(Arrahmah.com) – Mengingat nama Amerika Serikat, kita teringat berbagai kekejaman, amoralitas, penjajahan, liberalisme, dan keburukan-keburukan lainnya yang di dukung oleh kekuatan ekonomi kapitalis mereka yang “jaya” hingga mereka dikatakan negara “Super Power” tak terkalahkan.

Namun pukulan keras dari mujahidin, atas peristiwa hebat sepanjang sejarah dekade ini, telah mempermalukan “negara super power” itu di muka Dunia. Dampak buruk dari peristiwa 9/11 bagi Amerika tak berhenti dalam jangka waktu yang sedikit, bahkan telah berlalu satu dekade dampak itu masih sangat dirasakan sakit oleh tubuh Amerika dan bahkan semakin buruk. Runtuhnya perekonomian Amerika adalah dampak berkepanjangan bagi Amerika setelah serangan mujahidin (9/11) dan runtuhnya perekonomian Amerika adalah tanda dimulainya akhir “kekuasaan” Amerika.

Forum Ansar al-Mujahidin mempublikasikan sebuah tulisan mengenai analisa kehancuran Amerika setelah peristiwa 9/11, dampak berkepanjangan, dan bagaimana masa depan Amerika setelah perekonomiannya runtuh. Berikut terjemahannya.

 

Oleh: Abu Fatimah

Bissmillahirrahmanirrahiim

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, keluarganya, dan para sahabatnya radiallahu ‘anhum.

Amma ba’du

Semakin jelas bagi sejarawan tentang runtuhnya masa depan ekonomi Amerika selama dekade awal di abad ke-21 yang merupakan tanda dimulainya akhir dari “kekuasaan” Amerika. Dan akan semakin jelas lagi bahwa kematian Amerika bermula di tangan-tangan kecil sekelompok mujahidin, seperti yang terjadi sepanjang sejarah islam.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

“orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah:249)

Kebanyakan Ekonomi Barat dan Ekonomi Amerika pada khususnya tergantung kepada produsen-konsumen yang memiliki keyakinan yang tinggi. Keyakinan ini lah yang sering bertahan dalam menghadapi logika dan bukti sejarah. Jadi disaat stok pasar Amerika telah jatuh dengan membawa malapetaka di berbagai aspek, dalam hari hari itu tumbuh subur “keyakinan” bahwa harga saham akan terus semakin naik dan naik. Keyakinan bodoh bahwa penjualan suatu produk yang jatuh, maka akan ada produk dalam versi yang sama untuk tetap menjaga keuntungan perusahaan yang sedang berkembang. Juga ada keyakinan bahwa konsumen “yang telah dijatuhi hutang proses produsen-konsumen” akan terus menghabiskan hidupnya untuk proses podusen-konsumen itu meski diluar kemampuan mereka.

Namun pukulan keras menghancurkan “kekuasaan dan gengsi Amerika” pada 11 September 2001 dan berlanjut terus menghantui rakyat Amerika hingga hari ini. Kegagalan mereka (Amerika) tak terelakkan untuk mengalahkan mujahidin di Irak Afghanistan meskipun mereka telah menghabiskan uang triliunan dolar untuk perang melawan mujahidin, hal ini memastikan bahwa penghinaan terhadap mereka akibat serangan 9/11 belum terhapus dan tidak akan pernah terhapuskan sepenuhnya.

Tidak hanya militer dan ekonomi raksasa negara kafir itu dihancurkan hanya dalam jangka dua jam saja, tetapi keyakinan atau kesombongan dari rakyat Amerika terhadap presiden mereka telah jatuh ke lubang kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam sejarah hidup mereka.

Sembilan mujahidin muda yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya mengeluarkan 500.000 dolar AS untuk melakukan kerusakan yang menghancurkan yang dikenal sebagai “negara adidaya satu-satunya di bumi”.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti. Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (Al Hasyr: 13-14)

Perencanaan jangka panjang

Meskipun ada saat-saat dimana Allah memenangkan pasukanNya untuk menggapai kemenangan yang cepat dan menentukan diatas orang-orang kafir, namun sejarah ummat ini berisikan contoh-contoh dimana ummat muslim harus berjuang bertahun-tahun dahulu sebelum akhirnya menggapai kemenangan.

Setelah Al Quds jatuh ke tangan para salibis pada 15 Juli 1099, banyak kaum muslimin mengira bahwa kota suci itu akan kembali dengan cepat ke dalam kendali ummat muslim. Namun ternyata 88 tahun lamanya Al Quds masih di tangan para salibis sebelum Salahuddin al-Ayubi merebut kembali Al Quds untuk ummat muslim pada 2 Oktober 1187.

