(Arrahmah.com) – Anshar Syari’ah, atau sering dikenal dengan sebutan AQAP, telah menguasai propinsi Abyan dan menegakkan syariah Islam di sana. Sampai saat ini mereka masih ‘dikeroyok’oleh rezim boneka sekuler Yaman dan Arab Saudi, bombardir pesawat militer AS dan Perancis, serta milisi Syi’ah Hautsi dukungan Iran dan Rusia.

Massifnya serangan segitiga musuh dan sulitnya akses media massa Islam ke wilayah pertempuran di propinsi Abyan, membuat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tidak banyak mengetahui kondisi terkini gerakan Anshar Syari’ah. Tak terkecuali para ulama dan mujahidin di luar Yaman pun kebingungan membaca situasi sebenarnya jihad dan revolusi di Yaman.

Untuk itu salah seorang mujahid Al-Qaeda yang berperang di garis depan pertempuran di propinsi Abyan, Abu Waqar al-Yamani, menerangkan realita jihad di Abyan kepada gurunya, syaikh Abu Bashir ath-Tharthusyi. Abu Waqar al-Yamani pernah menjadi murid saat syaikh Abu Bashir ath-Tharthusyi mengajar di Ma’had Ibnu Amir ash-Shan’ani dan Markaz ad-Da’wah al-Ilmi, Shan’a 17 tahun silam. Tulisan Abu Waqar al-Yamani dimuat oleh situs as-anshar.com dengan judul Halla taraktum lii syaikhana Aba Bashir ath-Tharthusi, dan situs arrahmah.com mengalih bahasakannya untuk para pembaca.

***

Kenapa mujahidin melaksanakan operasi istisyhadiyah?

Mujahidin Anshar Syari’ah Yaman berpendapat operasi istisyhadiyah boleh dilakukan dalam kondisi darurat, setelah memenuhi beberapa syarat tertentu. Dalam prakteknya, para komandan dan ulama mujahidin Anshar Syari’ah Yaman memberi arahan tidak boleh seorang anggotanya melakukan operasi istisyhadiyah kecuali;

a. Sarana-sarana lain untuk memukul musuh tidak berhasil atau tidak ada, dan hanya tersisa pilihan operasi istisyhadiyah.

b. atau target operasi istisyhadiyah merealisasikan maslahat yang sangat besar, atau mampu untuk menolak serangan musuh, atau menghantam komandan penting musuh yang mengendalikan jalannya peperangan.

Seluruh atau mayoritas operasi istisyhadiyah yang dilakukan oleh mujahidin Anshar Syari’ah adalah dalam posisi menahan serangan musuh atau mendahului pergerakan musuh yang tengah menyiapkan operasi besar terhadap posisi-posisi mujahidin. Sebagian besar serangan musuh tersebut tidak bisa ditahan dan dipukul mundur kecuali dengan operasi istisyhadiyah.

Tercatat, operasi istisyhadiyah pertama kali dilakukan oleh mujahidin Anshar Syari’ah saat pasukan besar militer rezim boneka Yaman menyerbu wilayah Maudiya, bulan Dzulqa’dah 1430 H. Saat itu pasukan rezim boneka Yaman hampir saja menduduki dan mengobrak-abrik rumah-rumah penduduk, sebelum operasi istisyhadiyah membunuh banyak tentara mereka dan memukul mereka mundur. Akhirnya penduduk sipil muslim di Maudiya terselamatkan.

Operasi istisyhadiyah kedua terjadi saat pasukan besar militer rezim boneka Yaman menyerang posisi mujahidin di front Daufas, bulan Rajab 1432 H. Serangan dilakukan dengan persenjataan berat oleh jumlah tentara yang sangat besar. Untuk menahan gempuran musuh, mujahidin melaksanakan operasi istisyhadiyah yang menewaskan beberapa perwira tinggi, komandan penting, dan banyak tentara musuh. Moral tentara musuh runtuh, sehingga mereka berhasil dipukul mundur dan moral mujahidin pun meningkat.

