(Arrahmah.com) – Salah satu ulama dan komandan utama mujahidin Al-Qaeda yang terakhir kali gugur di bumi jihad Afghan adalah syaikh Abu Abdurrahman Athiyatullah al-Libi. Bernama lengkap syaikh Jamal bin Ibrahim al-Mishrati al-Libi, beliau gugur para bulan Ramadhan 1432 H oleh serangan pesawat militer penjajah salibis AS.

Semasa hidupnya, situs Islam Al-Hisbah pernah membuka tanya jawab terbuka antara para pengunjung situs tersebut dengan beliau. Salah satu pengunjung situs menanyakan analisa beliau tentang realitas gerakan jihad internasional saat ini, dengan sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatif serta solusi atasnya. Berikut ini terjemahan analisa berharga petinggi mujahidin Al-Qaeda tersebut. Semoga bermanfaat.

Perjalanan Jihad Internasional Kontemporer Secara Umum

 

Pertanyaan akh thalabud du’a….

Pertanyaan saya kepada syaikh Athiyatullah al-Libi…

Bagaimana penilaian Anda secara umum terhadap perjalanan jihad kontemporer? Dengan menyebutkan sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatifnya.

 

Jawaban syaikh Athiyatullah al-Libi…

 بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan umatnya yang menaatinya. Ya Allah, berilah saya kemudahan dan pertolongan.

Saudaraku yang mulia, menurut saya gerakan jihad —segala puji bagi Allah— mengalami kemajuan, peningkatan, dan berjalan ke arah yang lebih baik.

Ini adalah pandangan secara global dan keseluruhan.

Meski luka-luka, cedera, derita, dan kepedihan yang terjadi, namun harapan-harapan sangat besar, kematangan terus berlanjut, dan unsur-unsur kemenangan senantiasa bertambah lengkap dan menguat. Hal ini saat kita berbicara tentang gerakan jihad kontemporer, khususnya setelah serangan 11 September.

Jika kita berusaha menyebutkan sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatifnya, maka kita katakan:

 

Sisi-sisi positif

Ada perubahan ke arah yang lebih baik (bagi kepentingan Islam dan kaum muslimin) dalam hubungan-hubungan yang mengontrol masyarakat manusia. Maksud saya, hubungan antara Islam dan kekafiran, antara kaum muslimin dan kaum kafir. Hubungan tersebut mengarah dengan baik menuju kondisinya yang alami, yaitu hubungan yang dibangun di atas prinsip wala’ dan bara’ berdasar keimanan, mencintai dan membenci karena Allah dan dien, dan menilai segala sesuatu dari manusia dan lainnya di atas dasar dien. Dengan kata lain, dien kembali menjadi poros hubungan-hubungan manusia.

Hakekat ini pada abad yang lalu, setidaknya, telah hilang dan terhapus, di mana hubungan-hubungan di antara manusia dikuasai oleh teori-teori kafir, sesat, remeh, dan keduniaan yang rendah seperti nasionalisme, kebangsaan, dan semisalnya. Juga disebabkan oleh perang pemikiran Barat terhadap dunia Islam, yang bersamaan waktunya dnegan kemunduran sejarah yang terjadi pada diri umat Islam.

Hari ini kaum muslimin berada dalam kebangkitan, perkembangan, dan kemajuan

Dengan karunia Allah, gerakan-gerakan jihad memiliki peran terbesar atas hal itu. Maksud saya dalam mengembalikan perkara-perkara kepada timbangan yang sebenarnya.

Tidak diragukan lagi, peristiwa 11 September merupakan titik penting dari perubahan ini.

Di sisi lain, gerakan jihad merupakan pihak yang meraih keuntungan paling besar dari perubahan ini. Perubahan ini merupakan kemenangan bagi gerakan jjihad, manhajnya, dan dakwahnya. Hal ini sudah jelas.

Ini barangkala sisi positif yang paling penting dalam pandangan saya.

