Mereka Telah Pergi, Namun Aksinya Masih Diperdebatkan

0 6

JAKARTA (Arrahmah.com) – Perbincangan mengenai aksi trio mujahid Bom Bali sepertinya tidak akan pernah basi dibicarakan.  Semalam (17/4) sekitar pukul 18.30-20.30 di Mesjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, digelar acara “Diskusi dan Bedah Buku Mengoreksi Jihad Global Imam Samudra”.

Hadir sebagai pembicara yaitu Ust. Abu Jibriel Abdur Rahman dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ust. M. Al-Khatath, Sekjen Forum Ummat Islam (FUI) serta salah satu anggota Penanggulangan Terorisme yang dibentuk oleh Mahkamah Agung Indonesia dan Ust. Ahmad Tarmizi, salah satu penulis buku yang mengkritisi aksi asy-syahid Imam Samudra cs, Mengoreksi Jihad Global Imam Samudra. Penulis lainnya yang diundang, Hepi Andi Bastono berhalangan hadir.

Walau tidak dihadiri oleh ribuan jamaah, namun acara debat semalam tetap digemuruhi oleh pekikan takbir saat dengan semangatnya pembicara I memaparkan materi dan menyelisihi apa-apa yang tertuang dalam buku tersebut yang memang menjadi inti dalam acara semalam. Walau banyak kekurangan dalam buku serta ketidakjelasan fikrah buku tersebut, namun salah satu anggota DPR dari PKS menyatakan dukungannya yang tertuang dalam testimoni.

Dua kesimpulan utama yang dipaparkan oleh Ust. Abu Jibriel yang terdapat dalam buku tersebut adalah:

– apa yang dilakukan Imam Samudra cs menyelisihi ulama Salafus Shalih

– apa yang ditulis oleh para penulis melunturkan semangat jihad kaum muslimin.

“Dalam buku di halaman 190, mereka (penulis-red) menyitir sebuah hadist yang tidak beralasan, hadist tersebut berbunyi “Kita telah kembali dari perang kecil menuju perang besar, yaitu perang melawan hawa nafsu).  Jika digali menurut ilmu hadist, hadist ini adalah hadist dhaif atau maudu’ dan tidak terdapat dibanyak kitab, hanya terdapat di kitab Ihya Ulumuddin tulisan Imam Ghazali,” ujar Ust. Abu Jibriel mengomentari isi buku.

“Jika hadist tersebut diyakini, maka akan banyak hadist-hadist lain dan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai perintah jihad (perang bukan hawa nafsu) yang terhapus,” lanjutnya.

Salah satu penulis buku yang hadir dan menjadi pembicara menganalogikan apa yang terjadi dengan ummat Islam digambarkan dengan satu bangunan rumah yang tengah terbakar dan seluruh penghuninya tertidur lelap, ada salah seorang penghuni yang tersadar, lalu yang ia lakukan adalah menyadarkan seluruh penghuni untuk bersama-sama memadamkan api.

Maksud dari perkataan penulis adalah, saat ini yang dibutuhkan adalah dakwah, menyadarkan ummat Islam bahwa mereka tengah berada dalam perang pemikiran (ghawzul fikr), solusinya bukan dengan jihad.

“Saya tidak akan menyelisihi tentang wajibnya jihad, hal itu memang telah jelas, namun hanya akan mengkritisi masalah teknis, dimana ummat Islam di Indonesia tidak dijajah secara fisik, namun secara pemikiran.  Maka kita balas dengan hal yang serupa,” klaim Ust. Ahmad Tarmizi.

Menanggapi analoginya, salah seorang jamaah yang hadir mengatakan “Jika orang tersebut sibuk membangunkan orang yang berada di sekitarnya tanpa mencoba memadamkan api, bisa jadi api akan semakin membesar dan menghanguskan seluruh rumah.”

Sedang Ust. Al-Khatath memandang bahwa jihad itu terbagi dua, yaitu offensif dan defensif.  Jihad offensif hanya bisa dilakukan jika terdapat amir (khalifah) dan telah terbentuk kekhilafahan.  Sedang jihad defensif, contohnya seperti yang terjadi di Irak, Afghanistan, Palestina, Chechnya, dan seluruh negeri muslim yang diperangi oleh kafir.

“Jihad yang dilakukan Imam Samudra cs menurut saya termasuk kategori defensif, karena ia membalas apa yang dilakukan kaum kafir di negeri-negeri Muslim yang diperangi,” ujar Al-Khatath.

“Menurut pengamatan yang dilakukan Imam Samudra cs, malam itu para tentara Australia yang tengah cuti dari “dinas” (pulang dari perang menghabisi warga sipil Muslim) melakukan refreshing di Bali, dan merekalah yang menjadi sasaran Imam Samudra cs,” lanjutnya.

Kesimpulan dari diskusi semalam adalah buku ini belum lengkap dan padat dengan argumen yang kuat yang dapat membantah jihad Imam Samudra cs.  Perlu banyak perbaikan agar tidak melencengkan makna jihad sesungguhnya.  Mengkritisi adalah hal yang sah, namun harus dengan fakta dan dalil yang syar’ie, bukan menyitir pendapat orang-orang yang tidak tahu-menahu mengenai lapangan jihad.

Menutup diskusi, Ust. Abu Jibriel mengatakan bahwa jihad global adalah jihad untuk menegakkan Khilafah Islamiyah sehingga tidak ada lagi fitnah bagi ummat Islam yang melaksanakan syariat Islam secara kaffah. (arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Leave A Reply

Your email address will not be published.