Oleh : Afandi Satya .K

Rabu, 13 Agustus 2013. Hari raya baru berlalu tujuh hari, namun langit kelabu semakin bergelayut di Mesir. Di Rab’a al Adawiya, Junta militer Mesir kembali menunjukkan kebiadabannya dengan menembaki para demonstran pendukung mantan presiden sah Mesir yang terkudeta, Muhammad Mursi secara membabi-buta.

Beberapa aktivis melalui media sosial juga memposting foto buldoser dan kendaraan lapis baja, serta puluhan sniper yang bertebaran di bangunan-bangunan yang ada disekitar lokasi demonstrasi seperti hotel Nasr dan bangunan  lainnya.

Suasana semakin kacau, helikopter menjatuhkan gas racun, sementara itu tembakan peluru tajam dari senapan otomatis tak henti-hentinya memburu para demonstran yang seluruhnya adalah warga sipil yang tak bersenjata. Kantor berita Skynews melaporkan pada tanggal 13 Agustus 2013 dari kamp Rab’a bahwa serangan itu merupakan serangan berat dan merupakan serangan militer besar-besaran terhadap warga sipil yang tak bersenjata.

Hasilnya, 500 orang demonstran syahid, 2000 lebih mengalami luka- luka. Angka yang tak kalah mengejutkan adalah banyaknya korban yang syahid dalam sehari di Rumah Sakit Rab’a sebanyak lebih dari 300 orang dan jumlah luka-luka sebanyak 800 orang. Situs berita IkhwanOnline melaporkan jumlah korban yang lebih mengejutkan.

Sejak Presiden Mursi dikudeta, tepatnya sejak para pendukung Muhammad Mursi melakukan demonstrasi damai, junta militer Mesir telah membunuh lebih dari 800 orang dan melukai lebih dari 20.000 demonstran yang seluruhnya adalah warga sipil. Angka berikut adalah jumlah yang dapat dihitung di kawasan konsentrasi massa pendukung Mursi di Rab’a al Adawiya.

Sementara itu di tempat konsentrasi lainnya seperti Buhaira, Nahdaa dan lainnya, jumlah korban yang dibantai juga tak kalah sedikit. Di Assyut aparat kepolisian membakar sebuah pabrik roti yang tidak jauh dari tempat para demonstran.  

Harian The Guardian pada tanggal 14 Agustus 2013 mengabarkan bahwa rumah sakit di kawasan kejadian tak mampu menampung jumlah korban yang terus berdatangan. Selain itu para dokter yang bekerja disana di ancam oleh polisi dan militer untuk tidak mengobati para demonstran damai yang terluka.

Rashad News bahkan memberitakan bahwa para polisi dan tentara telah membakar gedung RS Rab’a al Adawiya pada rabu sore yang menyebabkan jenazah korban tewas didalam rumah sakit tersebut juga ikut terbakar. Akibatnya rumah sakit darurat dibuat dipinggir-pinggir jalan dan masjid-masjid yang tak berselang lama menjadi tempat meregang nyawa warga sipil yang kebanyakan ditembak di kepala.

Mu’az Asraaf, seorang mahasiswa yang turut membantu korban luka mengatakan, “saya telah membawa banyak orang. Beberapa dari mereka meninggal, di antaranya ada yang ditembak di kepala. Tengkoraknya terbuka.” Asraaf lalu menunjuk kemeja warna abu-abu yang dikenakannya.  “Ini adalah bekas otak mereka yang menempel”.

Korban terus berjatuhan, kali ini peristiwa genosida Tiananmen terjadi di Rab’aa al Adawiya, sejauh artikel ini ditulis (14 Agustus 2013) jumlah korban syahid bertambah secara drastis menjadi 2.200 jiwa yang terdiri dari orangtua, pemuda, wanita, anak-anak, dan bahkan para wartawan.

Di Rab’a, Habiba Abdulaziz, wartawan dari The Express & Gulf News, menyusul puluhan wartawan lainnya yang telah tewas meregang nyawa ditembak peluru militer. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.

Sejatinya, bencana ini bukan saja bencana lokal yang terjadi di Mesir. Bahkan, bencana ini adalah bencana seluruh ummat Islam yang masih terluka disana sini. Luka pembantaian di Suriah belum berhenti, begitupula luka di Myanmar, Kashmir, serta luka-luka yang menganga akibat pembantaian besar-besaran yang dilakukan terhadap kaum muslimin.

