Imarah Islam Afghanistan: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Di Afghanistan

0 174

KABUL (Arrahmah.com) – Penjajahan Amerika Serikat dengan dalih mengembalikan stabilitas di Afghanistan ternyata selalu meresahkan. Pelanggaran hak asasi manusia sudah bukan lagi perkara baru bagi mereka. Mereka sengaja menutup-nutupi dengan memberikan pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta melalui media.

Pada Minggu (4/10), Imarah Islam Afghanistan mengeluarkan pernyataan baru mengenai hal ini, mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh tentara salibis Amerika di tanah jihad Afghanistan selama penjajahannya belakangan ini.

Berikut ini adalah pernyataan Imarah Islam Afghanistan mengenai hal tersebut.

IMARAH ISLAM AFGHANISTAN

PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA

14 Syawal 1430 H/ October 04, 2009

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih Dan Pemurah

Pekan lalu, pasukan Amerika di provinsi Helmand telah menewaskan 9 warga sipil dengan menembakkan rudal-rudal mereka malam telah larut. Sebelum itu, pada minggu pertama September lalu, jet-jet tempur Amerika menewaskan tanpa belas kasian 140 penduduk desa miskin di provinsi Kunduz ketika mereka berbondong-bondong mengambil minyak dari tanker yang ditinggalkan entah dengan tujuan apa setelah bentrokan bersenjata singkat dengan Mujahidin. Semua korban tewas dalam serangan udara yang sepertinya mengandung fosfor, termasuk menimpa siswa sekolah dan para penduduk desa yang malang itu.

Demikian pula, warga sipil menjadi mangsa kebrutalan pemboman Amerika dan NATO di Aziz Abad provinsi Hirat, Dehrawood provinsi Uruzgan, dan Shinwar provinsi Nangarhar. Ribuan penduduk Afghanistan yang malang dan tidak berdaya tewas di tangan para salibis Amerika yang menyebut tindakan mereka sebagai perang melawan teror.

Seluruh bangsa Afghanistan sekarang hidup dalam ketakutan dan teror karena kapanpun dimanapun jet-jet tempur Amerika itu bisa melancarkan serangan dan membom mereka. Kenyataannya saat ini adalah bahwa dengan dalih demokrasi dan perang melawan teror, mereka semena-mena membunuh, menahan dan menyiksa warga Afghanistan. Tidak seorang pun boleh bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukan kejahatan tersebut. Juga tidak seorang pun dapat menyeret mereka ke pengadilan atas apa yang telah mereka lakukan terhadap orang-orang yang tidak bersalah.

Kami telah menyaksikan kekejaman penjajah asing ini sejak Alexander, Gengis Khan, Timur Lane, Tentara Merah tapi kekejaman Amerika Serikat merupakan kebrutalan dan barbarisme paling buruk yang pernah ada di muka bumi. Mereka melakukan pengeboman secara membabi buta saat kami berkabung, mereka telah membuat sekolah dan madrasah kami penuh darah dan mayat karena menembakkan rudal dengan pura-pura salah sasaran atau bahkan mengklaim tempat-tempat itu sebagai pusat pelatihan teroris.

Sungguh menyedihkan dan bahkan berbagai organisasi yang menamakan diri sebagai pembela HAM internasional seperti Human Rights Watch, Amnesty International, Komisi Hak Asasi Manusia PBB bungkam atas apa yang terjadi di Afghanistan.

Ketika kami mencoba untuk menginformasikan kepada publik internasional tentang pertumpahan darah, kekerasan, pembantaian dan pembersihan ras yang dipicu oleh Pentagon dan sekutu-sekutunya di Afghanistan, mereka mencekik suara kami dengan cara memblokir situs kami dan tidak menerbitkan berita dan pernyataan yang sengaja kami berikan ke beberapa media.

Inikah demokrasi? Ini keadilan yang diinginkan oleh dunia? Dunia seharusnya memperhatikan bahwa kebebasan berbicara dan berbagai jenis hak asasi manusia lainnya telah dilanggar oleh Amerika dan pasukannya dengan sewenang-wenang di bawah dalih perang melawan teror yang terkenal itu.

Perang di Afghanistan bukan antara demokrasi dan teror sebagaimana yang terus-menerus mereka teriakkan tapi yang terjadi adalah perang antara kebebasan dan tirani, kemerdekaan dan kolonialisme, nilai-nilai kemanusiaan dan kediktatoran. Namun, politik dan media yang bias selalu membayangi apa yang sebenarnya.

 

Imarah Islam Afghanistan

(althaf/tum/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Leave A Reply

Your email address will not be published.