Berita Dunia Islam Terdepan

Kisah Jurnalis Non-Muslim yang Mencoba Mengenakan Niqab

0 8

Sebuah pemandangan mencolok terlihat saat seorang perempuan mengenakan abaya hitam lengkap dengan burqa (niqab) berjalan di tengah-tengah mall terkenal di Helsinki, kota terbesar di Finlandia, mall Itakeskus.  Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya perempuan ini bukanlah seorang Muslimah, ia seorang jurnalis non-Muslim dari harian Helsingin Sanomat, salah satu harian terbesar di wilayah Skandinavia.

Nama jurnalis itu adalah Katja Kuokkanen.  Ia menyamar sebagai seorang Muslimah karena ia ingin merasakan bagaimana rasanya mengenakan pakaian Muslimah lengkap dengan niqab di tengah-tengah masyarakat di Finlandia yang masih asing dengan Islam.  Bagaimana rasanya jika orang-rang disekitarnya membelalakkan mata ketika orang-orang yang mengenakan pakaian seperti yang ia kenakan saat itu melintas dikeramaian.

Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannnya saat mengenakan niqab.  Ini adalah apa yang ia tulis :

Niqab hitam yang dibuat dari bahan sifon menutup seluruh wajah juga dua mataku.  Satu waktu seorang laki-laki tanpa sengaja menyentuh pundakku di sebuah tempat perbelanjaan.  Laki-laki tersebut tanpa merasa bersalah (seperti yang kebanyakan terjadi di sini) hanya meminta maaf sambil terburu-buru untuk pergi.

Lalu, saat ia benar-benar melihatku, seorang perempuan yang mengenakan abaya hitam dan niqab, pakaian yang biasa digunakan Muslimah, tiba-tiba ia sangat merasa bersalah dan meminta maaf. Sepertinya ia orang Arab, dari dialek saat ia meminta maaf kepadaku.  Aku tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.

Dari tempat perbelanjaan, aku pergi ke stasiun Metro.  Saat aku hendak masuk ke sebuah metro oranye, aku menerima perlakuan yang tak pernah aku perkirakan.  Seorang laki-laki yang tengah mabuk berkata kepada tiga temannya, “Hey, ini adalah salah satu pemandangan neraka!”

Mendengar teriakannya, penumpang lain serempak melihat kearahku.  Namun seorang perempuan paruh baya tidak menghiraukn ocehannya dan mengatakan sesuatu kepadaku, “hey, kamu menjatuhkan barangmu,” lalu ia memberikannya kepadaku, sebuah jepit rambut yang terjatuh dari tasku.  Aku tidak mengucapkan terimakasih kepada perempuan itu karena aku tidak ingin penyamaranku terbongkar.

Selanjutnya seorang perempuan Somalia muda yang bekerja sebagai penjaga toko menolongku membetulkan cadarku.  Ia mengatakan bahwa Muslimah di Helsinki tidak biasa mengenakan pakaian seperti yang aku pakai.  Gadis Somalia tersebut mengatakan sebisa mungkin tidak mengenakan pakaian yang seluruh warnanya adalah hitam.  Warna gelap menjadi pusat perhatian.  Memadupadankan warna mungkin lebih baik, ujarnya, ia juga mengatakan bahwa sebenarnya Muslimah Finlandia ingin mengenakan penutup wajah, namun sangat sulit, karena tidak diijinkan.

Saat berada di mall Itakeskus, aku melihat banyak mata menatap dengan pandangan tajam dan sinis.  Seorang bocah laki-laki terlihat ketakutan dan panik saat melihatku.  Namun menurutku, saat aku mulai mengenakan pakaian ini, yang aku jahit di sebuah garmen, aku merasakan nyaman dan hangat di dalamnya, walau kadang aku merasa kesulitan.

Lalu, saat aku memasuki sebuah swalayan, aku bertemu dengan perempuan Somalia tua yang menegurku dengan kalimat, Assalamualaikum, yang kurang lebih berarti semoga keselamatan tercurah kepadamu.  Aku sangat tersentuh dengan sapaannya.  Aku tidak pernah mendapati yang seperti ini.  Dan kalimat ini selalu aku dapatkan dari para Muslimah baik muda ataupun tua saat bertemu denganku, sebenarnya aku tidak mengerti maksud dari kalimat tersebut, namun saat aku mencari tahu ternyata itu adalah sebuah doa, sungguh indah.

Jurnalis ini merefleksikan eksperimennya pada hari itu, ia mengatakan seorang Muslimah yang mengenakan abaya dan niqab yang selalu dipandang sinis sebenarnya tidak buruk seperti yang dipikirnya banyak orang (non-muslim).  “Ini benar-benar tidak buruk.  Jika kamu mengenakannya, kamu akan merasakan sebuah kedamaian.”

Kisah ini menjadi ironis ketika sebagian besar negara-negara Eropa melarang penggunaan jilbab dan niqab.  Mereka yang berusaha melakukan pelarangan harus membaca kisah yang ditulis jurnalis Helsinki ini.  (haninmazaya/tum/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...