Berita Dunia Islam Terdepan

Warisan Fosfor Gaza

0 3

Tiga bulan berlalu sejak dilancarkannya agresi militer biadab yang dilakukan tentara zionis Israel ke Jalur Gaza, kini masyarakat Gaza mulai menata kembali kehidupannya.

Namun bagaimanapun, perang selama tiga pekan tersebut berhasil merubah kehidupan masyarakat Gaza.

Sabah Abu Halima, setiap minggunya harus mengunjungi klinik fisioterapi di Rumah Sakit Shiba untuk mengatasi luka akibat fosfor putih yang mengenai kulitnya.

“Aku mengalami luka bakar dari kepala hingga ujung kaki, wajah, lengan, punggungku terbakar,” ujarnya.

“Aku masih merasakan sakit, dan ini mungkin tidak akan kembali normal, aku mencoba memijit lenganku namun yang kurasa hanya kekakuan.”

“Aku tidak dapat lagi mengangkat secangkir teh, hidupku tidak akan pernah sama.”


Keluarga Bahagia

Sabah dan keluarganya hidup di wilayah Utara Gaza yang berbatasan dengan Israel.

“Kami hidup dengan bahagia, aku tinggal bersama suami dan anak-anakku.  Aku merasa menjadi seorang yang berbahagia di dunia saat itu,” kenang Sabah.

“Kami terdiri dari 16 orang.  16 orang hidup dengan bahagia di satu rumah.”

Namun semuanya berubah sejak 4 Januari ketika tentara zionis Israel memasuki desa Siyafa dan membombardir wilayah tersebut dengan bom yang mengandung fosfor putih.

“Pertama kali aku melihat ledakan bom dengan fosfor putih meledak di dekat kebun kami, iparku berteriak-teriak memanggil dan mengatakan “lihat yang dilakukan Israel”, dan kami terus menyaksikan satu persatu tanah di dekat kami terbakar,” ujarnya mengingat.

Bom-bom tersebut mengambil nyawa lima anggota keluarga Sabah.  Suami dan empat anaknya termasuk anaknya yang paling muda, Shahed, yang baru berusia 15 bulan.

“Kami berusaha melindungi ayah kami namun kami tidak berdaya melakukannya,” ujar Youssef, salah satu putra Sabah.

“Aku tidak dapat lagi membuka buku-bukuku karena setiap apa yang kulihat adalah kematian ayahku di hadapanku.”

“Sebelumnya, aku selalu bercanda dengan adik-adik dan ayahku, kini tidak ada seorangpun yang dapay kuajak bicara, hanya ada ibuku, aku mencoba menenangkannya, mengajaknya tertawa, namun dirinya tidak menanggapi.”

“Segalanya telah berubah,” ujar Sabah. (Hanin Mazaya/arrahmah/alj)

Baca artikel lainnya...