Berita Dunia Islam Terdepan

Blair Bersilat Lidah Untuk Membenarkan Perangnya Di Irak

0 5

LONDON (Arrahmah.com) – Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, pada hari Jumat (29/1), berdalih bahwa Saddam Hussein bukan lagi ancaman yang besar setelah 11 September, tetapi persepsinya mengenai risiko lebih besar yang ditimbulkan jika ‘teroris’ merebut senjata pemusnah massal Irak, secara dramatis telah diubah oleh serangan yang ia lakukan bersama rekannya Bush.

Blair mengatakan kepada Mahkamah Pengadilan Irak di Inggris bahwa keputusannya yang kontroversial untuk mendukung invasi Amerika di Irak tahun 2003 diilhami oleh ketakutan yang lain, yakni serangan teror.

“Bukan karena dia (Saddam) telah melakukan banyak hal, namun persepsi kami mengatakan bahwa ada resiko yang lebih besar dari itu semua,” kata Blair.

“Jika orang-orang yang diilhami oleh fanatisme keagamaan ini bisa membunuh 30,000, mereka akan melakukan hal serupa. Sejak saat itu maka terorisme dan bibit-bibitnya di Iran, Libya, Korea Utara, Irak … semuanya harus diakhiri.”

“Pertimbangan utama saya adalah mengirim pesan yang benar-benar tegas, jelas, dan berkelanjutan bahwa setelah 11 September jika Anda terlibat dalam suatu rezim yang mengembangkan senjata pemusnah massal (WMD), maka anda harus menghentikannya,” lanjutnya.

 

Sambil menggenggam satu map dokumen, Blair duduk dengan tegang di tengah-tengah konferensi London untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Mahkamah Irak, sebuah penyelidikan luas ditugaskan oleh pemerintah Inggris untuk meneliti intrik di balik keputusan Inggris untuk bergabung dengan dengan perang Irak yang mahal dan tidak populer.

Blair ditanya mengenai tuduhan bahwa pemerintahnya bertekad untuk menggulingkan diktator Irak dengan membesar-besarkan isi laporan intelijen yang menyatakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Dia pun menekankan waktu tepat dimana dia menawarkan dukungan untuk invasi yang diperintahkan oleh Presiden AS George W. Bush.

 

Mantan dubes Inggris untuk Washington, Christopher Meyer, mengatakan bahwa kesepakatan yang ditandatangani dengan darah oleh Bush dan Blair ini terjadi di peternakan Bush di Crawford, Texas, pada April 2002.

“Satu-satunya komitmen yang saya berikan (di Crawford) adalah komitmen untuk berurusan dengan Saddam,” kata Blair. Dia bilang dia mengatakan kepada Bush “kita akan bersama mereka dalam menghadapi ancaman ini.”

Blair mengatakan para pemimpin dunia lainnya tidak merasakan hal yang sama seperti halnya yang dia dan Bush rasakan.

“Meskipun pola pikir Amerika telah berubah secara dramatis (pasca 11 September) -dan sejujurnya saya juga berubah-, saat saya berbicara dengan para pemimpin negara lainnya, terutama negara-negara Eropa, saya tidak mendapatkan kesan yang sama dari mereka.”

 

Blair sengaja datang sebelum pukul 07:00 GMT (0200EST) pada hari Jumat, untuk menghindari demonstran, dengan memasukkan pusat konferensi melalui berpembatas pintu belakang. Sekitar 150 pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung dan meneriakkan slogan-slogan termasuk “Penjarakan Tony” dan “Kebohongan Blair menyebabkan ribuan orang meninggal” namun dihadang oleh sederetan polisi.

 

Saat Blair bersaksi, demonstran di luar gedung pertemuan membacakan nama-nama warga sipil dan personil militer tewas di Irak.

“Rakyat Irak harus hidup setiap hari dengan agresi dan kekejaman,” kata pengunjuk rasa, Saba Jaiwad, salah seorang Irak yang menentang perang.

“Blair seharusnya tidak berada di sini memberikan alasan-alasannya atas perang ilegal tersebut, ia seharusnya dibawa ke Den Haag untuk menghadapi tuduhan kriminal karena ia telah melakukan kejahatan terhadap rakyat Irak.”

Blair mengakui bahwa keputusannya untuk mengikutsertakan Inggris berperang -yang menyebabkan protes publik terbesar di London ini- telah dibicarakan dengan pihak oposisi dan kabinetnya.

“Dari awal, saya tidak pernah menemukan ada satu pihak pun yang menentang keputusan ini,” dalih Blair di hadapan peserta sidang panel. (althaf/ap/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...