Di antara hasilnya adalah manusia masuk ke dalam dien Allah ini dalam umlah yang terus bertambah seperti disebutkan oleh banyak survei yang dipublikasikan; sebagai hasil dari usaha manusia mencari tahu, mengenali, mempelajari, dan memahami dien Islam. Itu adalah akibat dari ‘benturan’ dan ‘goncangan’ yang sangat kuat tersebut. Dan sebagai akibat alami dari hubungan alami yang tengah kita bahas tadi.

Manusia telah melihat bahwa orang-orang kafir yang masuk ke dalam dien Islam, para pemuda Islam semula hidup sia-sia kemudian berkomitmen dengan dien Islam dan kembali ke jalan Allah setelah peristiwa 11 September beberapa kali lipat umlahnya dari sebelum terjadinya peristiwa 11 September. Segala puji bagi Allah.

Di antara sisi positif lainnya adalah mental umat Islam menguat, urat nadi kemuliaan, harga diri, kebanggaan, dan kepercayaan diri mereka berdenyut kembali.

Di antara sisi positif lainnya adalah pertumbuhan generasi-generasi baru yang mengusung panji Islam. Hari ini kita, dengan karunia Allah semata, tidak mengkhawatirkan lagi nasib panji Islam kita, justru kita merasa tentram, karena panji Islam tidak akan pernah terlantar dan terjatuh. Setiap kali seorang pemimpin gugur, pemimpin yang lain muncul menggantikan perannya. Allah senantiasa ‘menanam’ untuk dien ini tanaman yang baik nan mengagumkan!

Ya, sungguh benar, sesungguhnya Allah memenangkan dien-Nya dan meninggikan kalimat-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. Jihad akan senantiasa berlangsung sampai hari kiamat, dien Islam akan mencapai setiap jengkal bumi yang dilalui oleh siang dan malam, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Namun segala sesuatu memiliki sebab-sebab, dan kita di sini berbicara sesuai sebab-sebab.

Di antara sisi positif lainnya, dan hal ini dekat dengan kondisi yang baru saja kita sebutkan, adalah adanya cadangan tenaga yang besar bagi jihad. Anda melihat tidaklah sebuah medan jihad dibuka dan kesempatan jihad ada kecuali Anda akan melihat suatu hal yang sangat menakjubkan, para pemuda Islam dalam jumlah besar mengalir ke medan jihad tersebut. Kita tidak mengalami kekurangan jumlah personil dan cadangan persoinil, segala puji bagi Allah. Tugas terbesar kita adalah mengarahkan, membimbing, dan meluruskan perjalanannya, dengan daya dan kekuatan Allah. Sisi positif ini terjadi, banyak sekali usaha yang dilakukan oleh segolongan orang di tengah umat kina untuk menghalang-halangi dan menjauhkan para pemuda Islam dari medan jihad. Juga meskipun sekelompok ulama secara umum menelantarkan jihad, seperti yang akan kita bicarakan pada tempatnya nanti, insya Allah. Juga meskipun besarnya upaya musuh-musuh Allah untuk menjauhkan para pemuda Islam dari medan jihad, dengan bujuk rayu maupun terror. Bagi orang yang mau memperhatikan, hal ini sungguh merupakan peristiwa yang sangat mengagumkan. Allah semata yang dapat memberi taufiq.

Di antara sisi positif lainnya adalah terjadiya seleksi dan ujian yang besar, denganya Allah memisah-misahkan antara manusia. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam, sebagaimana firman Allah,

{مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ}

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini (QS. Ali Imran [3]: 179)

Yaitu dari kondisi aman selalu, bercampur baurnya kaum mukmin dan kaum munafik, orang-orang shalih dan orang-orang yang rusak lagi keji,

 {حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ}

Sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin) (QS. Ali Imran [3]: 179)

Hal yang dekat dengan makna sisi positif ini adalah terbongkarnya kedok orang-orang munafik dan zindiq dari kalangan para thaghut yang berkhianat dan memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah, nampak jelasnya kekafiran mereka dan peperangan mereka melawan Allah, rasul-Nya dan dien-Nya dalam bentuk yang sangat jelas.

