OKI Kecam Rencana Publikasi Ulang Kartun Nabi Muhammad

0 3

JEDDAH (Arrahmah.com) – Organisasi Konferensi Islam (OKI), pada Kamis (30/9/2010), mengutuk rencana publikasi ulang kartun Nabi Muhammad yang akan dilakukan di Denmark.

Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu, mengatakan pihak berwenang Denmark harus mengambil tanggung jawab moral atas rencana cetak ulang tersebut.

Kartun itu rencananya akan dicetak ulang dalam sebuah buku berjudul ‘Tirani Kesunyian’.  Editor budaya surat kabar Jyllands-Posten, Flemming Rose, memproduksi ulang kartun Nabi Muhammad yang pernah dimuat di halaman depan harian itu pada 2005.

“Penerbitan buku itu sengaja untuk menyulut emosi sektarian dan merusak upaya masyarakat internasional dalam memperkuat saling pengertian dan hidup berdampingan dengan damai di antara berbagai pemeluk agama,” kecam Ihsanoglu.

“Ini adalah pelanggaran terhadap pasal 20 Konvensi Internasional tentang Hak-Hak Politik dan Sipil (ICCPR) tahun 1966, selain melanggar pasal 140 dari hukum Denmark yang mengatur perlindungan dari ejekan atas dasar sentimen agama dan pasal 266 tentang perlindungan dari penghinaan agama,” tambahnya.

Penerbitan buku itu menegaskan kembali kekhawatiran OKI terhadap penyalahgunaan kebebasan pers untuk menebar Islamophobia di negara-negara Barat.

Ihsanoglu telah membahas masalah ini dengan Menteri Luar Negeri Denmark, Lene Espersen, di New York. Diplomat negara-negara Muslim yang berada di Kopenhagen telah mendesak pemerintah Denmark untuk menghentikan penerbitan buku yang menampilkan 12 kartun anti-Islam tersebut.

Lima tahun lalu, Jyllands-Posten telah memuat kartun Nabi Muhammad itu. Tindakan provokatif itu memicu kemarahan umat Muslim di seluruh dunia. Masyarakat Muslim di sejumlah negara pun menyerukan boikot kepada produk dan kepentingan Denmark. Kala itu, OKI mengimbau umat Islam untuk menahan diri dari aksi kekerasan lantaran adanya seruan untuk menghukum mati pembuat kartun, Westergaard. (rep/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Leave A Reply

Your email address will not be published.