Operasi istisyhadiyah ketiga terjadi pada bulan Rajab 1432 H juga, ketika militer dalam jumlah sangat besar dikerahkan untuk memberangus ribuan demonstran sipil muslim di kota Jaulah, propinsi Abyan. Keganasan pihak militer rezim boneka Yaman terhadap para warga yang berdemonstrasi mengakibatkan korban besar di pihak warga, termasuk gugurnya seorang pimpinan demonstran. Untuk membela ribuan demonstran yang tertindas tersebut, mujahidin melaksanakan operasi istisyhadiyah. Hasilnya, pihak militer mendapat pukulan mental dan kerugian materi yang besar dengan tewasnya banyak tentara mereka. Ribuan warga kota Jaulah menyambut gembira aksi pembelaan mujahidin tersebut.

Peristiwa itu disusul oleh operasi istisyhadiyah keempat, di mana mujahidin mendahului pergerakan besar pasukan militer boneka Yaman yang hendak menyerbu kembali front Daufas. Saat pihak militer tengah menyiapkan pasukannya ke propinsi Abyan, operasi istisyhadiyah yang dilakukan mujahidin berhasil menghancurkan tank-tank musuh dan membunuh banyak tentara mereka. Seandainya operasi istisyhadiyah tidak dilakukan, akan jatuh korban yang sangat besar di pihak mujahidin karena tidak adanya perimbangan kekuatan, personil, dan persenjataan di antara kedua belah pihak.

Operasi istisyhadiyah kelima dan keenam dilakukan oleh mujahidin karena beberapa pemimpin suku dan anggota suku bersekongkol dengan AS, Perancis, dan rezim boneka Yaman membunuh mujahidin di wilayah Abyan. Mujahidin terpaksa melakukan kedua operasi istisyhadiyah tersebut sehingga para pemimpin suku dan anggota suku yang melakukan maker berhasil diberi pelajaran dan tidak berani mengulangi kejahatannya.

Tentara thagut Yaman

Operasi istisyhadiyah yang ketujuh pada dasarnya menargetkan sebuah ‘target besar’. Pada hari yang telah ditentukan, ternyata ‘target besar’ tidak berada di daerah sasaran operasi. Akhirnya ikhwan pelaku operasi mengalihkan operasinya dengan menghantam sebuah kantor dinas intelijen.

Operasi istisyhadiyah kedelapan dilakukan di wilayah ‘Alam, tanggal 3 Syawwal 1432 H. Target yang dihantam adalah sebuah kamp militer, di mana menjadi pusat komando pengendalian militer, pusat komunikasi, dan markas bantuan militer yang diberangkatkan untuk menyerang posisi mujahidin di front Daufas. Target berhasil dihantam dan musuh mengalami kerugian yang sangat besar. Sebuah operasi lain pada waktu bersamaan ditujukan terhadap mentri pertahanan rezim Yaman yang selama ini mengendalikan operasi militer terhadap mujahidin di wilayah Wakrah, propinsi Abyan. Sayang, mentri tersebut lolos dari maut.

Pergantian kepemimpin dari rezim Ali Shalih kepada penggantinya yang direstui oleh AS dan Perancis, Abdu Rabbih Manshur Hadi tidaklah mengendorkan sedikit pun serangan militer rezim Yaman dukungan AS dan Perancis terhadap posisi mujahidin. Konspirasi nasional, bahkan internasional, telah melibatkan Yaman, Arab Saudi, AS, Perancis, Iran, dan Rusia. Negara-negara tersebut telah bersekongkol untuk membasmi mujahidin.

Tidak mungkin lagi bagi mujahidin untuk menghadapi persekongkolan mereka dengan cara-cara tradisional. Untuk memukul mundur serangan musuh dan mendahului serangan mereka, mujahidin kembali melancarkan operasi istisyhadiyah terhadap markas pasukan Garda Republik Yaman di wilayah Mukla dan Baidha’. Semua operasi istisyhadiyah ditujukan terhadap target militer dan intelijen musuh.

Mujahidin Anshar Al Sharia (AQAP)

Inilah operasi-operasi istisyhadiyah yang dilakukan oleh mujahidin Anshar Syari’ah Yaman. Para ulama dan komandan mujahidinlah yang mengambil keputusan untuk menggunakan taktik ini dalam sebagian keadaan, karena tuntutan kondisi; memukul mundur serangan besar musuh atau mendahului serangan mereka. Para ulama dan komandan mujahidin pula yang mengawasi dan mengarahkan detail-detail operasi istisyhadiyah.

