan karena AS bercokol di Thailand dan memerangi “militan” di sana.  Sejak tahun 2004, lebih dari 4.400 orang telah tewas di Thailand selatan dalam konflik berdarah antara pasukan musyrik Thailand dan “militan” Islam.  Mayoritas penduduk Thailand merupakan penganut Budha, namun di provinsi-provinsi selatan seperti Pattani, Yala dan Narathiwat sebagian besar penduduknya beragama Islam dan berbahasa Melayu yang berada di bawah pemerintahan Bangkok selama satu abad.

Saya, baru-baru ini mengunjungi wilayah bersama direktur Orlando de Guzman, untuk bersama-sama mendokumentasikan kematian seorang tersangka “militan” yang berusia 25 tahun bernama Sulaiman Naesa.  Ia ditahan pada bulan Mei di kamp militer di Pattani, Ingkhayutthabariharn.  Pasukan musyrik Thailand mengklaim Sulaiman mengakui perannya dalam pembunuhan sembilan orang, kemudian mengikat handuk ke jeruji selnya dan menggantung diri.

Orangtua Sulaiman mengatakan anaknya merupakan seorang penduduk desa yang setengah buta huruf, bukan militan dan bahwa darah dan memar yang terlihat di tubuh jenazahnya membuktikan ia disiksa sampai mati, bukan gantung diri.

Apa yang sebenarnya terjadi?  Kita mungkin tidak akan pernah tau.  Orangtuanya melihat tidak ada gunanya otopsi.  “Bagaimana mungkin kami melawan pemerintah?” ujar ibu Maetsoh.  Tapi kasus Sulaiman harus menjadi fokus perhatian internasional tentang pelanggaran hak asasi manusia di Thailand selatan, khususnya pada tubuh yang terus semakin membuktikan bahwa militer secara rutin melakukan penyiksaan terhadap tahanan Muslim.  Hal ini juga menjadi pertanyaan, mengapa AS terlihat tenang dalam hal ini?

Militer Thailand sangat antusian untuk memperlihatkan kepada kru kami wajah kemanusiaan Letjen Pichet Visaijorm, seorang mantan komandan regional, yang memberi kami tur pribadi dari proyek peliharaannya.  Hal ini termasuk operasi gigi secara gratis bagi masyarakat lokal di markasnya di provinsi Yala.

Kami melihat seorang dokter gigi tentara yang tengah memasang satu set gigi palsu terhadap seorang Muslim tua.  Orang itu berseringai, “apakah mereka cantik?” mendesak Jenderal Pichet untuk tersenyum balik dan mengatakan “Kamu menyukainya?”  Lalu senyumnya memudar.  Perhatian kami berikutnya adalah Ingkhayutthabariharn, rumah untuk tahanan militer dan fasilitas interogasi.  Ini disebut juga Pusat Promosi Rekonsiliasi.  Bagi ummat Islam, Ingkhayutthabariharn adalah kata yang mengerikan.  Mereka tahu apapun dapat terjadi di sana.

Sulaiman ditemukan tewas di sebuah blok yang disebut oleh tentara sebagai “resort”.  “setiap orang takut berada di sana,” ujar seorang mantan tahanan kepada kami.  Mantan napi mengatakan ia sempat berbicara kepada Sulaiman, yang mengatakan bahwa tentara telah menendangnya dengan begitu keras di perutnya dan ia tidak diberi makan selama empat hari.  Ia mengatakan ia melihat tahanan dipukuli dan kantong plastik menutupi kepalanya hingga membuat tahanan tersebut mati lemas.  Sangat banyak komplain mengenai penyiksaan terhadap tahanan militer di Thailand selatan dan semakin banyak setiap tahunnya, sangat menakjubkan bahwa dunia tidak sedikitpun memiliki perhatian lebih akan hal ini.

