Berita Dunia Islam Terdepan

Menjadi Anak Baik, Tidak Harus “Yes Sir”

0 2

Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi menegaskan, setelah terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia mempunyai dua kartu penting yakni merangkul negara OKI dan Gerakan Non Blok (GNB). Jika Indonesia tidak melakukan itu dengan baik maka kesempatannya menjadi anggota tidak tetap DK PBB hanya akan menjadi catatan sejarah.

Seperti diketahui tanggal 16 Oktober lalu, Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap DK PBB dalam sidang Majelis Umum PBB, dalam pemilihan itu Indonesia berhasil mengungguli negara Nepal. Peran apa yang bisa dimainkan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB, berikut ini hasil wawancara bersama Dr Muhammad Luthfi Zuhdi.

Menurut anda mampukah Indonesia memainkan peranan penting sebagai anggota tidak tetap DK PBB?

Peran itu akan menjadi penting jika Indonesia menganggap dirinya penting, dengan cara negara itu dilihat penting atau tidak dapat terlihat dari kondisi negara tersebut.

Pertama, dari segi ekonomi Indonesia bukan dianggap negara penting, tapi sedikit demi sedikit juga memperlihatkan sebagai negara yang cukup kokoh dalam bidang ekonominya walaupun baru tahap awal, contohnya Indonesia baru saja melunasi pinjaman IMF.

Yang kedua, dengan diangkatnya menjadi anggota tidak tetap DK PBB, mestinya Indonesia yang belum kokoh bisa merangkul negara lain yang mempunyai kepentingan hampir sama, misalnya negara-negara OKI, kemudian negara GNB. Seperti diketahui saat ini negara non blok tidak ada suaranya sama sekali, namun untuk negara OKI saat ini memang suaranya agak lantang karena memang kebetulan ketuanya Malaysia.

Nah bagaimana Indonesia bisa menggandeng Malaysia yang cukup vokal, tapi jangan terbawa oleh Iran, karena akan face to face dengan negara Barat. Saya kira ini tidak menguntungkan juga, jadi sebenarnya Indonesia mempunyai beberapa kartu untuk melakukan sesuatu dialog Internasional.

Apakah kartu-kartu itu?

Pertama, adakan dialog dengan anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang ketuanya adalah Malaysia, yang serumpun dengan Indonesia, sehingga kita lebih bisa bermain dengan mereka. Sebab ketika ketuanya orang Arab, atau negara lain ini agak lebih sulit. Kemudian sebagai salah satu pendiri negara Gerakan Non Blok, saya rasa Indonesia juga perlu lebih mengaktifkan partisipasinya, karena belakangan ini GNB tidak ada suaranya sama sekali.

Bagaimana Indonesia bisa berperan dalam proses pengambilan keputusan di DK PBB, yang biasa didominasi oleh lima anggota tetap DK PBB?

Memang mereka pada umumnya mempunyai kepentingan yang berbeda, kecuali untuk hal-hal yang mereka anggap sepakat, seperti kasus Korea Utara, kelima negara pemilik veto ini sepakat untuk melakukan tindakan terhadap Korea Utara, tapi untuk kasus Iran mereka masih tarik menarik. Sebetulnya Indonesia perlu berperan di sini, katakanlah dalam kasus Palestina, di sini Indonesia perlu menggalang suatu kekuatan untuk mendukung rakyat yang tertindas, jadi cela-celah itu ada meski itu tipis sekali. Tentu di sini Indonesia perlu mendayung dua pulau, seperti apa yang diutarakan Pak Hatta, kalau dulu pulaunya kekuatan AS dan Rusia, kalau sekarang permasalahan Barat dan non Barat. Kadang-kadang di Barat itu juga ada perbedaan seperti misalnya Perancis dan AS, tapi yang lebih menonjol mungkin antara China dan Rusia. Dalam kondisi ini, Indonesia perlu melihat permasalahan lebih mendukung problematika masyarakat luas.

Bagaimana Indonesia bisa menjembatani antara kepentingan Barat dan non Barat dalam posisinya sebagai anggota tidak tetap DK PBB?

Seharusnya Indonesia mempunyai peran dalam hal itu, karena saya lihat negara Arab kelihatannya sudah berpihak sendiri, meskipun dia tidak terlalu mendukung Iran. Saya kira posisi Indonesia masih sangat netral. Jadi masih memungkinkan, tapi Indonesia perlu belajar menempatkan diri sebagai penengah yang bijak.