Operasi-operasi istisyhadiyah baru dilakukan oleh mujahidin ketika tidak ada sarana lain untuk menolak keganasan serangan musuh, atau ada taktik lain namun sangat berat dilakukan, atau kemungkinan besar taktik lain tersebut menimbulkan kerugian besar di pihak mujahidin. Dan semua operasi istisyhadiyah menargetkan sasaran militer musuh.

Itupun jumlah operasi istisyhadiyah yang mereka lakukan bisa dihitung dengan jari, dibandingkan dengan ganas dan massifnya serangan pesawat AS dan Perancis, serangan tank-tanak dan pasukan rezim boneka Yaman, dan serangan milisi Syi’ah Hautsi.

Para perwira militer AS dan Perancis menjadi instruktur dan pengendali serangan militer rezim Yaman terhadap posisi mujahidin di front Daufas. Pesawat-pesawat militer AS dan Perancis selalu mengudara untuk memata-matai dan membom mujahidin di Abyan. Rudal-rudal AS dari kapal induk AS di Laut Merah dan Samudra Hindia juga menghantam posisi-posisi mujahidin dan suku-suku muslim yang berada dalam pemerintahan mujahidin.

Selain itu, para perwira tinggi militer AS dan Inggris bergantian datang ke Aden untuk mengawasi, mengatur, dan memimpin serangan terhadap posisi-posisi mujahidin. Para perwira AS dan Inggris itu datang dari pantai-pantai Teluk Aden dan pulau-pulau Yaman yang mereka aneksasi. Inilah dia pulau Sokrates telah diduduki oleh AS, dan sebulan yang lalu kapal perang AS telah merapat di pelabuhannya.

Al-hamdulillah, beberapa hari yang lalu beberapa ikhwan kita, mujahidin Anshar Syariah, berhasil membunuh seorang perwira CIA AS, yang tengah bersembunyi dalam kendaraan militer. Para perwira militer dan intelijen AS itu hadir sebagai pelatih seperti terjadi di beberapa kamp militer milik Pasukan Khusus Yaman, Garda Republik Yaman, dan Detasemen Khusus Anti-Teror Yaman. Kamp-kamp militer inilah yang selama ini selalu dihantam oleh operasi istisyhadiyah mujahidin. Dan satuan-satuan khusus militer inilah yang selama ini selalu memberangus para demonstran dan revolusioner rakyat. Maka operasi-operasi istisyhadiyah dilakukan untuk menolak kegenasan satuan-satuan khusus militer ini.

Mengenai para ulama terkenal di Yaman yang mengetahui betul kondisi kami, terdapat beberapa ulama senior Yaman yang mendukung operasi kami. Kami akan menyebutkannya secara lebih detail apabila kami sudah memiliki kontak khusus dengan Anda. 

 

Realita tentara Yaman

Syaikh kami yang terhormat, sesungguhnya kondisi tentara Yaman bukanlah seperti yang dahulu Anda ketahui. Kondisi telah banyak berubah. Secara umum, kesatuan-kesatuan tentara Yaman saat ini terpecah menjadi beberapa kelompok:

Pertama, satuan-satuan militer yang dari dahulu sampai sekarang tetap setia dan loyal kepada  Ali Abdullah Shalih, meskipun jabatan presiden Yaman saat ini dipegang oleh Abdu Rabbih Manshur Hadi. Satuan-satuan militer inilah yang membasmi revolusi Yaman. Adapun yang satuan militer termasuk kelompok ini adalah:

1. Pasukan Garda Khusus Yaman

2. Pasukan Garda Republik Yaman.

3. Pasukan Markas Besar Keamanan Yaman.

4. Polisi Militer Yaman.

5. Pasukan Keamanan Nasional.

6. Pasukan Keamanan Politik.

7. Detasemen Khusus Anti-Teror Yaman.

8. Pasukan Kavaleri selain divisi kavaleri I.

9. Akademi Militer, Akademi Angkatan Udara, dan Akademi-akademi lainnya.

Kedua, sebagian divisi dan satuan-satuan tentara yang loyal kepada jendral Ali Muhsin, mereka mengumumkan bergabung dengan revolusi rakyat.

