LONDON (Arrahmah.com) – Ratusan orang berkumpul di luar kantor polisi Tottenham, damai menyerukan “keadilan” untuk Mark Duggan, seorang pria yang tewas oleh aparat kepolisian pada tiga hari sebelumnya.

Polisi berjag-jaga dalam formasi, memisahkan anggota masyarakat dari stasiun yang mereka jaga, sampai seorang wanita 16 tahun dilaporkan mendekati petugas untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Menurut laporan saksi, beberapa petugas mendorong wanita muda dan menarik tongkat mereka.

“Dan saat itulah orang-orang mulai untuk membalas. Aku melihat banyak orang yang membalas,” kata saksi.

Dari aksi damai menuntut keadilan di depan kantor polisi, berubah menjadi “pembalasan” yang dilakukan massa di berbagai bagian kota London yang tampaknya tidak takut melakukan peruskan jendela, penjarahan toko, dan bangunan terbakar, yang tak diragukan lagi menyebabkan kerusakan dengan nilai jutaan pound.

Aset bisnis telah dijarah dan media internasional terus memunculkan gambar bangunan yang terbakar dengan api membara, di daerah di mana petugas pemadam kebakaran dilaporkan terlalu takut untuk masuk – demi keselamatan mereka sendiri.

Menurut saksi dan rekaman yang diambil dari helikopter, polisi belum mampu mengendalikan sebagian besar situasi, dan telah berulang kali dipaksa mundur oleh perusuh yang marah.

“Para aktivis menyadari polisi tidak bisa mengontrol,” kata Pioneer, warga Hackney dan aktivis.

“Para aktivis ini pada dasarnya telah ditinggalkan – bahkan tidak hanya mereka, seluruh masyarakat telah ditinggalkan,” tambahnya. “Saya tidak bisa bilang aku terkejut hal ini terjadi setelah terbangun selama bertahun-tahun..”

Klara, seorang aktivis London, kelompok yang fokus menanggapi krisis penghematan Eropa, yang uga seorang penduduk Hackney, meminta agar nama keluarganya disembunyikan. Seperti dalam berita yang dirilis Aljazira, dia mengatakan: “Ini adalah luapan kemarahan, kecemasan dan penindasan yang sudah saatnya meledak.”

“Ketika Anda berbicara dengan orang di jalan-jalan, mereka sangat politis artikulatif. Mereka tahu masalah dalam komunitas mereka,” katanya.

Dalam video yang diposting di situs The Guardian pada 31 Juli, pemuda di borough London Haringey menggambarkan efek dari penutupan delapan pusat tempat kongkow pemuda, langkah tersebut, kata mereka menyebabkan pertumbuhan dalam keanggotaan geng dan kejahatan – ketika mereka dan rekan-rekan mereka pulang sekolah.

Seminggu sebelum kerusuhan terjadi, salah satu pemuda dalam sebuah video berkata: “Pemerintah tidak menyadari apa yang mereka lakukan kepada kami”. Pemuda lain menambahkan, “akan terjadi kerusuhan”.

Sebuah titik kritis

Tottenham, di mana Duggan dibunuh, adalah lingkungan Haringey dengan tingkat pengangguran tertinggi di London – dan mayoritas populasi terdiri dari kaum muda. Orang-orang dari ‘ras kulit berwarna’ di sini telah sangat merasakan dampak dari memburuknya pelayanan sosial dan pelecehan dan kekerasan yang dilakukan polisi, kata penulis Richard Seymour.

“Ada anak-anak di sini yang pada dasarnya tidak dipedulikan oleh siapapun, dan tak seorang pun melakukan sesuatu,” kata Seymour, seorang kandidat PhD di London School of Economics.

“Ketika para perusuh itu sendiri ditanya, mereka akan mengatakan bahwa mereka dilecehkan oleh polisi, diganggu oleh mereka, dan tidak ada yang melakukan apapun tentang hal itu.”

Seymour juga menjelaskan bahwa banyak 333 kematian dalam tahanan polisi antara 1998 dan 2010 di Inggris,

“Sebagian besar protes damai dalam menanggapi kematian yang terjadi di tahanan sering diabaikan dan tak ada seorang petugas pun yang dituntut.

Akibatnya, pembunuhan Duggan telah menyentuh titik kulminasi kesabaran para kaum muda, mereka marah dengan sistem yang telah meninggalkan mereka di belakang, dan lelah melakukan protes non-kekerasan yang tak membuahkan respon apapun.

“Saya melihat beban seluruh anak-anak, mulai dari remaja, dan juga dewasa, di jalanan. Yang kelihatan tampak sangat senang, ada banyak senyum di jalan-jalan, dan rasa bahwa orang-orang akhirnya mengendalikan sesuatu. .. Dan kemudian ada orang-orang yang sangat marah pada polisi, “kata Klara, aktivis Pendudukan London.

“Hanya saja mengejutkan bahwa sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya”

Sementara itu, seorang pemilik toko setempat mengatakan kepada wartawan Al Jazeera: “Saya sangat terkejut … Aku begitu hancur. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan diriku sendiri..”

Hanya situasi kacau yang tertinggal di kota London, dan orang-orang di seluruh dunia, bertanya-tanya ketika kerusuhan akan berhenti – dan bagaimana pemerintah akan merespon kemarahan yang diduga lahir dari rasisme polisi, terkait diskriminasi dalam pelayanan sosial dan pengangguran.

