Awal Pembentukan Nushairiyah

Nushairiyah adalah gerakan Bathiniyah Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad ketiga hijriyah. Nama Nushairiyah diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi, yang memiliki kunyah (nama panggilan) Abu Syu’aib. Ia berasal dari Persia dan merupakan seorang penganut Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Ia hidup sezaman dengan tiga imam Syi’ah Itsna Asyariyah, yaitu imam kesepuluh Ali Al-Hadi (214-254 H), imam kesebelas Hasan Al-Askari (230-260 H), dan imam fiktif (imam Al-Mahdi Al-Muntazhar) Muhammad  bin Hasan Al-Akari (255 H…). Menurut para pakar sekte Syi’ah, pada awalnya ia adalah maula (budak yang dimerdekakan) oleh imam kesebelas kaum Syi’ah, Al-Hasan Al-‘Askari. Namun Al-Hasan Al-‘Askari memiliki sikap yang keras Abu Syu’aib karena Abu Syu’aib memiliki banyak keyakinan dan ucapan kufur.

 Abu Syu’aib terlibat perselisihan yang tajam dengan para pengikut Syi’ah Itsna ‘Atsariyah lainnya. Ia mengklaim dirinya sebagai al-bab (penghubung antara kaum syi’ah dengan imam mereka) bagi imam ke-11 Al-Hasan Al-Askari dan imam ke-12, Muhammad bin Hasan Al-Askari yang dijuluki Al-Mahdi Al-Muntazhar. Klaim ini ditolak oleh seluruh kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah lainnya. Karena menurut mereka, al-bab bagi imam ke-11 adalah empat orang, yaitu Utsman bin Sa’id Al-‘Amri, Muhammad bin Utsman bin Sa’id, Husain bin Ruh An-Naubakhti, dan Ali bin Muhammad As-Samiri. (Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami: Aqaiduha wa Hukmul Islam fiiha, Oman: Maktabah Al-Aqsha, cet. 2, 1406 H, hlm. 322-323 dan Ath-Thusi, Kitab Al-Ghaibah, hlm. 241-242)

Akibat perselisihan ini, Ibnu Nushair kemudian memisahkan diri dan membentuk kelompok sendiri yang kelak disebut NUSHAIRIYAH. Ia memimpin kelompok Nushairiyah sampai ia meninggal, tahun 260 H (ada juga pakar sejarah yang menyatakan ia meninggal tahun 270 H).

Sebagaimana seluruh sekte Syi’ah ekstrim lainnya, Nushairiyah juga meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Sumber-sumber Syi’ah sendiri menyebutkan bahwa Al-Hasan Al-‘Askari menulis surat peringatan kepada para pengikutnya yang isinya, “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Nushair An-Numairi dan Ibnu Baba Al-Qumi. Aku berlepas diri dari keduanya. Aku memperingatkanmu dan memperingatkan seluruh mawali (pengikut)ku dari keduanya. Aku memberitahukan kepada kalian bahwa aku melaknat kedua orang itu. Semoga laknat Allah ditimpakan kepada keduanya. Keduanya adalah tukang pembuat fitnah dan perusuh. Semoga Allah menyiksa keduanya, mengirimkan keduanya ke dalam fitnah, dan menjungkir balikkan keduanya di atas fitnah.” (As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asyi’i, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah, hlm. 4)

Al-Hasan Al-‘Askari mengutuk Ibnu Nushair karena ia mengklaim dirinya sebagai nabi dan al-bab (pintu penghubung dengan imam Al-Mahdi Al-Muntazhar, imam ke-12 versi Syi’ah), mengklaim para imam ahlul bait adalah Ilah (tuhan yang berhak disembah), meyakini reinkarnasi, menghalalkan khamr dan homoseksual, dan pendapat-pendapat keji lainnya.

Seluruh literatur Syi’ah sendiri mengakui bahwa Ibnu Nushair An-Numairi telah mengkaim dirinya sebagai seorang nabi dan al-bab, meyakini ketuhanan Ali dan ahlul bait, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan khamr, dan perbuatan bejat lainnya. Berita lengkap tentang Ibnu Nushair juga ditulis oleh ulama Syi’ah, As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asy-Syi’i, dalam bukunya yang berjudul “Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah” dengan mengambil rujukan kepada sumber-sumber terpenting (para ulama besar) Syi’ah seperti Sa’ad Al-Qumi (dalam bukunya Al-Maqalat wal Firaq), An-Naubakhti (dalam bukunya Firaq Asy-Syi’ah), Abu Umar Al-Kasyi (dalam bukunya Rijalul Kasyi), Abu Ja’far Ath-Thusi (dalam bukunya Rijaluth Thusi dan Kitab al-Ghaibah), Al-Halabi (dalam bukunya Ar-Rijal), Ath-Thibrisyi (dalam bukunya Al-Ihtijaj), dan DR. Musthafa Asy-Syibi (dalam bukunya Ash-Shilah baina At-Tashawwuf wa at-Tasyayyu’).