Semua pihak di atas, termasuk jendral Ali Muhsin dan aliansi pemimpin pemerintahan Yaman telah bersekutu dengan AS untuk memerangi mujahidin Anshar Syari’ah. Mereka telah mengumumkan hal itu, dan pengumuman tersebut ada bukti-bukti otentiknya. Pimpinan dan ketua fraksi perlemen dari Hizbul Ishlah (Partai Reformasi), Abdurrahman Ba Fadhal secara terang-terangan telah meminta kepada AS untuk melakukan intervensi militer ke Yaman guna memerangi Al-Qaeda, bahkan ia juga meminta intervensi Perancis. Jendral Ali Muhsin sendiri dalam pernyataannya pada hari Idul Fitri atau Idul Adha 1432 H yang lalu mengatakan akan memerangi Al-Qaeda.

Komandan Jihad Al Qaeda Yaman, syaikh Fahd al Qusho

Inilah pernyataan-pernyataan mereka. Bagi kami, yang perlu kami sikapi adalah realita di lapangan, bukan pernyataan-pernyataan mereka di media massa. Kami belum menjadikan satu pun dari pihak-pihak tersebut sebagai target serangan hanya atas dasar pernyataan-pernyataan mereka di media massa.

Ada sebuah divisi militer yang menurut berita mendukung revolusi, namun tidak ada bukti yang menunjukkan kebenaran berita itu. Divisi militer tersebut loyal kepada jendral Faishal Rajab. Divisi itu telah memerangi kami sejak setahun yang lalu, dengan mengambil markas besarnya di wilayah Kud, kawasan pesisir Zanjibar. Selama setahun ini kami terlibat perang melawan mereka.

Tentang Divisi 25 PIKA, pada saat mujahidin mengepung posisi mereka, mereka menyatakan kepada koran Sharq Awsath bahwa mereka tidak memihak revolusi, pun tidak memihak rezim Yaman. Mereka tidak peduli dengan kekacauan yang sedang melanda Yaman. Sebagian pihak, karena kepentingan-kepentingan politik tertentu, secara bohong menganggap Divisi 25 PIKA sebagai satuan militer yang pro revolusi.

Begitu mujahidin melepaskan pengepungan terhadap mereka, Shomali selaku komandan divisi 25 muncul di stasiun TV Yaman bersama penguasa wilayah Selatan, Mahdi Maqulah. Keduanya mengucapkan selamat atas kesuksesan palsu rezim Ali Abdullah Shalih, dan secara terus terang menyatakan loyal kepada konstitusi, dengan kata lain rezim Ali Abdullah Shalih.

 

Sikap tanzhim Al-Qaeda terhadap revolusi

Tanzhim Al-Qaeda memerankan dirinya sebagai pengarah, penasehat, pendukung, dan peng’Islam’ slogan, semboyan, dan arah revolusi melalui pada pendukungnya yang melakukan revolusi, dengan mempergunakan suasana yang ada untuk menyebar luaskan akidah yang benar, manhaj yang benar, dan menyambut pada pemuda revolusi di tempat-tempat mujahidin.

Hasilnya, wahai syaikh kami yang terhormat, setelah kontrol terlepas dari pemerintahan pusat di Shan’a, beberapa wilayah jatuh ke tangan beberapa pihak. Banyak daerah antara Sha’dah sampai Abyan jatuh ke tangan kelompok Syiah Hautsi, sementara daerah-daerah sisanya jatuh ke tangan suku-suku. Saat itu kami tidak berada di luar gelanggang, kami juga berusaha untuk terlibat sehingga akhirnya kami berhasil menguasai beberapa daerah. Di antaranya, sekedar sebagai contoh, adalah daerah Ja’ar —yang kami namakan Waqar (ketenangan)—, sebuah daerah yang panjangnya membentang dari Zanjibar sampai Yaramis, sekitar satu jam perjalanan dengan mobil. Lebar daerah ini membentang dari Syaqrah sampai Lujain, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil. Daerah seluas itu kami kuasai, dan kami terapkan syariat Islam sesuai kemampuan kami. Kami tidak mengklaim bebas dari kesalahan, namun cukuplah bila kami senantiasa mencari kebenaran dan bertaubat kepada Allah jika terjatuh dalam kebatilan.

