Berita Dunia Islam Terdepan

Duka Keluarga Enam Warga Muslim yang Ditangkap Kejaksaan AS

40

Support Us

Penangkapan enam warga Muslim oleh aparat kejaksaan AS menimbulkan tanda tanya dan keprihatinan bagi keluarga, sahabat dan rekan kerja keenam warga Muslim tersebut. Mereka mengatakan, kehidupan sehari-hari orang-orang yang mereka kenal itu, tidak seperti teroris yang dituduhkan pada mereka.

Seperti diberitakan sebelumnya, keenam warga Muslim itu ditangkap dengan tuduhan merencanakan serangan ke basis militer AS Fort Dix di New Jersey. Aparat kejaksaan menyebut keenam warga Muslim itu sebagai orang “Islam radikal” dan semuanya bukan kelahiran AS. Menurut kejaksaan, enam orang tersebut berencana menggunakan senjata-senjata otomatis untuk membunuh sebanyak mungkin tentara AS di basis militer itu.

Salah seorang yang ditangkap bernama Muhamad Ibrahim Shnewer, yang dituding sebagai pemimpin kelompok tersebut. Ibu Muhammad bernama Faten, pada surat kabar The New York Times edisi Kamis (10/5) mengatakan, tuduhan aparat AS pada anaknya tidak masuk akal. Di mata sang ibu, Muhammad adalah seorang anak yang berperilaku baik dan setiap hari aktivitasnyan hanya bekerja, tidur dan salat.

Masih menurut sang ibu, Muhammad yang berusia 22 tahun dan kelahiran Palestina itu berhenti dari kuliahnya, memilih bekerja sebagai sopir taxi dan bekerja di restoran pizza untuk membantu keluarganya membayar dua hipotik dan membantu lima saudara perempuannya.

Faten mengatakan, seperti juga kebanyakan orang, Muhammad marah jika melihat berita-berita tentang Irak dan ia menduga otoritas berwenang di AS telah salah menafsirkan komentar-komentar yang mungkin dilontarkan Faten tentang invasi AS ke Irak.

Manager restoran tempat Muhammad bekerja, Jaime Antrim, juga mengatakan bahwa Muhammad adalah orang yang berperilaku baik dan saleh. Rajin sholat dan tidak pernah melanggar apa yang dilarang dalam Islam.

“Muhammad seperti boneka teddy bear,” kata Jaime Antrim mengibaratkan kehalusan budi Muhammad.

Dari AS sampai Macedonia

Selain Muhammad, tiga orang lainnya yang ditangkap berlatar belakang Muslim dari etnis Albania. Tertangkapnya tiga orang asal Macedonia ini bukan hanya menimbulkan reaksi di AS tapi juga di tanah kelahiran mereka di Macedonia.

“Setiap orang syok,” kata Ferid Bedrolli, Imam di Albanian Islamic Cultural Center di Staten Island, tempat ketiga warga Albania itu biasa sholat sekitar akhir tahun 1990-an.

“Mereka sama sekali tidak seperti orang-orang yang jahat,” tukas Bedrolli.

Di desa Debar, dekat perbatasan Albania tempat tinggal kerabat ketiga korban penangkapan itu, suasanya tidak berbeda. Keluarga mereka kaget mendengar berita penangkapan itu.

“Saya sama sekali tidak tahu darimana datangnya semua ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya betul-betul tidak tahu,” kata Naze Duka, nenek dari salah seorang tersangka. Pasalnya, baru bulan Oktober kemarin nenek yang berusia 89 tahun ini menengok cucu-cucu dan anak-anak lelakinya di New Jersey.

Anak-anak Duka, yang berumur 23, 26 dan 28 tahun semuanya lahir di Debar, Macedonia dan datang ke AS secara ilegal lebih dari 10 tahun yang lalu. Seperti umumnya imigran dari etnis Albania, mereka bekerja sebagai tukang servis atap rumah atau bekerja di restoran pizza.

“Ini pasti propaganda politik. Amerika biasanya selalu membantu kita,” kata Elez Duka, sepupu para tersangka.

Ia menambahkan, hampir semua keluarganya memiliki kerabat yang tinggal di AS. “Jika orang-orang Albania secara umum pro Amerika, kami di Debar malah lebih pro Amerika dari siapapun,” imbuh Elez.

Warga Muslim lainnya yang ditangkap adalah Serdar Tatar, 23 tahun. Sama seperti yang lainnya, isteri Tatar yang asal Rusia, Khalida Mirzhyeiva tidak percaya suaminya dituduh sebagai teroris. Menurutnya, suaminya selalu sibuk bekerja untuk menghidupi keluarganya dan jarang pergi ke masjid.

“Dia berencana untuk punya anak dan keluarga yang baik,” kata Khalida dalam wawancara lewat telepon dengan bantuan terjemahan dari tetangganya.

Tatar bekerja di 7-Eleven dan baru saja diangkat menjadi manajer di jaringan restoran yang berlokasi di dekat kampus Temple University di Philadelphia.

“Dia tidak merencanakan untuk membunuh siapapun. Dia bukan teroris. Dia mengikuti ajaran agamanya, agama umat Islam dan dia tidak bisa membunuh,” kata Khalida-yang sedang mengandung anak kembar-dengan nada sedih. (ln/iol)

Iklan

Iklan

Iklan