Gerakan jihad Islam kontemporer dengan karunia Allah telah lebih matang, moderat, dan lengkap, memiliki bekal dan pengalaman yang baik dan bermanfaat, mengalami peningkatan di bidang pengalaman keilmuan, praktek, dan sejarah serta  mempersembahkan para syuhada’, contoh-contoh dan keteladanan yang baik. Dengan izin Allah, semua hal tersebut merupakan isyarat kebaikan dan pertanda keberhasilan. Hanya Allah semata yang member taufiq.

Dan banyal lagi sisi positif lainnya yang diraih oleh gerakan jihad kontemporer, khususnya setelah peristiwa 11 September. Kita mencukupkan diri dengan menyebutkan sisi-sisi positif yang  paling penting saja.

 

Sisi-sisi Negatif

Sisi-sisi negatif juga ada, karena jihad, usaha, dan percobaan adalah pekerjaan manusia. Pasti terdapat kekurangan, keteledoran, dan kesalahan padanya.

Di antara sisi negatifnya adalah terkadang tidak tercapai keseimbangan antara kwalitas dan kwantitas. Maksudnya, pengarahan dan bimbingan belum mampu mengimbangi besarnya jumlah para pemuda yang mengalir dengan deras ke medan jihad, pergerakan, dan perlawanan. Akibatnya kebodohan, kurang kebijaksanaan, dan banyaknya kekeliruan mendominasi, lalu timbul kerusakan.

Apalagi secara umum para ulama mengabaikan perkara jihad, disebabkan sebagian besar mereka memisahkan antara ilmu dan pengetahuan dengan amal, tepatnya amalan jihad!

Realita ini terjadi, dan berbeda di satu tempat dengan tempat lainnya, satu waktu dengan waktu lainnya.

Setelah kita menyaksikan penyimpangan dan kerusakan besar yang dialami oleh Jama’ah Islamiyah Musallahah di Aljazair, yang —dengan rahmat Allah— tidak ada yang lebih berat dan lebih kami khawatirkan darinya.

Namun harapan baik kami lebih mendominasi (kekhawatiran kami), para pemimpin ihad dari aspek ilmu dan amal mengerti kekuarangan mereka, dan mereka telah bersungguh-sungguh untuk meluruskan dan mengoreksinya, dengan mengerahkan usaha-usaha yang baik.

Di antara sisi negatif lainnya adalah sikap keras dan kaku yang terkadang berlebihan pada gerakan jihad, apalagi terhadap orang-orang yang berbeda pendapat, dan munculnya akhlak-akhlak yang tidak baik terkadang karena sebab permusuhan-permusuhan dan juga oleh sebab kerasnya peperangan. Sekali lagi, hal ini terjadi di sebagian tempat dan sebagian waktu. Sebab, secara umum dan keseluruhan mereka moderat dan baik.

Hal ini memiliki sebab-sebab dan faktor-faktor pendorong, dan juga solusi. Barangkali nanti juga akan kita bahas, insya Allah.

Di antara sisi negatif lainnya yang kita hadapi adalah buruknya hubungan dengan para ulama. Nanti akan ada pembahasannya. Menurut penelitian, celaan pada masalah ini kembali kepada mujahidin sendiri. Usaha mereka untuk menjalin hubungan yang baik dnegan para ulama masih sedikit, justru para ulama yang memiliki usaha yang lebih besar untuk menjalin hubungan. Hanya milik Allah semata segala urusan. Meski demikian, hal ini adalah sebuah problem tersendiri. Kita memohon solusinya kepada Allah SWT.

Secara umum, segala puji bagi Allah, kita melihat kondisi mayoritas mujahidin baik.

Banyak dari sisi-sisi negatif yang bukan berasal dari dalam gerakan jihad, melainkan problem dari luar.

Oleh karenanya sisi-sisi negatif tersebut dianggap sebagai problem-problem yang perlu dicarikan solusi dan perbaikan, bukan dianggap sebagai sebuah kegagalan, kerusakan, penghalang, atau kehancuran.