Kami telah membuka pintu lebar-lebar bagi para wartawan dan media massa untuk berkunjung ke tempat-tempat kami. Para wartawan itu melaporkan sambutan hangat penduduk di daerah kami terhadap penerapan syariat Islam. Mereka merasakan kemuliaan, harga diri, dan keamanan dalam naungan hukum Islam, khususnya dibandingkan kondisi sebelum kami menguasai daerah-daerah tersebut.

Sekedar contoh, daerah Waqar ini lebih besar dan lebih luas dari kota Madinah yang diperintah oleh Rasulullah SAW. Jumlah penduduk daerah Waqar juga lebih banyak dari penduduk Madinah. Kami mengumumkan penerapan syariat Islam di daerah ini, dan kami umumkan pengingkaran kami terhadap thaghut kontemporer, yaitu undang-undang positif. Fir’aun kontemporer, AS, telah memerangi daerah ini sebagaimana dahulu Fir’aun Quraisy, Abu Jahal, memerangi kota Madinah Rasulullah SAW. AS terkadang mengalahkan kami di medan perang, dan kami terkadang mengalahkan AS di medan perang, dan kami berdoa semoga kemenangan akhirnya dikaruniakan kepada kami.

Di daerah yang kami kuasai, penduduk merasakan keamanan yang sebenarnya. Mereka merasa aman dalam mata pencaharian mereka, juga dalam agama mereka. Mereka berhukum kepada syariat Allah, dan mengumumkan pengingkarannya terhadap undang-undang positif. Tiada yang mereka takuti selain Allah SWT, kemudian pesawat-pesawat militer AS yang membombardir kami. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Ada beberapa daerah lain yang juga telah kami kuasai sepenuhnya, di antaranya kota ‘Azan dan Mahfad. Beberapa daerah yang lain belum kami kuasai sepenuhnya, namun eksistensi kami di daerah tersebut sudah kuat, seperti kota Sha’dah, Jauf, Khaulan, Ma’rib, Hadramaut, Syabwah, Wadhi’, Radda’, dan Baidha’. Di beberapa wilayah lain, kami sudah memiliki sel-sel mujahidin, seperti di Shan’a, Ta’iz, Lahaj, Dhali’, Aden, dan lain-lain. Pergerakan kami terus menuai kemajuan. Namun musuh juga mengerahkan kekuatannya secara besar-besaran, baik musuh dari dalam yaitu rezim Yaman, maupun musuh dari luar yaitu Arab Saudi dan AS yang dengan tujuan mengeluarkan kami dari daerah-daerah yang telah kami kuasai. Kami memohon kepada Allah keteguhan.

 

Problem tentara

Terhadap tentara pada satuan-satun kemiliteran di Yaman, sebelumnya kami telah mengumumkan sikap kami lebih dari sekali di media massa melalui pernyataan asy-syahid syaikh Muhammad Umair rahimahullah, di mana beliau mengatakan: “Problem kami bukanlah dengan tentara.” Dalam pengertian, jika pihak militer tidak memerangi kami terlebih dahulu, maka kami tidak akan memulai penyerangan terhadap mereka secara umum pada fase ini, dan ini merupakan sikap politik syar’i yang dituntut oleh fase ini.

Sampai saat ini, kami terus berusaha menghindari pihak-pihak yang tidak memerangi kami. Bahkan sepanjang fase yang telah lalu, kami selalu melepaskan dan memaafkan setiap tentara yang tertawan oleh kami jika ia mengumumkan bertaubat. Peristiwa itu didokumentasikan dan dipublikasikan secara luas via internet. Kecuali peristiwa terakhir di mana sekitar 73 tentara berhasil kami tawan di Abyan, kami tidak akan melepaskan mereka sampai pihak militer membebaskan ikhwan-ikhwan kami yang mereka tawan.

Marinir Amerika di Yaman

Persoalannya, tentara Yaman menjadi korban dari kepentingan partai-partai yang memenuhi ajakan AS untuk memerangi mujahidin. Sudah berapa kali tentara diajak dan dinasehati lewat brosur-brosur, buletin-buletin, kaset-kaset dan pengeras suara di tempat-tempat berlangsungnya peperangan, juga lewat dakwah secara langsung sebelum mereka dilepaskan setelah mereka menyatakan bertaubat. Hal itu terjadi berulang kali. Kami melepaskan mereka padahal mereka telah membunuh ikhwan-ikhwan terbaik kami. Ternyata sebagian mereka kembali bertugas di kesatuan militer.

