Berita Dunia Islam Terdepan

Biden di Irak, Resmikan Agenda Diplomatis Baru Pasca Penarikan Pasukan Tempur AS

0 2

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyambangi Irak pada hari Senin (30/8/2010) untuk meresmikan ‘berakhirnya’ operasi tempur AS dan mendorong para penguasa Irak untuk segera membentuk pemerintahan baru.

Seorang pejabat kedutaan Amerika mengatakan kepada wartawan bahwa Biden tiba di ibukota Irak pada pukul 6 sore, sehari sebelum Obama menyampaikan pidatonya untuk menandai ‘akhir’ dari operasi tempur militer Amerika, Al Arabiya melaporkan pada Senin (30/8).

Upacara resmi mengenai hal ini akan terselenggara pada hari Rabu. Tidak sedikit pengamat yang menilai bahwa akan ada pergeseran ke arah peran yang lebih besar dari AS secara diplomatis karena untuk menggolkan misi militernya selama tujuh tahun yang dirasa kurang setelah invasi Amerika yang menggulingkan Saddam Hussein.

Sejumlah pejabat menyatakan, Biden akan membuat daya tarik baru kepada para penguasa Irak, termasuk Perdana Menteri Nouri al-Maliki, untuk mengakhiri kebuntuan politik dan kursi pemerintahan baru. Pemilihan parlemen pada 7 Maret lalu yang tidak menghasilkan pemenang.

Biden dan al-Maliki bertemu pada Selasa pagi “untuk membahas situasi politik dan penarikan pasukan, serta diambilalihnya tanggung jawab keamanan oleh Irak,” kata penasihat perdana menteri Irak, Yasin Majeed, kepada Associated Press.

Kunjungan Biden kali ini merupakan perjalanan keenamnya Irak sejak ia terpilih dan, secara resmi, ia datang untuk memimpin upacara militer. Pada hari Rabu, Jenderal Ray Odierno disinyalir akan mengakhiri masa jabatannya selama lima tahun di Irak dan menyerahkan kendali sebagai komandan pasukan Amerika di negeri ini pada Letnan Jenderal Lloyd Austin yang sebelumnya menjabar sebagai komandan operasi pasukan tahun 2008-2009.

Hingga saat ini AS menyisakan lebih kurang 50.000 pasukan di Irak, dengan dalih membantu dan mendampingi pasukan Irak. Jumlah pasukan teror ini sempat memuncak pada tahun 2007, yakni 170.000 orang. Namun jumlah pasukan yang membengkak itu tidak pernah membawa Irak menuju kondisi yang lebih baik sebagaimana yang selalu digembar-gemborkan salibis AS selama ini. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...