Serangan Misil AS Mengubah Kegembiraan Ramadhan di Waziristan

0 1

Setiap Ramadhan tiba, Behroz Gul selalu mengadakan jamuan buka puasa bersama untuk ratusan orang yang membutuhkan di mesjid setempat di Shakai di Waziristan Selatan.  Tapi tahun ini, salah satu pemuka masyarakat seperti dirinya tidak mampu lagi menggelar acara serupa.

“Terdapat perbedaan mencolok antara Ramadhan tahun lalu dengan tahun ini,” ucap Gul, 45, seperti yang dilansir islamonline.

“Tahun lalu, aku menjadi salah satu orang yang bisa memberi, namun tahun ini aku menjadi salah satu orang yang berhak menerima.”

Gul, yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar, bersama ratusan penduduk Waziristan Selatan lainnya harus meninggalkan tempat mereka karena serangan misil yang dilakukan negara penjajah AS semakin meningkat.

“Aku tidak dapat membayangkan, di tahun lalu keluarga kami selalu menggelar acara buka puasa bersama untuk orang-orang yang membutuhkan tapi kini, aku harus ikut mengantri untuk mendapatkan makanan tuk berbuka puasa,” ujar ayah lima anak ini yang kini hidup di kamp pengungsian sejak sepuluh bulan silam.

AS selalu menembakan misil-misilnya dari pesawat tak berawak milik mereka, menyerang wilayah utara dan selatan Waziristan. Dan hingga kini, ribuan korban dari kalangan sipil telah berjatuhan akibat ulah AS tersebut.

Sejak tahun lalu, tercatat sedikitnya 53 misil telah ditembakan AS ke wilayah Waziristan, membunuh lebih dari 1.200 sipil Pakistan termasuk sekitar 16 anggota Taliban Pakistan.

“Misil mereka tidak mempedulikan siapa yang menjadi korban,” ujar Gul.

“Mereka seperti melakukan acara wajib dan tidak mempedulikan siapa yang menjadi korban dari apa yang mereka lakukan,” lanjutnya.

“Tidak mudah menggambarkan perasaan takut yang kami rasakan saat melihat misil-misil tersebut menyerang rumah-rumah atau desa kami.  Kami tidak dapat melakukan apapun selain berdoa demi keselamatan kami.”

Dilfaraz Khan, penduduk Waziristan lainnya mengatakan ketakutan akan serangan misil membuat Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan sebelumnya.

“Kami selalu melihat ke langit karena khawatir tiba-tiba pesawat tak berawak AS melintas dan menembakan misil-misilnya.” (haninmazaya/iol/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Leave A Reply

Your email address will not be published.