Mayoritas mereka menyadari bahwa kami memerangi mereka untuk mempertahankan penerapan syariat Islam di daerah-daerah yang telah kami kuasai. Bahkan mayoritas mereka juga telah menyadari bahwa mereka berperang bersama militer AS melawan kami. Di tengah mereka juga terdapat banyak tentara yang mengusung semboyan-semboyan Syi’ah Hautsi dan memcaci maki ikhwan-ikhwan mujahidin di Zanjibar, dengan meneriakkan: “Wahai anak-anak Aisyah, wahai cucu-cucu Mu’awiyah.” Mereka meneriakkan caci makian itu dengan jiwa orang-orang Rafidhah yang keji.

Jadi persoalan tentara saat ini lebih rumit dari persoalan tentara pada masa yang telah lewat. Seperti saya katakan tadi, tentara telah menjadi korban dari perebutan kepentingan partai-partai politik dan pihak-pihak yang berusaha mencari dukungan Barat atau Iran. Hakekat peperangan melawan kami telah menjadi lebih jelas bagi mayoritas tentara, terutama pada setahun terakhir ini.

Sebagai contoh, tentara yang memerangi kami di front Zanjibar melihat dengan kedua matanya sendiri dan mendengar dengan kedua telinganya sendiri pesawat-pesawat militer AS membombardir kami. Tentara menembaki kami dengan meriam-meriam setelah mendapat informasi dari pesawat-pesawat mata-mata AS. Hal itu diakui sendiri oleh komandan Divisi 25 Mika, jendral Shomali, dalams sebuah wawancara dengan wartawan Barat, dalam sebuah film dokumenter yang ditayangkan oleh stasiun TV Al-Jazera dalam edisi bahasa Inggris.

Tentara yang berperang bersama Pasukan Garda Republik atau Pasukan Markas Besar Keamanan mengetahui benar, tanpa sedikit pun ada keraguan, bahwa kesatuan militer tempat ia bertugas merupakan kesatuan yang membasmi rakyat dan membunuh para revolusioner, seperti terjadi di wilayah Arhab, Nahm, dan Ta’iz. Tentara tersebut juga mengetahui sepenuhnya sejauh mana keterlibatan perwira tinggi militer AS dalam melatih dan mengomandoi kesatuan-kesatuan militer tempat ia bertugas. Contoh-contoh ini sudah cukup untuk menegaskan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi waktu-waktu yang telah lewat, kini persoalannya sudah sangat jelas.

Wahai syaikh kami yang terhormat, saat ini negeri ini tengah melalui lorong-lorong yang gelap dan kesudahan nasibnya juga belum diketahui. Ada tiga pihak yang terlibat peperangan di negeri ini.

Pertama, pihak yang mengikuti pihak Timur, Iran dan Rusia. Mereka adalah orang-orang sosialis dan Syiah Hautsi. Tadi sudah saya sebutkan kepada Anda bahwa orang-orang Syi’ah Hautsi berada dalam tentara rezim Yaman yang memerangi kami di wilayah Abyan.

Kedua, pihak yang mengikuti AS, yaitu rezim demokrasi Yaman yang semua orang dekat maupun jauh telah mengetahui betapa jauhnya rezim ini telah menjadi antek dan boneka Barat.

Ketiga, pihak yang menyatakan berlepas diri dari segala hal yang menyelisihi dien Allah, merekalah ikhwan-ikhwan Anda, mujahidin Anshar Syariah.

Milisi Syiah Hautsi bekerja siang dan malam, bersama pihak rezim maupun pihak oposisi, untuk menguasai daerah-daerah ahlus sunnah. Banyak pimpinan Partai Permusyawaratan Rakyat dan pimpinan Partai Pergerakan yang bergabung dengan milisi Syiah Hautsi. Hal yang mengherankan, banyak ulama yang menutup mata dari kejahatan dan konspirasi milisi Syiah Hautsi, atas nama menjaga perdamaian dan khawatir terjadi fitnah.

Pembantaian Syiah Hautsi terhadap ahlus sunnah semakin marak terjadi, terutama di wilayah Hajjah, tanpa ada yang mempedulikannya. Kesuksesan militer Yaman hanyalah menyerahkan sebagian wilayah dan kepemimpinan sebagian satuan militer kepada milisi Syiah Hautsi dengan sukarela dan kelegaan hati. Dan bencana besar adalah bersatunya kelompok sosialis dengan milisi Syiah Hautsi, sesuai perjanjian kerjasama Iran-Rusia.

