Berita Dunia Islam Terdepan

Angka Bunuh Diri Anak-Remaja AS Naik

0 3

Angka bunuh diri anak remaja di Amerika Serikat (AS) terus melonjak. Diduga, akibat penggunaan obat antistres. Angka ini tertinggi dalam 15 tahun

Sebanyak 4.599 anak dan remaja berusia 10-24 tahun di Amerika Serikat (AS) bunuh diri pada 2004. Angka ini adalah yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Pemerintah AS tengah berupaya keras mencari penyebab tingginya angka bunuh diri anak dan remaja di negeri itu. Data pemerintah menunjukkan terjadi kenaikan yang cukup signifikan dalam kasus bunuh diri anak pada 2004.

“Terdapat kenaikan sekira delapan persen pada 2004. Ini sangat berbahaya jika dibiarkan,” kata Direktur Pusat Pengendali dan Pencehana Penyakit AS dr Ileana Arias.

Dia mengatakan, kebanyakan pelaku bunuh diri dari pihak laki-laki adalah berusia 10-19 tahun. Sementara di pihak perempuan, kebanyakan pelaku bunuh diri berusia 15-19. Belum ada penjelasan detail tentang penyebab fenomena ini.

Namuns sejumlah pihak, termasuk Ileana menyakini tingginya angka bunuh diri anak-anak dan remaja adalah akibat penggunaan pil antistres. Pil ini bisa digunakan untuk menenangkan diri, terutama bagi anak-anak atau remaja yang mengalami sulit tidur.

Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS. Lembaga ini menjelaskan, penggunaan pil antistres justru dapat merangsang orang untuk melakukan bunuh diri.

“Penggunaan pil antistres membuka peluang terjadinya bunuh diri pada usia dini,” tulis Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, seperti dilansir Reuters, Jumat, (7/9).

Selain penggunaan pil antistres, tingginya angka bunuh diri di AS disebabkan maraknya penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Anak-anak yang mengonsumsi barang-barang ini memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri ketimbang mereka yang tidak mengonsumsinya.

Dr Keri Lubell yang memprakarsai sejumlah penelitian tentang bunuh diri mengatakan, tingginya angka bunuh diri juga disebabkan lemahnya kontrol emosi anak-anak dalam menghadapi masalah. hal ini, kata Keri, bisa disebabkan kebiasaan yang buruk.

Keri menyarankan kepada orangtua untuk dapat membuka komunikasi dua arah untuk membantu anak-anak menyelesaikan masalahnya. Dengan dukungan yang kuat dari orangtua, anak-anak akan merasa nyaman dan tidak mudah putus asa.

Sumber: Hidayatullah

Baca artikel lainnya...