Sementara itu, anehnya elit dan petinggi negeri ini masih diam membisu, tanpa mengutuk atau memberikan sebuah pernyataan yang sekalipun secara riil tidak membantu ummat Islam di Mesir, pernyataan tersebut diharapkan mampu memotivasi dan memperbaiki moral ummat Islam Mesir yang sedang terpuruk karena dikhianati dan dibantai oleh negaranya sendiri, atau setidaknya mengobati perihnya hati kaum muslimin yang hanya bisa menatap pembantaian tersebut dari jauh.

Nyatanya, Presiden Republik Indonesia hanya diam membisu, menutup telinga, menutup mata dan terkesan melupakan sejarah panjang kemerdekaan Indonesia.

66 tahun yang lalu, tepatnya pada  10 Juni 1947, Mesir melalui perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir secara de jure mengakui kemerdekaan dan kedudukan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Kala itu, Mesir merupakan negara pertama yang memberikan dukungan dan pengakuan kedaulatan Indonesia secara sah melalui dokumen tertulis setelah sebelumnya Palestina melalui Mufti Muhammad Amin al Husaini pada tanggal 6 September 1944, mengucapkan ucapan selamat dan dukungan atas kemerdekaan Indonesia melalui Radio Berlin di Jerman yang kemudian berita tersebut disiarkan selama dua hari berturut-turut dan mulai disebarluaskan.

Mesir kala itu telah memberikan dukungannya secara penuh terhadap kemerdekaan Indonesia setelah empat orang delegasi Indonesia yang terdiri dari M. Natsir, Prof. Dr. H.M Rasyidi, Mr Nazir, dan AS Baswedan selama tiga bulan bernegoisasi menggalang dukungan dari kalangan pejabat pemerintahan Mesir sampai akhirnya Raja Farouk memberikan pengakuan resmi kedaulatan Indonesia.

Mungkin senada dengan pernyataan Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute dalam sebuah artikelnya bahwa menyebut dukungan Mesir terhadap Indonesia sebagai dukungan Ikhwanul Muslimin adalah upaya penyempitan fakta yang fatal.

Mesir sebagai sebuah Negara dengan 84 juta penduduknya tentu berbeda dengan IM sebagai sebuah entitas organisasi yang pada masa itu beranggotakan lebih dari 500.000 orang meski kedua-duanya memberikan dukungan yang cukup kuat terhadap kemerdekaan Indonesia. Kita perlu membedah lagi konsep penyempitan fakta bahwa dukungan Mesir pada saat itu adalah dukungan IM. Mesir ya Mesir, dan IM ya IM. Dua-duanya berbeda dan dua-duanya tak sama.

Terlepas dari masalah itu, Indonesia sangat berhutang kepada dua elemen ini, sehingga dirasa sangat pantas dan bahkan merupakan keharusan bagi Indonesia untuk turut dalam proses rekonsiliasi dan penyelesaian masalah yang timbul terhadap salah satu atau kedua elemen tersebut.

Sebagai Presiden Indonesia, SBY yang merupakan mantan figur “sang jendral” juga berada di pihak Jendral as Sisi yang tak lain adalah seorang teroris tulen yang menjadi dalang daripada genosida yang sedang terjadi di Mesir? Hanya Allah yang tahu, tapi setidaknya sikap SBY menunjukkan bahwa ia memang berada di posisi itu.

Sejauh ini, kita tidak berandai-andai dan hanya menuduh sang presiden tanpa alasan yang jelas. Ketika Turki, Jerman dan Inggris secara kenegaraan telah mengecam kudeta yang terjadi pada Presiden Muhammad Mursi, pemerintah Indonesia masih diam tanpa mengeluarkan suatu pernyataan resmi sedikitpun. Ada apa dengan Indonesia?

Rupa-rupanya pemerintah telah menampakkan suatu sikap pro terhadap kudeta yang terjadi di Mesir yang menjadi langkah awal daripada pembantaian-pembantaian massal terhadap kaum muslimin di Rab’a, Nahdah dan tempat konsentrasi massa pendukung Presiden Mursi yang lain.

Meski tak secara langsung menggeneralisir bahwa jajaran di bawah kepresidenan turut mendukung, preseden yang diciptakan oleh SBY sangat berakibat buruk terhadap posisi Indonesia dimata internasional, terlebih dunia Islam dan Mesir sendiri secara khusus.

Alih-alih membuat pernyataan resmi kenegaraan, pada tanggal 28 Juli 2013, sang presiden malah membuat pernyataan yang secara tidak langsung menunjukkan keberpihakannya pada militer Mesir. SBY meminta agar PBB menangani krisis yang terjadi dan menghimbau kepada para warga negara Indonesia yang berada di Mesir untuk tidak turut campur tangan dalam konflik tersebut.

