Berita Dunia Islam Terdepan

Wawancara Dengan Korban Predator AS di Pakistan

0 1

Berikut ini adalah wawancara khusus yang kami kutip dari situs uruknet dengan sebuah keluarga di wilayah baratlaut Pakistan yang menjadi korban serangan udara AS.

T : Bisa memperkenalkan diri Anda?

J : Bismillahirrahmanirrahim…. Nama saya Haider.  Adik iparku, Mohammed Asghar, tinggal di Peshawar, dia bekerja disebuah jasa penukaran uang.

T : Dimana penyerangan predatir berlangsung?

J : Serangan terjadi di Waziristan Utara, Miranshah, distrik Ahmadkheel.  Adi iparku tengah mengunjungi seorang temannya di Waziristan.  Saat ia menjadi tamu di sana – seperti kebiasaan masyarakat – banyak yang menyambutnya dan mereka berkumpul di sebuah tempat.  Dia duduk dengan sekelompok orang dari penduduk lokal setelah mereka melakukan sholat Isya berjamaah.  Serangan predator AS terjadi dengan begitu cepat saat kami tengah berdoa usai sholat, dan saat itu juga semua jamaah sholat Isya menjadi martir.

T : Apakah ada Taliban atau Al-Qaeda yang berkumpul bersama atau semuanya sipil?

J : Semua orang yang berkumpul bersama Asghar adalah penduduk lokal yang menyambut tamu yang baru datang ke daerah tersebut.  Orang-orang di sana sangat terkenal keramahannya. Sekitar 31 orang meninggal dunia dalam serangan ini.  Serangan predator sangat dahsyat, tidak ada yang bisa melarikan diri, yang berhasil selamat mengalami luka yang sangat parah.

T : Bagaimana Anda mengetahui ipar Anda mengalami ini?

J : Antara wilayah kami dan Waziristan menempuh perjalanan selama 8 jam.  Serangan predator terjadi di malam hari dan kami semua mengetahui hal tersebut keesokan paginya.  Para saksi mata yang memberitahu kami dan menjelaskan apa yang mereka lihat serta memperlihatkan sisa-sisa dari kerusakan.  Mereka mengatakan serangan itu begitu kuat sehingga mereka tidak bisa membedakan jenazah satu dengan lainnya, karena tercerai berau.  Korban tewas tidak dapat dikenali.  Adik iparku telah berada di peti mati dan kami tidak diizinkan untuk membukanya.  Peti mati adik iparku berada di depan kami selama 30 menit sebelum akhirnya dimakamkan.

T : Menurut Anda AS atau pemerintah Pakistan yang melakukan ini dan apa tanggapan Anda?

J : Kami tidak tahu.  Kami tidak tahu mengapa otoritas Pakistan memberikan ijin AS untuk melakukan serangan di daerah kita dan kami tidak tahu sampai kapan AS diberikan ijin gratis oleh pemerintah Pakistan untuk melancarkan serangan semacam ini.  Sejauh ini sekitar 1.400 sampai 1.600 orang telah tewas akibat serangan ini.  Tidak ada yang bertanggungjawab atas kematian sipil ini.  Tanyakan kepada jurnalis atau pejabat mengenai statistik sebenarnya, yang kami tahu antara 1.400-1.600 terdapat anak-anak dan kaum perempuan.  Mungkin hanya sekitar 11 atau 12 “militan” yang berada dalam korban serangan itu diantara ribuan sipil. 

Serangan ini terus meluas.  Ke siapa saya harus meminta pertanggungjawaban?  Kemana saya dapat pergi?  Saya bahkan tidak tahu siapa yang bertanggungjawab untuk kematian ini.

Saya sangat terkejut, AS bisa begitu saja datang dan menyerang Pakistan dengan cara seperti ini dan Pakistan bahkan tidak memiliki wewenang untuk menanyakan mengenai penyebab kematian warganya.  Semua sipil di wilayah ini sangat takut dan takut.  Mereka tidak dapat bekerja di siang haru dan tidak dapat tidur di malam hari.  Segera setelah mereka mendengar suara dengung pesawat tak berawak, mereka melarikan diri dari rumah dan kepanikan muncul.  Seluruh masyarakat berada dalam keadaan takut dan aku tidak bisa menjelaskannya.

Setiap rumah memiliki korban setidaknya setengah dari anggota keluarga mereka akibat serangan ini.  Aku hanya tidak dapat mengerti dan memahami apa yang terjadi antara AS dan Pakistan.

T : Terimakasih telah meluangkan waktu Anda dan berbicara dengan kami, kami turut berduka cita atas kepergian keluarga Anda. (haninmazaya/arrahmah.com)

* gambar : anak-anak dari Mohammad Asghar yang menjadi korban serangan predator AS

Baca artikel lainnya...