Bagaimana Indonesia bisa diperhatikan, kalau Indonesia cuma datang “tanpa senjata”, artinya tanpa mengajak teman, sepertinya akan kurang diperhatikan karena posisi Indonesia belum layak diperhatikan. Tetapi kalau usulan kita, pemikiran kita dan politik yang kita ajukan didukung negara non blok dan OkI, saya kira kita mempunyai makna tersendiri.

Artinya peluang ini harus cepat-cepat dimanfaatkan oleh Indonesia, karena telah menjadi anggota tidak tetap DK PBB. Itu tidak memakan waktu yang lama, sangat pendek, kalau Indonesia bisa memanfaatkan itu sebagai titik poin, itu bisa menaikan rating Indonesia dimata dunia.

Menurut pandangan anda, faktor apa yang menonjol sehingga Indonesia bisa terpilih sebagai anggota tidak tetap DK PBB, apakah karena Indonesia termasuk negara yang ‘patuh’?

Saya kira yang patuh lebih dari pada Indonesia banyak ya, bukan Indonesia saja paling terpatuh, tapi memang Indonesia law profile, itu mungkin lebih tepat. Dan selama ini kelihatannya Indonesia tidak ada masalah dengan AS. Dan dalam pemilihan itu ada kecenderungan AS lebih menentukan, tetapi apapun alasannya Indonesia sudah terpilih, dan momentum ini harus dimanfaatkan secara baik oleh Indonesia, artinya meskipun katakanlah ini karena AS, meski kita belum sepakat dengan itu, sebaiknya Indonesia manfaatkan ini sebaik-baiknya.

Ada rencana Presiden AS akan datang ke Indonesia, bagaimana Indonesia seharusnya memanfaatkan momentum ini?

Menurut saya, manjadi anak yang baik, tidak harus “yes sir”, anak yang baik itu adalah yang kritis juga terhadap orang tuanya. Saya kira pemerintah Indonesia jangan memperlihatkan, bahwa kita tidak punya pendapat sama sekali. Justru ketika AS datang kemari, Indonesia bisa menyampaikan nilai-nilai yang perlu disampaikan kepada AS. Dalam artian Indonesia perlu menyampaikan pendapat-pendapatnya sesuai dengan hati nurani dan kepentingan masyarakat banyak.

Mengenai lobi terhadap proses perdamaian di Palestina, apa yang seharusnya Indonesia tekankan pada saat menjalankan jabatannya anggota tidak tetap DK PBB?

Ya saya kira pertama masing-masing pihak harus bisa memahami diri dan keputusan yang dikeluarkan DK PBB dan dengan sanksi tentunya. Selama ini, serangan datang dari beberapa pihak tertentu, yang paling menonjol dari Israel sendri.

Sehingga Indonesia mesti memberikan peran yang lebih mendalam dan memberikan catatan-catatan penting dengan fakta-fakta, bukan cuma dengan rasa emosional, tapi mencontohkan fakta yang telah dilakukan oleh Israel seperti ini, sudah melanggar, namun jika ada yang lain yang melanggar perlu diungkapkan faktanya juga, sehingga terlihat adil dalm penyelesaian semuanya, dan Indonesia perlu menyampaikan semua ketetapan itu kepada seluruh anggota DK PBB.

Kongkritnya seperti apa?

Penyerangan terakhir Israel terhadap Palestina yang sudah menewaskan beberapa orang di sana, saya kira itu adalah tindakan sepihak yang cuma menduga-duga akan terjadi penyerangan, kemudian justru Israel melakukan pengeboman, tapi sudah beberapa kali tidak ada penyelesaian secara hukum internasional di situ.

Apakah Indonesia perlu memberikan tekanan agar Israel diberikan sanksi?

Ya, saya kira sanksi itu bisa muncul kemudian, tapi DK PBB harus mengambil tindakan tegas kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik. Kuncinya di sini adalah ketegasan itu adalah suatu kejelasan hukum dengan suau aturan tertentu, ketegasan itu bisa dalam bentuk gencatan senjata. Apabila ada yang mendahului harus ada tindakan hukum misalnya larangan mengimpor senjata atau hukum lainnya.

Apakah anda optimis Indonesia mempunyai kemampuan itu?

Saya masih melihat 50 persen, 50 persen. Kalau Indonesia bisa memanfaatkan kartu-kartu, saya optimis, tapi kalau tidak kemungkinan waktu akan hilang begitu saja. Dan Indonesia hanyaakan ada dalam catatan sejarah saja, pernah menjadi anggota tidak tetap DK PBB, cuma begitu saja. (novel)

Baca artikel lainnya...