Itupun pernyataan pribadi yang bersifat individu dan parsial karena hanya melalui jejaring sosial bernama twitter. Bukan pernyataan resmi kenegaraan yang benar-benar serius menyatakan posisi Indonesia secara jelas pada masalah demokrasi yang terjadi di Mesir.

Juru bicara presiden, Julian Adrian Pasha pada tanggal 4 Juli 2013 mengatakan bahwa setelah diminta pandangannya oleh Obama dan Hilary Clinton, presiden memberi pertimbangan antara lain peranan militer yang tepat dan proporsional bisa mendukung demokrasi yang aman dan terkendali. Hal yang demikian secara jelas menununjukkan bahwa demokrasi yang diingini SBY sebagaimana yang diinginkan oleh Amerika Serikat.

Di lain hal, SBY menunjukkan kemunafikan sebagai seorang pemimpin negara yang tak henti-hentinya berkoar dan mengajak manusia memilih demokrasi. Indonesia sebagai penggagas dan tuan rumah BDF (Bali Democracy Forum) yang diikuti oleh 20 Negara dan telah berjalan sejak Desember 2008 sebenarnya memiliki posisi yang cukup penting dalam memainkan opini tentang demokrasi. Tapi pemerintah Indonesia diam dan tetap dalam kemunafikannya.

Mahfudh Siddiq, ketua komisi 1 DPR RI menyebutkan bahwa kudeta dan peristiwa yang terjadi di Mesir merupakan titik nadir demokrasi di Mesir. Siapapun tahu bahwa dalam demokrasi, seorang yang telah terpilih secara adil dan transparan berhak menyelesaikan kekuasaannya sebagai konsekuensi dan pertanggungjawaban dari pilihan rakyat itu sendiri.

Yang terjadi di Mesir pun begitu, hanya saja ketika kudeta telah berjalan, negara-negara penggiat demokrasi mulai memakai topeng, mengkhianati prinsip-prinsip demokrasi yang ia seru siang dan malam setiap hari. Negara-negara ini seperti mengatakan bahwa tak ada tempat untuk Islam dalam demokrasi, sekalipun mereka terpilih secara benar dan sah.

Memang benar kata-kata penyeru demokrasi ini bahwa tidak ada tempat untuk Islam di dalamnya.  Namun, sayangnya ummat Islam tertipu dengan janji manis demokrasi yang mendahulukan keputusan rakyat daripada keputusan Tuhan. Ketika kudeta telah terjadi, Syaikh Muhammad Az Zawahiri, yang merupakan pemimpin mujahidin di kawasan Sinai menyeru kepada rakyat Mesir untuk melawan As Sisi sebelum mereka lebih dahulu dibantai oleh militer Mesir.

Sayangnya para pendukung Presiden Mursi menolak, hingga terjadinya pembantaian pada para demonstran kemarin. Sebetulnya alasan Syaikh Muhammad melawan as Sisi dengan senjata adalah dibenarkan, baik secara syari’ah maupun secara ilmu logika. Api kudeta disulut oleh berbagai macam musuh Islam yang bersatu menjatuhkan pemerintahan Mursi yang tegas untuk merubah sistem dan mencopoti pejabat-pejabat korup yang membuat Mesir terpuruk.

Syi’ah, Kristen Koptik, kaum Sekuler, kaum Liberal bersatu di bawah kepemimpinan El Baradei yang mengaku berkeyakinan Syi’ah. Maka mengapa kaum muslimin masih berpecah belah ketika musuh mereka bersatu? Mengapa kita tetap saling disibukkan mencela harokah lain ketika faktanya mereka adalah saudara kita?

As Sisi adalah bughot dan pasukannya adalah para pemberontak yang wajib diperangi jika melihat dari kacamata kaum muslimin yang menganggap bahwa Mursi adalah Ulil Amri. Sedangkan pada kacamata syari’ah, wajib melakukan qishash pada para pembunuh.

Dua ribu kaum muslimin telah tertumpah sia-sia. Menunggu tindakan Indonesia yang telah lupa sejarah, sungguh alangkah naifnya. Bisa-bisa kaum muslimin Mesir tak tersisa satu pun kecuali jasad yang penuh luka tembak.

Sejak IM didirikan, permusuhan oleh musuh-musuh Islam begitu kuat dan tak ada hentinya meski tokoh-tokoh IM telah berhasil mereka bunuh satu demi satu.

Sampai kapankah kaum muslimin Mesir bersabar terhadap kedzaliman fir’aun yang kembali hidup?  Akankah demonstran beralih menyambut seruan Syaikh Muhammad Az Zawahiri? Allahu a’lam.

Topik: , , ,