Kriminalitas

Beberapa saat sebelum Perdana Menteri Inggris membuat pernyataan pertama pasca-kerusuhan, Seymour mengatakan: “Respon dominan dari kelas politik adalah mengatakan kerusuhan tersebut ‘hanya’ sebatas bentuk kriminalitas …Meskipun pada dasarnya hal tersebut adalah suatu aksi dalam mencari keadilan.”

Alternatif, katanya, akan “mengatasi krisis politik” di tingkat yang lebih dalam.

David Cameron, perdana menteri Inggris, seperti yang telah diperkirakan oleh Seymour mengatakan: “Ini adalah kriminalitas murni dan sederhana, dan itu harus dihadapi dan dikalahkan.”

Senada dengan PM Inggris, Komisaris polisi London, Tim Godwin, mengatakan: “Ini bukan permainan – ini adalah kriminalitas, pencurian dan kekerasan … Tidak ada alasan untuk perilaku ini.”

“Semua orang mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekerasan yang lebih dasyat ketika waktu mulai mendekati malam. Setiap orang memiliki teori-teori mereka tentang hal ini,. Tapi saya pikir salah satu tantangan utama pemerintah adalah memisahkan ‘permasalahan asli dari yang mereka sebut sederhana, yakni tindakan kriminalitas”, kata wartawan Aljazeera, melaporkan dari London.

Dalam pernyataan pertama pada kerusuhan pada hari Selasa pagi, PM Inggris mengatakan sedikitnya 450 orang telah ditangkap karena kerusuhan yang berhubungan dengan kejahatan.

Cameron juga mengumumkan penambahan jumlah petugas polisi yang diturunkan dari 6.000 pada tiga malam pertama kerusuhan menjadi 16.000 pada Selasa malam.

“Akan ada bantuan dari polisi yang segera datang,” katanya. “Kita akan melihat bahwa aka nada penangkapan lebih banyak dalam beberapa hari mendatang.”

Berbicara langsung kepada ‘para perusuh’, Cameron mengatakan: “Keadilan akan dilakukan … Anda akan merasakan kekuatan hukum secara penuh, dan jika Anda sudah cukup melakukan kejahatan ini, sudah waktunya Anda menanggung konsekuensinya”

Klara mengatakan bahwa banyak orang mendukung peningkatan kehadiran polisi dan berharap bahwa hal ini akan mengakhiri kerusuhan, tetapi memperingatkan bahwa dukungan tindakan kepolisian intensif “dapat memicu hal yang lebih tidak diharapkan karena pada dasarnya polisi adalah akar masalah dalam lingkungan ini” .

Menemukan ‘keadilan’ di reruntuhan

Dengan polisi tidak ada atau tidak mampu mengendalikan orang banyak di hari terakhir, laporan telah menyebar masyarakat bersatu untuk mempertahankan lingkungan mereka sendiri.

“Ada warga Turki di Hackney yang berhasil mencegah para perusuh dari menghancurkan daerah itu,” kata Klara.

Seymour menggambarkan adegan serupa orang berdiri di luar toko mereka dengan tongkat bisbol, dalam mempertahankan diri dari aksi main hakim sendiri dari London tanpa hukum.

“Saya berbicara dengan warga dan mereka memberitahu saya bahwa mereka akan melakukan hal yang sama jika polisi tidak mampu melindungi toko dan kantor sumber mata pencaharian mereka kata Charlie Angela, wartawan Al Jazeera melaporkan dari Hackney,

Dalam bentuk yang berbeda dari komunitas pertahanan, salah satu tren topik tertinggi di Twitter Selasa pagi itu # riotcleanup, dan banyak orang menggunakannya untuk mengkoordinasikan upaya-upaya pembersihan dalam kerusuhan di sekitar London.

Apa yang muncul adalah lingkungan tanpa hukum sehingga warga London perlu membuat rencana respon ketika polisi tidak mampu menangani situasi.

Klara mengatakan: “Ada banyak perdebatan di jalan-jalan Semua orang berbicara tentang pembunuhan polisi, kematian dalam tahanan [dan kesengsaraan sosial lainnya]..”

Sementara itu, tak seorang pun tampaknya mendukung kerusakan yang disebabkan oleh kerusuhan, namun banyak yang percaya bahwa kerusuhan tersebut adalah ekspresi kemarahan politik.

Ketika ditanya apakah kerusuhan bisa mengakibatkan apapun hasil yang positif, Seymour mengatakan sudah, dan menggambarkan sebuah wawancara yang ia lihat di televisi ketika seorang perusuh ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia menjawab, : Ya (telah berhasil), karena jika kita tidak ada kerusuhan, Anda tidak akan berbicara dengan kita sekarang.”

Beginilah wajah demokrasi di Inggris. Negara pengusung persamaan hak dan berusaha menjejalkannya ke negara lain dalam bentuk keikutsertaan dalam invasi, pada kenyataannya tak pernah mampu menunjukkan adanya kesamaan hak di negara mereka.

Tampak banyak diskriminasi ras yang terjadi yang dilakukanoleh aparat dan didiamkan oleh negara. Hal tersebut tentu jauh dengan konsep Islam, yang sejak kedatangannya tak pernah membeda-bedakan status dan kedudukan seseorang dari warna kulit, jabatan dan harta. Dalam konsep Islam, semua orang sama, yang memberikan perbedaan adalah kualitas keimanan mereka. Maha sempurna Allah yang menurunkan Islam sebagai ajaran sempurna. Tak tergantikan oleh konsep apapun buatan manusia yang nista. Wallohua’alam.  (rasularasy/arrahmah.com)

Topik: , ,