Di sini ada sebuah kaedah penting: Jika masalah berasal dari luar dirimu, maka janganlah engkau banyak kebingungan menghadapinya, karena masalah tersebut tidak akan mencelakakanmu,

 {لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى}

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudarat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja (QS. Ali Imran [3]: 111)

Adapun masalah yang membahayakanmu adalah masalah yang berasal dari dirimu sendiri, baik dirimu selaku seorang individu maupun sebuah kelompok,

{وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ} [النساء: 79]

Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. An-Nisa’ [4]: 79)

Wallahu a’lam.

Perkara lain yang hendak saya sampaikan kepada ikhwan-ikhwan saya, walau secara ringkas…yaitu bahwasanya gerakan jihad seperti halnya usaha manusiawi dan usaha sosial lainnya yang dilakukan, akan senantiasa memiliki kekeliruan-kekeliruan dan kekurangan-kekurangan, sedikit maupun banyak, sehingga gerakan jihad sampai pada taraf merepresentasikan umat Islam secara keseluruhan atau hampir keseluruhan!

Karena para ikhwah mujahidin adalah orang-orang dan pemuda-pemuda umat Islam, Allah menghidupkan hati mereka, menambahkan petunjuk untuk mereka, memberikan ketakwaan kepada mereka, mereka bangkit untuk melaksanakan kewajiban jihad ini, dan mengusung amanat ini. Sungguh mereka adalah tokoh-tokoh perang dan politik, namun dengan dien dan untuk kepentingan dien.

Seluruh keutamaan yang mereka miliki ini tidak berarti kesempurnaan dari seluruh sisi, pun tidak berarti bebas dari kekeliruan dan kekurangan. Mereka tetap membutuhkan upaya penyempurnaan dan dukungan. Sebagian besar mujahidin bukanlah para sarjana jurusan ilmu-ilmu syariah, meskipun mayoritas komandan dan tokoh-tokoh mujahidin telah meraih bagian yang baik dari ilmu-ilmu syariah. Kemampun ilmu syariah mereka juga beragam. Di tengah mujahidin juga terdapat para ulama dan syaikh, namun sampai saat ini jumlahnya masih sedikit, dan jumlah mereka belum mampu menutup semua medan peperangan dan belum meliputi seluruh lapisan bawah mujahidin.

Namun hal ini tidak mengesampingkan fakta bahwa secara umum gerakan jihad adalah gerakan yang baik dan pilihan, sebuah gerakan yang menjadi berkah bagi umat Islam, dan gerakan jihadlah yang diharapkan menjadi thaifah manshurah di zaman-zaman ini, anggota-anggotanya adalah orang-orang mukmin yang terbaik, mereka lebih utama dari sekelompok ulama, sebuah keutamaan kelompok atas kelompok, dan hal ini bagi kami bukan hal yang membingungkan. Keutamaan mujahidin di dalam Al-Qur’an dan as-sunnah tidak bisa ditandingi oleh apapun, dan tiada seorang ulama pun yang mendebat masalah ini!

Mujahidin, segala puji bagi Allah, mencakup keutamaan-keutamaan tersebut dalam realita kehidupan mereka, dan melaksanakan seluruh ataupun mayoritas keutamaan tersebut.

Gerakan jihad akan terus bergerak dan meniti jalannya secara pelan-pelan, terkadang bertindak benar dan terkadang bertindak salah, dalam berbagai ijtihad dan pilihan langkahnya, namun ia tetap berjalan, bergerak, tegar, tidak menoleh (ke kanan dan kiri, ke belakang), sehingga secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan, kematangan, dan keseimbangan; lalu beberapa kelompok umat Islam seperti para ulama, penuntut ilmu, dan orang-orang shalih secara umum akan bergabung dengan mereka, potensi-potensi umat Islam akan terkumpul dalam perjalanannya, dan pada saat itulah gerakan jihad lebih mampu untuk meraih kemenangan dan lebih dekat kepada kesuksesan, insya Allah. Dan pada hari tersebut, kaum mukmin akan bergembira dengan pertolongan Allah.

Jadi yang diperlukan dalam seluruh perkara adalah sedikit lagi kesabaran dan ketegaran!

Perkara gerakan jihad dengan umat Islam sungguh mengherankan!

