SOLO (Arrahmah.com) – Direktur Magister Program Pasca Sarjana Pemikiran Islam di universitas Muhammadiyah Solo (UMS) DR. Mu’inudinillah Bashri, MA menuturkan keprihatinannya perihal banyaknya dosen atau pengajar di UMS Solo yang terjangkit pemikiran orientalis.

“Sangat disayangkan perguruan tinggi sekelas Muhammadiyah yang cukup ternama itu dengan slogannya “Wacana Keislaman Dan Keilmuan”, ternyata para pengajarnya justru terjangkit pemikiran orientalis,” Kata pria yang akrab dipanggil Ustadz Muin saat di temui selepas mengisi Seminar Nasional bertajuk “Wujudkan Ramadhan Tahun Ini Sebagai Titik Awal Kebangkitan Islam Melawan Orientalisme Barat”  di Auditorium Muh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang di gagas oleh Jama’ah Masjid Fadhlurrohman (JMF) UMS Solo, Minggu, pagi (22/7).

Lanjut Ustadz Muin, hal tersebut terjadi disebabkan oleh penyaringan yang kurang selektif dalam menerima para dosen dan pengajar.

“Ya, dulu karena awal saringannya kurang kuat, maka setelah kita diagnosa karena saringannya kurang kuat maka kedepan saringan ideologis (keislaman) itu harus di perketat” ujarnya.

Dia menambahkan, bahwa pentingnya peran pembinaan dan kontrol dari institusi Muhammadiyah juga perlu dibangun, selain itu ideologi Muhammadiah menjadi suatu komitmen dalam menghadapi masalah ini.

“Rasa memiliki itu penting, kalau kita disini (UMS-red) dengan ingkarus sunah kok gak punya resistensi berarti  intima (komitmen) kita terhadap lembaga ini kurang. Dan dari pimpinan Muhammadiyah sendiri belum terlihat gregetnya dalam masalah ini”, ungkap Ustadz yang juga memimpin ormas Fujamas Solo ini.

Ustadz Muin membenarkan bahwa terdapat “kurikulum pesanan” sebagai salah satu pintu masuknya pemikiran orientalis.

 “Misalnya metode studi Islam yang pengajarannya malah selain dakwah Islam yang notabenya menjadi salah satu penyebab diminatinya pemikiran orientalis,”sebutnya.

Ustadz Muin berpendapat, bahwa akademisi yang tidak memiliki dan memahami ajaran Islam secara baik dan benar, akan sangat mudah terkena “virus” orientalis tersebut. “Dan jika hal ini terjadi, maka orang awam pun akan dengan gampang mengikutinya,” tuturnya.

Tambahnya, penanggulangan orientalisme di UMS Solo merupakan hal yang penting dan perlu menjadi suatu kebijakan serta perhatian serius. Sebab, dengan hal itu akan melahirkan kesadaran bersama.

“Keterikatan terhadap Islam dan ideology Muhammadiyah lah yang dapat menjadi orisinilitas pemikiran islam dan visi misi Muhammadiyah di perguruan tinggi tersebut,”jelas ustadz Muin.

Sebagaimana diketahui, bahwa sekitar tahun 2007 di UMS Solo pernah terjadi kasus pelecehan simbol-simbol agama Islam yang dilakukan oleh salah satu dosennya yang bernama Ma’arif Jamu’in. Pada saat itu Jamu’in melecehkan salah seorang mahasiswi yang bercadar dengan mengatakan bahwa wanita bercadar adalah wanita yang bodoh dan pantasnya itu masuk program Fakultas Agama Islam (FAI) UMS Solo saja. (bilal/FAI/arrahmah.com)

Topik: , ,