Jadi, mujahidin menyadari bahwa mengalahkan Amerika dan antek-anteknya bukanlah tugas yang mudah, tidak juga dapat dicapai dalam satu malam. Ayat ke 249 dari surat Al Baqarah telah menyebutkan bahwa sekelompok kecil dari orang-orang beriman mengalahkan sekelompok besar dari orang-orang kafir. Tetapi kemudian menasehati orang-orang beriman untuk bersabar di dalam perjuangan, Allah akan memberikan kemenangan kepada orang-orang beriman hanya setelah mereka diuji keikhlasannya.

Amerika berada dalam kondisi keuangan yang lebih baik sebelum serangan 11 September 2001 dimana Uni Soviet pada tahun 1979 meluncurkan invasi mereka ke Afghanistan yang menyebabkan malapetaka bagi rakyat Afghan, maka mujahidin tahu bahwa kehancuran dunia AS akan lebih lambat dari pada Uni Soviet.

Shaikh Usamah bin Laden rahimahullah dan banyak lagi imam-imam mujahidin telah menyatakan berulang kali bahwa perang ini akan dimenangkan dengan “cara ekonomi”, maksudnya ketika Amerika sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai perang yang mereka lancarkan (maka dengan sendirinya mereka akan menarik diri dari medan perang-pent).

Maka dari itu, tujuan pertama Amerika untuk “meyakinkan Amerika”, secara langsung campur tangan dari negara-negara muslim adalah mutlak dibutuhkan.

Apakah jika mujahidin tidak meluncurkan serangan ke Manhattan dan Washington kemudian Amerika akan tetap melanjutkan mengendalikan negara-negara muslim dari kejauhan dengan bantuan para tiran murtad? mereka akan memilih kapan dan dimanapun untuk menyerang ummat islam, dan menimbulkan penderitaan yang tak dirasakan oleh diri mereka sendiri.

Ketika Amerika mendapatkan pukulan keras dari mujahidin di Somalia pada tahun 1993, mereka menarik diri dengan cepat dari salah satu negeri kaum muslimin kemudian melanjutkan menyerang Irak selama sembilan tahun, dan menebar rudal di pabrik farmasi Al Shifa di Sudan dan beberapa kamp mujahidin di Afghanistan 1998. dan serangan 9/11 pada 2001, tujuannya tidak lebih untuk memberi mereka “mata hitam” seperti mereka mengalami penderitaan di Moghadishu, dan tujuannya adalah untuk sepenuhnya menyingkirkan mereka dengan membuat mereka keletihanan selama beberapa dekade, sehingga akhirnya mereka benar-benar tidak mampu lagi untuk ikut campur dalam urusan ummat muslim.

Tujuan kedua dari mujahidin telah meyakinkan Amerika bahwa dengan memasuki negeri-negeri kaum muslimin dengan pasukan mereka, mereka (musuh) tidak akan dapat meninggalkan negeri-negeri kaum muslimin begitu saja tanpa merasakan hidup di dalam ketakutan terus-menerus karena serangan-serangan mujahidin. Jadi biarkan saja sementara mereka bermimpi dengan hanya menyerang Afghanistan, mengklaim kemenangan yang cepat dan menarik diri dengan cepat.

Sekarang, banyak dari pasukan mereka ditarik dari negeri-negeri kaum muslimin. Pasukan penjajah Amerika semakin “mengejar” mujahidin di Pakistan, Afghanistan, Yaman, Somalia, dan mujahidin dimanapun mereka berada. Pasukan mereka semakin kelelahan dan ketakutan. Bahkan sekelompok kecil mujahidin di Aljazair, Nigeria, dan di tempat lainnya di dunia, dianggap ancaman yang berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan AS yang dianggap negara super power di dunia ini.

Ketakutan musuh semakin meningkat, mereka mulai melihat Muhammad Atta rahimahullah (salah satu pemimpin serangan 11 september) bisa datang dari segala arah di bumi ini karena mujahidin telah mendirikan kamp-kamp pelatihan.

Sementara pada awal dekade lalu hampir semua bangsa-bangsa penjajah Barat berkeinginan mengambil bagian dalam serangan di Afghanistan, namun sepuluh tahun kemudian (yakni hari ini) antusiasme mereka semakin berkurang. Itulah mengapa hanya 8 negara dari 28 negara anggota NATO yang mengambil bagian dalam penyerangan di Libya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Al Hasyr:14)

Sekutu-sekutu Amerika juga semakin kelelahan karena harus ditarik ke dalam medan pertempuran baru dalam “perang melawan teror” yang tak pernah berakhir, dan kini mereka mencari jalan keluar dari “negara-negara perang” seperti Afghanistan, padahal sebelumnya mereka berlomba-lomba mengirimkan pasukan ke negeri-negeri kaum muslimin yang bergolak.