Kondisi gerakan jihad bak ungkapan sebait syair:

 

Mereka meremukkan tulangku selagi mampu, walau kubangunkan

dan kutinggikan rumah kemuliaan tuk mereka

 

Gerakan jihad senantiasa memberi, mencurahkan usaha dan pengorbanan untuk dien dan umatnya.

Namun umatnya menelantarkannya!

Namun ungkapan bela sungkawa untuk kita datang dari baginda Rasulullah SAW sendiri,

 لَا تَزَالُ فِي أُمَّتِي طَائِفَةٌ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ

Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka meraih kemenangan, dan orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka.”

Dan firman Allah SWT,

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Barangsiapa berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk kebaikan dirinya sendiri, dan Allah Maha Kaya tidak membutuhkan seluruh alam.” (QS. Luqman [31]: 6)

Pada hari ini, orang-orang yang berbicara dari kejauhan, mengkritik berbagai kesalahan gerakan jihad, menyebutkan kritikan demi kritikan, terlebih dari kalangan ulama…mereka itu pada hakekatnya adalah orang terakhir yang semestinya boleh berbicara.

Namun kita hari ini hidup di sebuah zaman di mana ilmu terpisah dari amal, kecuali pada segelintir ulama yang dirahmati oleh Allah!

Kita berada di sebuah zaman, di mana orang-orang memandang sikap pengecut adalah akal sehat!

Kita berada di zaman kemunduran.

Oleh karena itu kejadian seperti ini banyak terjadi, dan tidak perlu diherankan.

Sekiranya mayoritas mereka adalah orang-orang yang memiliki hati yang hidup, bertakwa, dan shalih, niscaya rasa malu akan membuat mereka untuk diam, dan tentu mereka akan mengetahui bahwa mereka wajib berada di barisan terdepan bersama saudara-saudara mereka, kaum mujahidin, untuk meluruskan kekeliruan, member pengarahan, mengajari, ikut andil dalam kebaikan jihad, dan menahan diri dari berbicara, atau berbicara setelah semua keterlibatan mereka di medan jihad sehingga perkataan mereka memiliki nilai dan ruh!

Adapun saat ini hanyalah perkataan orang yang mati, tidak lebih dari gangguan, pelemahan dan penggembosan semangat, klaim-klaim buta, dan juga kebodohan karena mayoritas mereka tidak mengetahui hakekat persoalan dan sangat jauh dari memiliki persepsi yang benar tentang urusan-urusan ini!

Tentu saja, selalu ada pengecualian, orang-orang shalih tidak akan keluar dari firman Allah SWT,

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. At-Taubah [9]: 91)

Jika mereka mengatakan: “Pembicaraan, nasehat, perintah, larangan, pengingkaran terhadap kesalahan dan kemungkaran dan lain sebagainya…adalah hak setiap orang, orang yang bukan mujahid tidak dilarang untuk melakukan hal itu semua.”

Kami katakan: “Ya, dengan syarat kalian mengakui bahwa kalianlah penyebab pertama dari munculnya kesalahan-kesalahan tersebut, dengan sikap kalian yang hanya duduk-duduk saja tidak melaksanakan jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, dan sikap kalian yang menelantarkan saudara-saudara kalian dengan menuduh mereka adalah orang-orang yang lalai, berdosa, dan berhak untuk dicela.

Jika mereka mengatakan: “Kami juga melaksanakan kewajiban dan mengisi pos yang kosong!”

Kami katakan: “Tidak semua alasan ini bisa diterima. Kami memberikan penjelasan rinci. Ada orang yang benar-benar melaksanakan kewajiban dan mengisi pos. secara total, dan ia akan mendapat pahala. Ada juga orang yang mendapat udzur saat tidak berjihad, karena ia memiliki alasan yang dibenarkan oleh syariat. Ada juga orang yang kondisinya tidak seperti itu. Tidak samar lagi kondisi mayoritas manusia. Kami akan menjelaskan hal ini lebih lanjut pada tempatnya nanti, insya Allah.

Hanya Allah yang memberi taufiq.

(muhib almajdi/arrahmah.com)