Berita Dunia Islam Terdepan

Selama Ramadhan, TV Arab Makin “Liberal”

0 3

Mungkin pemandangan ini adalah hal baru di Arab Saudi. Bagaimana sinetron-sinetron televisi ditonton jutaan pemirsa, menyampaikan tema-tema yang dulu dipandang tabu. Tema seperti: agama, cadar, kebebasan memilih pasangan, narkoba, terorisme, persoalan politik, korupsi sampai pada emansipasi seksual dan intimidasi seks.

Tahun-tahun sebelumnya, stasiun televisi Arab menghibur para pemirsanya setelah seharian berpuasa dengan khotbah-khotbah agama atau rekaman sang Pemimpin Besar sedang membuka sebuah proyek pembangunan di suatu tempat di negara tersebut. Tapi sejak monopoli stasiun televisi nasional milik pemerintah didobrak kemunculan pelbagai stasiun televisi komersial, program-program tersebut digantikan oleh sinetron Ramadhan.

Sementara ini lebih dari 200 saluran satelit berjuang memenuhi selera para pemirsa Arab dengan sinetron yang seringkali diproduksi sendiri oleh mereka. Mereka ini merubah malam-malam bulan Ramadhan di dunia Arab menjadi sebuah festival sinetron besar. Setelah seharian berpuasa jutaan warga Arab duduk di depan televisi menonton sinetron favorit mereka hingga larut malam.

Sebagaimana diketahui, stasiun televisi satelit Arab adalah ajang pameran dampak demokratisasi pasar terbuka. Berbeda dari stasiun televisi pemerintah, mereka lebih sering mengabaikan sensor pemerintah Arab. Dan dalam persaingan antar mereka sendiri, mereka mencoba saling mengungguli dengan mengangkat topik-topik sensitif yang tergolong ‘segitiga bahaya’: seks, agama dan politik.

Dalam sinetron Ramadhan Mesir ‘Masalah Pendapat Publik’, aktris top negara tersebut, Yusra memerankan seorang profesor yang diperkosa dengan cara brutal. Serial ini seketika memancing protes keras ulama yang menentang tema perkosaan ditampilkan selama bulan suci Ramadhan.

‘Tash Ma Tash’

Mesir yang dianggap sebagai Hollywoodnya Arab, selama bertahun-tahun telah menjadi produser film dan acara televisi terpenting di dunia Arab. Tapi Suriah mencuri mahkota Mesir dalam beberapa tahun belakangan dengan sinetron Ramadhannya. Serial televisi Suriah juga menyoroti topik-topik kontroversial.

Serial drama kontroversial berjudul ‘Jalan Menuju Kabul’ yang ditayangkan dua tahun lalu selama Ramadhan, menceritakan pejuang jihad Arab di Afganistan. Selama Ramadhan tahun lalu serial drama ‘Rusa di Kumpulan Serigala’ secara eksplisit menyoroti masalah korupsi.

Contoh lain adalah sinetron Ramadhan Arab Saudi yang sangat populer, ‘Tash Ma Tash’ yang bahkan mengolok-olok polisi agama Saudi yang sangat ditakuti. Sinetron ini ditayangkan oleh stasiun televisi MBC yang bermarkas di London dan disubsidi Arab Saudi. MBC telah menayangkan serial tersebut selama 15 tahun walaupun dihujani protes tak berkesudahan dari para ulama Saudi yang marah. MBC, dikenal sebagai TV sangat liberal. Hampir 24 jam menayanglan film-film.

Tapi tidak sepenuhnya benar jika dikatakan saluran televisi satelit benar-benar bebas sensor pemerintah Arab. Stasiun-stasiun televisi dalam berbagai hal tetap sensitif atas tekanan politik, misalnya karena mereka dimiliki oleh para pengusaha yang punya hubungan erat dengan pemerintah. Stasiun MBC misalnya terpaksa membatalkan penayangan sinetron ‘Harga Dosa’ setelah diprotes keras kalangan Syiah di Kuwait.

Sebelum ramadhan, beredar kabar bahwa serial ini bercerita tentang perkawinan mut’ah, yaitu perkawinan yang diijinkan dalam tradisi Syiah tapi terutama oleh kaum Sunni sering dianggap sebagai bentuk pelacuran legal. Mengingat adanya ketegangan antar sekte Sunni dan Syiah di Kuwait, penayangan program tersebut dianggap tidak bijaksana.

Pembebasan

Namun sebagian besar penguasa Arab menyadari bahwa ini adalah sebuah perkembangan yang tidak bisa dihentikan. Bahkan stasiun televisi nasional milik negara belakangan ini menjadi lebih terbuka tentang topik-topik yang selama ini dibungkam. Tampaknya pengatur jarak jauh televisi telah menjadi simbol “pembebasan” dunia Arab.

Dan yang senang pasti media Barat. Baru-baru ini, sebuah media di Belanda menyebut perkembangan ‘liberalisasi’ TV Arab ini sebagai layak mendapat gelar “revolusioner”.

Sumber: Hidayatullah

Baca artikel lainnya...