 

Realita para ulama Yaman

Syaikh kami yang terhormat, para ulama Yaman bisa diklasifikasikan dalam tiga kelompok.

Pertama, para ulama dari aliran ahlus sunnah. Mereka terdiri dari beberapa pihak:

a. Para ulama ahlus sunnah yang mendukung jihad dan penerapan syariat Islam yang telah kami lakukan, namun mereka tidak ingin sosok mereka diangkat oleh media massa. Kami senantiasa menjalin komunikasi, korespondensi, dan nasehat-menasehati dengan mereka.

b. Para ulama ahlus sunnah yang sampai saat ini masih mengakui penguasa sekuler Yaman sebagai penguasa mereka, bahkan lebih parah dari itu mereka mengakui kepemimpinan kelompok Rafidhah Syiah Hautsi di wilayah Sha’dah. Mereka adalah syaikh Yahya al-Hajuri dan para pengikutnya.

c. Syaikh Abdurrahman al-Adni, syaikh Muhammad al-Imam, dan para pengikutnya. Semula mereka adalah para pengikut syaikh Yahya al-Hajuri, namun kemudian berbeda pendapat dalam beberapa hal dengan syaikh Yahya al-Hajuri dan memisahkan diri darinya.

d. Para pengurus dan pengikut Yayasan sosial Al-Ihsan dan Al-Hikmah yang Anda dahulu telah mengenal mereka. Kini keadaan mereka telah berubah, di mana mereka sedang berusaha membuat sebuah partai politik dan berjuang lewat kancah demokrasi, kecuali guru kita syaikh Abdul Majid ar-Rimi dan murid-muridnya. Semoga Allah meneguhkan beliau. Sedangkan para murid syaikh Abul Hasan memiliki manhaj yang tidak jauh berbeda dengan Yayasan.

Kedua, para ulama Ikhwanul Muslimin

Manhaj mereka tentu sudah sangat Anda kenal. Bencana besarnya, para politikus dalam gerakan Ikhwanul Muslimin Yaman telah mendominasi para ulama syar’i gerakan itu, bahkan meminggirkan peranan para ulama syar’i mereka. Bencana lainnya, Ikhwanul Muslimin Yaman menjalin hubungan kasih sayang dan perdamaian dengan milisi Syiah Hautsi, kecuali orang-orang yang masih diberi rahmat oleh Allah di kalangan mereka.

Ketiga, para ulama bid’ah seperti kelompok Shufi, Syiah Rafidhah, Syiah Zaidiyah, dan orang-orang yang bergabung dengan mereka.

Perlu Anda ketahui, wahai syaikh kami yang terhormat, bahwa mayoritas ulama kelompok salafi dari seluruh alirannya tidak memiliki keterlibatan langsung di lapangan dalam perang melawan kelompok Syiah Hautsi. Kecuali syaikh Yahya al-Hajuri, yang dipaksa oleh keadaan untuk mempertahankan diri dari serangan kelompok Rafidhah Syiah Hautsi.

Meski kami sepakat dengan seluruh ulama ahlus sunnah, termasuk kelompok-kelompok salafi, untuk berjihad melawan serangan kelompok Rafidhah Syiah Hautsi, secara umum pada kenyataannya kami tidak mendapatkan kesiapan para ulama tersebut untuk berkorban di medan jihad. Padahal banyak di antara ulama tersebut pada beberapa waktu terakhir ini mulai menyatakan bahwa Al-Qaeda adalah satu-satunya pihak yang bisa menyelamatkan mereka dari keganasan, ambisi, dan aneksasi kelompok Rafidhah Syiah Hautsi. Adapun sikap kami terhadap kelompok Rafidhah Syiah Hautsi, maka dengan karunia Allah, kami terus memerangi mereka di manapun mereka berada. Insya Allah, operasi jihad kami melawan mereka akan terus berlangsung.

Insya Allah, di lain waktu kami akan terus berkorespondensi dengan Anda.

 

Murid Anda

Abu Waqar al-Yamani

19 Rabi’ul Akhir 1433 H

 

(muhib al-majdi/arrahmah.com)