20 Tewas Akibat Serangan Pesawat Tak Berawak AS Di Waziristan Selatan

0 11

MIRANSHAH (Arrahmah.com) – Pesawat tak berawak milik Amerika Serikat kembali melancarkan serangannya pada hari Minggu (17/1), menewaskan sedikitnya 20 orang di wilayah kesukuan Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan, kata para pejabat.

Serangan terjadi di daerah Shaktoi, 40 km (25 mil) tenggara Miranshah, kota utama di wilayah Waziristan Utara, seorang pejabat militer senior memberikan keterangan kepada AFP.

“Targetnya adalah kompleks ‘militan’,” klaimnya. “Jumlah korban sudah meningkat dan menurut konfirmasi, ada sekitar 20 yang tewas dalam insiden itu,” tambahnya.

Jumlah korban kemungkinan akan terus meningkat, kata pejabat lainnya, dan ia menambahkan bahwa mujahidin ikut melakukan upaya penyelamatan di kompleks yang hancur tersebut.

“Pesawat-pesawat itu sepertinya melakukan pelacakan dan penargetan pimpinan Taliban Pakistan, Hakimullah Mehsud, yang keberadaannya sering dilaporkan di daerah ini,” kata seorang pejabat. Ia pun menambahkan bahwa sedikitnya tiga rudal ditembakkan ke Shaktoi.

Pemimpin Taliban Pakistan, Hakimullah Mehsud merilis sebuah rekaman audio baru pada hari Sabtu, yang berisi pernyataan bahwa dia masih hidup dan ada dalam kondisi sehat setelah muncul laporan bahwa ia tewas dalam serangan pemboman AS pada hari Kamis.

“Hari ini, pada tanggal 16 Januari, saya katakan lagi – saya masih hidup, saya baik-baik saja, saya tidak terluka … saat serangan itu terjadi, saya sedang tidak berada di sana,” kata Mehsud.

“Jika serangan pesawat tanpa awak itu terus dilanjutkan, maka TTP tidak akan bertanggung jawab atas langkah berbahaya yang akan terjadi di masa depan, pemerintah Pakistanlah yang akan bertanggung jawab,” Mehsud memperingatkan.

Serangan hari Minggu ini merupakan serangan rudal kesepuluh yang dilancarkan oleh pesawat mata-mata tak berawak AS selama tahun ini, seiring dengan dijadikannya Pakistan oleh pemerintahan Presiden AS Barack Obama sebagai jantung dalam memerangi Al-Qaidah dan ekstremis Islam lainnya.

Drone AS terus pemboman mereka hari Jumat, dengan sedikitnya 11 militan tewas dalam dua serangan terpisah di daerah yang sama.

Mehsud kepemimpinan diasumsikan TTP disalahkan atas kematian ribuan orang dalam serangan di Pakistan setelah pendahulunya, Baitullah Mehsud, tewas dalam serangan dengung AS pada bulan Agustus tahun lalu.

The TTP Baitullah Mehsud menyangkal kematian selama berminggu-minggu, rupanya tengah pertarungan sengit atas penggantinya.

Atas desakan Washington untuk mengatasi kelompok-kelompok Islam yang diklaim AS menggunakan tanah Pakistan untuk melancarkan serangan di negara tetangganya Afghanistan, angkatan bersenjata Islamabad tahun lalu melakukan penyerangan ofensif terhadap beberapa benteng di wilayah perbatasan.

Bersamaan dengan itu, AS melalui agen-agennya melakukan berbagai serangan di beberapa wilayah di Pakistan dan mengorbankan banyak warga sipil, termasuk aksi pemboman pada tanggal 1 Januari yang menewaskan lebih dari 100 orang di arena pertandingan bola voli di sebuah kota di barat laut Pakistan. Dan aksi pemboman yang brutal inilah yang kemudian dijadikan sebagai senjata AS untuk menyalahkan Taliban dan berbagai kelompok Islam yang dicap ‘radikal’ lainnya di Pakistan.

Pada tanggal 9 January, pimpinan TTP muncul dalam sebuah video bersama seorang pria Yordania yang meledakkan dirinya di sebuah pangkalan militer Amerika di Afghanistan bulan lalu, menewaskan tujuh agen CIA.

Pria 36 tahun yang bernama Humam Khalil Abu Mulal Albalawi atau Syaikh Abu Dujanah Al Khurosany itu mengklaim bahwa serangannya ia lakukan untuk membalas kematian Baitullah Mehsud.

Lebih dari 700 orang tewas dalam sekitar 80 serangan yang pesawat mata-mata AS di Pakistan sejak Agustus 2008, peningkatannya terjadi pada 2009 di bawah kepimpinan Presiden AS Barack Obama. Dan hal ini menyebabkan terus meningginya sentimen anti-Amerika di kalangan Muslim Pakistan, dan TTP berulang kali bersumpah membalas serangan tersebut. (althaf/dawn/afp/alj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Leave A Reply

Your email address will not be published.