Berita Dunia Islam Terdepan

Ingin Raih Dukungan, NATO Bungkam Warga Sipil Afghan Dengan Dana Kompensasi Kematian

0 1

KABUL (Arrahmah.com) – Dua puluh klaim kompensasi yang berkaitan dengan pembunuhan warga sipil Afghanistan selama operasi oleh pasukan bersenjata Inggris saat ini sedang diselidiki oleh Departemen Pertahanan.

Beberapa waktu lalu, Inggris telah membayar rata-rata £ 7.300 untuk setiap kematian warga sipil dalam perang, meskipun data menunjukkan bahwa kompensasi yang dibayar untuk tahun yang berakhir April 2009 kemarin hanya £ 2.900.

Masalah kompensasi bagi korban sipil saat ini telah menjadi agenda politik terpenting seiring dengan kepentingan NATO untuk memperoleh peningkatan dukungan dari penduduk Afghan. Sejumlah pejabat sudah bernegosiasi untuk membentuk sistem standar pembayaran kompensasi di antara negara-negara anggota yang beroperasi di Afghanistan.

Sarah Holewinski, direktur eksekutif Civic (Kampanye untuk Korban Konflik), berkata: “Kami telah bekerja untuk mendapatkan sistem yang seragam yang akan mengatur selama empat tahun dari sekarang, dan kami berharap bahwa bangsa-bangsa anggota NATO siap untuk mewujudkan hal ini.”

Inggris masih menawarkan salah satu skema yang paling ‘murah hati’ untuk warga sipil Afghanistan. Amerika Serikat, misalnya, membayar “belasungkawa” dengan £ 1.660 untuk korban sipil, sementara Jerman memilih untuk sistem bantuan masyarakat daripada pembayaran kepada perorangan.

Guardian.co.uk melansir pembayaran serupa telah dilakukan terhadap para keluarga dari 12 warga Afghanistan yang tewas dalam serangan roket Amerika Serikat di bagian selatan negara itu dua minggu lalu, sebagai salah satu wujud baru NATO untuk menebus kesalahan.

Holewinski berkata: “Ada tanda-tanda bahwa mereka (NATO) semakin mengakui bahwa pihaknya harus ‘menghargai’ dan mengakui keberadaan warga sipil.”

Selama satu tahun hingga April 2008, MoD membayar £ 73,000 untuk kematian 10 warga sipil Afghanistan. Tahun berikutnya, (hingga April 2009) Inggris hanya membayar £ 32.000 untuk mengkompensasi keluarga dari 11 warga Afghanistan yang tewas. Kecenderungan itu juga tercermin dalam ukuran pembayaran kepada warga sipil Afghanistan yang telah terluka.

Selama periode April 2008 dan 2009, terdapat jumlah klaim yang diajukan oleh warga sipil Afghanistan sebanyak 2.120. Dari jumlah tersebut, hanya 736 kasus yang telah diberi ganti rugi dengan dana kompensasi mulai dari £ 18 hingga £ 9.500.

Juru bicara Kementrian Pertahanan Inggris mengatakan: “Kami punya prosedur yang ketat, yang sering diperbarui berdasarkan pengalaman di lapangan, yang tentu saja dimaksudkan untuk meminimalkan risiko jatuhnya kembali korban dan dilakukannya penyelidikan atas setiap insiden. Klaim kompensasi diajukan terhadap Departemen Pertahanan sebagai bagian dari dasar pertimbangan ISAF apakah departemen ini memiliki kewajiban hukum untuk membayar kompensasi. Dan ketika ada tanggung jawab hukum yang sudah terbukti, maka kompensasi harus dibayarkan.”

Nader Nadery, komisaris Komisi Independen Hak Asasi Manusia di Afghanistan, mengatakan: “Setelah kematian warga sipil, serangan malam pun telah menjadi masalah terbesar kedua bagi warga Afghan.”

Penyelidikan terhadap serangan NATO satu malam di distrik Narang, timur Afghanistan, di mana delapan anak laki-laki dari satu keluarga tewas beberapa waktu lalu, masih terus dilanjutkan. Dan para pejabat NATO tetap berkilah bahwa serangan itu dilakukan karena info dari sumber intelijen yang salah.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Open Society Institute yang berbasis di New York, telah mengidentifikasi 98 warga sipil yang tewas dalam serangan malam pada tahun 2009. Laporan ini juga ditandai gambaran perlakuan buruk dan agresif dari pasukan NATO.

“Afghan memberikan pernyataan bahwa pasukan internasional merobek atau memotong Al-Qur’an dengan kapak, mengambil perempuan pergi dengan helikopter dan mengembalikan mereka dalam keadaan telah meninggal, dan menembak bayi atau anak-anak pada jarak dekat,” sebagaimana dilaporkan oleh Open Society Institute.

Meskipun McChrystal telah mengklaim memusatkan strategi militer saat ini untuk mengurangi korban sipil, namun jumlah korban sipil terus membengkak. Minggu terakhir sebuah serangan udara NATO menewaskan 27 warga sipil, termasuk beberapa perempuan dan anak-anak, di provinsi Uruzgan, Afghanistan selatan. (althaf/guard/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...