JAKARTA (Arrahmah.com) – Dituduh dan difitnah ? Itu sudah menjadi resiko media-media Islam yang konsisten membela jihad dan kaum Muslimin. Tuduhan dan fitnah biasanya datang dari musuh-musuh Islam di bawah kendali Amerika Serikat dengan alasan “perang melawan terorisme” atau dari mereka-mereka yang terjangkit penyakit Islamophobia alias takut dan anti Islam. Salah satunya adalah Said Aqil Siraj, ketua PBNU yang meminta pemerintah untuk menutup Arrahmah.com. Terlalu! Arrahmah.com kembali difitnah

Bukan pertama kalinya Arrahmah.com difitnah. Konsistensi untuk selalu memberitakan dunia Islam dan jihad internasional membuat Arrahmah.com selalu menjadi incaran musuh-musuh Islam, khususnya konspirasi zionis salibis yang diikuti oleh antek-anteknya di seluruh dunia. Berbagai cara sudah dilakukan, utamanya membentuk opini bahwa situs Arrahmah.com adalah situs propaganda terorisme yang harus dibasmi habis.

Ansyad Mbai, ketua BNPT secara ngawur dan tendensius pernah menuduh bahwa Arrahmah.com adalah salah satu dari 11 situs yang dituduhnya sebagai situs propaganda terorisme. Mbai mengaku bahwa data-data untuk menuduh Arrahmah.com sebagai situs propaganda terorisme berasal dari satu institusi yang berpusat di Australia. Ketika ditanya institusi apa dan yang mana, Mbai tidak menyebutkan secara jelas dan detail. Bukankah ini namanya tuduhan ngawur dan tendensius khas orang yang terjangkit penyakit Islamophobia (anti dan takut Islam) ?

Ironisnya, penyakit Islamophobia itu kini juga menghinggapi ketua umum PBNU, Said Agil Siraj. Dalam sebuah diskusi di TV One, program “Indonesia Malam”, ketua PBNU ini meminta pemerintah untuk menutup situs-situs yang mengarah kepada radikalisme, seperti Arrahmah.com.

Pemerintah gagal fahami akar terorisme

Pemerintah melalui Menkominfo nampaknya juga terserang penyakit Islamophobia, yang dengan reaktif ikut-ikutan alias manut saja disuruh menutup situs-situs jihad dan situs Islam, sebagaimana pernyataan Tifatul Sembiring yang akan melakukan pemblokiran terhadap situs-situs yang terkait terorisme, meski belum menyebut nama.

Sebagaimana disampaikan ke Eramuslim.com, pihak Arrahmah.com menilai hal tersebut menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memahami akar masalah terorisme. Penutupan situs-situs jihad dan juga situs-situs Islam tidak akan melenyapkan apa yang mereka sebut dengan terorisme.

Situs-situs jihad atau situs-situs Islam yang diblokir sudah pasti akan muncul kembali, karena keberadaan media Islam adalah tugas dan kewajiban untuk mengabarkan jihad dan dunia Islam sebagai amanah yang diemban seorang Muslim.

Dengan demikian, yang harus ditutup adalah akar terorisme atau apapun yang menyebabkan aksi-aksi peledakan itu muncul, bukan dengan menutup situs-situs jihad yang hanya akan menimbulkan masalah baru, yakni membuktikan adanya penyakit Islamophobia dari pemerintah dan oknum-oknum tertentu yang selalu memusuhi Islam.

Wallahu’alam bis showab!

(M Fachry/arrahmah.com)