Pelanggaran yang dilaporkan oleh para tahanan termasuk pemukulan berat, sengatan listrik, dipaksa telanjang, suhu ruangan ekstrim yang sangat panas atau dingin, dimasukkan jarum ke dalam luka yang menganga, dan menahan keluarga para tahanan sebagai sandera termasuk sebuah kasus penyanderaan terhadap anak berusia 6 tahun.

“Kami tidak pernah melakukan penyiksaan,” ujar Letjen Udomchai Thamsarorat, komandan regional saat ini.  “Kami disini untuk menolong orang-orang, bukan menyakiti mereka,” klaimnya.  Selimut penolakan ini tidak mengesankan para pengamat ahli.  “Tentara keamanan terus menggunakan penyiksaan meskipun komandan senior mengklaim telah melarangnya,” ujar International Crisis Group yang berbasis di London pada November lalu.  Dalam dua bulan menjelang kematian Sulaiman, Amnesti Internasional menerima delapan laporan penyiksaan dan enam diantaranya terjadi di Ingkhayutthabariharn.

Penolakan tersebut juga tidak mampu menipu penduduk setempat.  Di Pattani, aku menemui seorang guru bahasa Melayu yang sedang memberikan latihan kepada muridnya dan meminta muridnya (yang semuanya Muslim) untuk menulis sebuah laporan bergaya surat kabar.  Belasan dari mereka memilih kisah mengenai kerabat atau teman mereka yang pernah ditahan atau disiksa.  Ketika saya bertanya kepada seorang Muslim tentang pelanggaran ini dan mengapa mereka tidak berbicara lantang mengenai hal tersebut, ia menjawab : “Kami benci tentara tapi kami juga takut kepada mereka.  Ketakutan kami lebih besar dari kebencian kami.”  Pandangan seperti itu nampaknya telah diketahui oleh petugas yang berbicara kepada saya.  Letjen Udomchai mengatakan ia “100 persen” yakin bahwa tentaranya telah memenangkan hati dan pikiran kaum Muslim.

Penyiksaan adalah ilegal dan menjijikkan.  Setelah peristiwa 911, CIA menyiapkan jaringan global penjara rahasia dimana tersangka “terorisme” menjadi sasaran waterboarding dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya.  Sistem pertama, dua tahanan secara brutal diinterogasi di sebuah penjara di Thailand pada 2002.  Di bulan november Departemen Kehakiman AS memutuskan bahwa para pejabat CIA tidak akan menghadapi tuduhan kriminal untuk menghancurkan rekaman video yang menunjukkan penyiksaan.

CIA tidak pernah mengungkapkan lokasi tepat dari penjara rahasia yang laporannya ditutup pada 2003.  Thailand membantah semua pengetahuan itu.  Namun banyak dari “teknik interogasi yang telah disempurnakan”, apa yang disebut halus di fasilitas-fasilitas ini menciptakan stress yang berkepanjangan, kurang tidur, penggunaan anjing.  Ini bukan bukti bahwa Amerika sedang mengajar Thailand cara penyiksaan, tetapi ini bukan suatu kebetulan.  Tentara Thailand tampaknya tengah mengadopsi praktek buruk yang hanya diketahui militer dan mengaguminya sendiri.

Pada Januari mendatang, pemberontakan di Thailand selatan akan memasuki tahun kedelapan.  Perdamaian tidak akan berdiri sampai Jenderal Thailand melihat penyiksaan sebagai kanker dalam barisan mereka.  Ingin memenangkan hati dan pikiran ummat Islam?  Selidiki dan tuntut para prajurit yang menyalahgunakan kekuasaan.  Apa yang diinginkan penduduk setempat adalah keadilan, bukan gigi palsu gratis.(haninmazaya/arrahmah.com)

catatan : kami tidak mengetahui dengan pasti siapa penulis artikel ini, kami menerjemahkan artikel ini yang diposting dalam forum Ansar Al-Mujahidin.

Baca artikel lainnya...