Musuh-musuh Amerika tumbuh semakin berani dalam “pemberontakan” mereka. Artinya, bahwa Amerika semakin terisolasi dan perang mereka terhadap Islam memasuki dekade kedua.

Masa Depan

Kehancuran yang ditimpakan mujahidin kepada Amerika pada 9/11 terus bergema di seluruh dunia hingga saat ini.

Semua ini dicapai oleh ummat Islam yang sedang berada di salah satu titik terendah dalam sejarah, dimana kekayaan dan bala tentara bangsa-bangsa kaum muslimin ditangan para penguasa dzalim seperti Ali Abdullah Saleh, Hosni Mubarak dan Muammar Gaddafi, dimana ulama-ulama haq dan banyak kaum muslimin yang berjalan di atas Al Haq dan taku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dipenjarakan di penjara-penjara kejam tirani.

Sepuluh tahun kemudian situasi telah berubah secara drastis, para penguasa murtad digulingkan dari takhta mereka satu per satu. Amerika tidak lagi memiliki keinginan dan kemampuan untuk menopang “boneka-boneka” mereka yang telah didukung selama sekitar 40 atau 50 tahun terakhir. Kebatilan telah hilang satu per satu dari kota ke kota dan digantikan dengan Al Haq, biidznillah.

Pintu-pintu penjara tiran telah terbuka dan para ulama al Haq dan para mujahidin mulai dibebaskan, Alhamdulillah semua terjadi atas pertolongan Allah.

Mujahidin Imarah Islam Irak, Imarah Islam Afghanistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan, Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), Al Qaeda di Islamic Maghreb (AQIM), Harakat Al Shabaab al Mujahidin, dan kelompok-kelompok jihad lainnya di belahan bumi ini telah mengembalikan syariah di negeri-negeri dimana hukum kufur telah memerintah selama beberapa dekade, atau bahkan berabad-abad.

Amerika bersikeras untuk menghancurkan kelompok-kelompok jihad tersebut, tetapi satu pun tak dapat mereka hancurkan, tidak juga dapat memecahkan pertalian antar para pejuang islam, bahkan mujahidin senantiasa mendukung satu sama lain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara”. (Al Hujurat:10)

“..dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah:36)

Bahkan di Libya, Suriah, Nigeria dan di negara-negara muslim lainnya dimana jajaran mujahidin meningkat setiap harinya, tali persaudaraan semakin kuat dan mengabaikan politik Barat seperti nasionalisme, etnis, imperialisme, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan “aturan-aturan hidup” Barat lainnya yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.

Dan kini satu dekade ini telah berlalu sejak para salibis menyerang Afghanistan, dan mungkin masih akan ada dekade lain dimana pasukan salibis Amerika dan antek-anteknya mengakar kuat di tanah-tanah kaum muslimin, dan disana kekuatan mujahidin pun akan semakin kuat disertai kemenangan-kemenangan, insya Allah.

Dan insya Allah akan banyak mujahidin saat ini yang menjadi syahid di dekade mendatang, seperti banyaknya mujahidin yang telah syahid (insya Allah) dalam dekade lalu.

Dan mungkin sejarah mujahidin ditangkap dan dipenjara masih akan terulang, seperti ayah-ayah dan saudara-saudara mereka dipenjara sebelum mereka di penjara bawah tanah milik tentara salib, dari Baghram hingga Baghdad.

Kemenangan Islam, kemenganan al Haq diatas al Baatil, orang-orang beriman diatas orang-orang kafir adalah tidak bisa dihindari (pasti akan terjadi sebagaimana janji Allah) seperti yang dipaparkan di dalam Al Qur’an dan Sunnah. Hal yang penting untuk diingat adalah kita harus bersabar, ketika kita tahu kepastian bahwa kemenangan akan datang, namun hanya Allah yang Tahu dengan pasti kapan itu akan datang.

Kita memohon kepada Allah untuk memberikan kita keikhlasan para pejuang islam yang sedang berjuang untuk Agama Nya di seluruh Dunia.

Kita memohon kepada Allah untuk menerima hijrah dan jihad dari siapa saha yang telah pergi berhijrah dan berjihad di jalan Allah, dan untuk semua yang akan berhijrah dan berjihad di masa mendatang.

Kita memohon kepada Allah untuk mengkaruniakan surga di tingkat tertinggi untuk siapa saja yang telah syahid di jalan Nya, dan untuk siapa saja yang akan syahid di masa mendatang.

Kita memohon kepada Allah untuk menghancurkan orang-orang kafir, dan membuat tangan-tangan mujahidin memaksa para kafirun dan munafikun angkat kaki dari tanah-tanah kaum muslimin untuk selamanya, Alhamdulillahi robbil’alamiin..

Akhir kalam, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga sholawat serta salam tercurah kepada Rasulullah Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.

(siraaj/arrahmah.com)