Ulama besar Syi’ah Itsna Asyariyah abad 3 H, Sa’ad bin Abdullah Al-Qumi (mati tahun 301 H) menulis: “Telah menyimpang satu kelompok dari kelompok-kelompok (Syi’ah Itsna ‘Asyariyah—edt) yang mengatakan keimaman Ali bin Muhammad pada masa hidupnya. Kelompok yang menyimpang ini mengakui kenabian seorang laki-laki yang dikenal dengan panggilan Muhammad bin Nushair An-Numairi yang telah mengklaim dirinya sebagai nabi dan rasul. Ia mengklaim bahwa imam Ali bin Muhammad Al-Askari telah mengutusnya sebagai rasul. Ia meyakini reinkarnasi, bersikap ekstrim tentang diri Abul Hasan (Ali bin Abi Thalib–edt) dengan menyatakan Abul Hasan adalah Rabb (Tuhan Sang Pencipta, Pengatur alam, dan Pemberi rizki—edt). Ia menghalalkan menikahi wanita-wanita mahram dan memperbolehkan laki-laki menikahi laki-laki pada duburnya (homoseksual), dan menyatakn hal itu adalah bukti tawadhu’ (kerendahan hhati) dan penghinaan diri terhadap obyek seksual…(Al-Maqalat wal Firaq, hlm. 100-101)

Ulama besar Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang lain, An-Naubakhti (mati tahun 310 H) dalam bukunya Firaq Asy-Syi’ah juga menyebutkan fakta yang sama. Ulama besar fiqih di kalangan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Abu Ja’far Ath-Thusi, dalam bukunya Kitab Al-Ghaibah menjuluki Ibnu Nushair An-Numairi sebagai  orang atheis, menyimpang, dan bodoh.

Penjelasan para ulama Syi’ah Itsna ‘Asyariyah pada abad-abad terdahulu ini ditegaskan kembali oleh seorang ulama besar Syi’ah Itsna ‘Atsariyah kontemporer, Muhammad Ridha Syamsudin. Ia diutus oleh Abdul Hadi Asy-Syairazi, pemimpin ulama besar Syi’ah Istna ‘asyariyah di kota ilmu mereka, Nejef, untuk mengunjungi dan meneliti keadaan kelompok Nushairiyah di Suriah, tahun 1376 H. Dalam laporan kunjungan tersebut, Muhammad Ridha Syamsudin menulis:

Sesungguhnya kelompok Nushairiyah sampai hari ini masih memegang teguh pemikiran pemimpin mereka, Muhammad bin Nushair.” Ia menyebutkan bahwa kunjungannya disambut dengan hangat oleh kelompok Nushairiyah. Hanyasaja ia memperhatikan bahwa kelompok Nushairiyah sama sekali tidak peduli dengan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, shaum, haji, dan di wilayah mereka tidak ada masjid. Ia juga mendapati keyakinan reinkarnasi masih tersebar merata di antara mereka.

Kesaksian ulama besar Syi’ah Itsna Atsariyah ini merupakan bukti sangat otentik dan valid dari kalangan mereka sendiri. Kesaksian hasil kunjungan di tahun 1376 H itu dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Al-‘Alawiyyun fi Suriyah, dan dimuat pula oleh ulama Syi’ah lainnya, As-Sayid Abdul Husain Asy-Syi’i dalam bukunya, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah.

Perlu dicatat, Ibnu Nushair bukanlah orang Syi’ah pertama yang mengklaim Ali bin Abi Thalib dan para imam anak keturunannya adalah Rabb, Ilah, dan mengetahui ilmu tentang hal-hal ghaib. Orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, yang hidup di zaman Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Syi’ah Saba’iyah. Setelah itu muncul Bayan dengan kelompoknya, Syi’ah Bayaniyah, yang meyakini Allah bersatu dengan jasad Ali bin Abi Thalib, sehingga Ali mengetahui segala hal yang ghaib.

Setelah itu, muncul Abul Khathab dengan kelompok Syi’ah Khathabiyah yang mengklaim para imam adalah Tuhan-tuhan yang harus disembah. Imam Ja’far Ash-Shadiq berlepas diri dari Abul Khatab, mencelanya, dan mengusirnya. Setelah itu, kesesatan Abul Khatab justru semakin menjadi-jadi. Ia mengklaim dirinya adalah Tuhan. Ibnu Nushair An-Numair banyak mengambil pemikiran Khathabiyah sebagai pijakan akidah kelompoknya. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 324 dan Al-Maqalat wal Firaq hlm. 63)

Khathabiyah adalah kelompok ekstrim Syi’ah pengikut Abul Khathab Al-Mukhallis Muhammad bin Abu Zainab Al-Kahili. Menurut kelompok Nushairiyah, ia adalah al-bab bagi imam ke-7 kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Musa al-Kazhim. Abu Khatab adalah tokoh panutan Nushairiyah, karena dari dirinyalah Nushairiyah mengambil pendapat bersatunya Allah dengan jasad Ali bin Abi Thalib dan para imam ahlul bait. Murid utama Abul Khatab adalah Mufadhal bin Umar Al-Ju’fi, tokoh yang menulis buku Al-Haft wa Al-Azhilah. Buku ini diyakini oleh kelompok Nushairiyah sebagai kitab ‘suci’ mereka.  

Barangkali satu-satunya hal yang berubah hanyalah sikap Syi’ah Itsna Asyariyah tempo dulu dengan sikap kontemporer mereka terhadap sekte Nushairiyah. Imam kesebelas ahlul bait dan tokoh-tokoh ulama Syi’ah Itsna Atsariyah tempo dulu sepakat menghujat Nushairiyah. Namun, sekarang para tokoh Syi’ah Itsna Atsariyah telah merangkul dan mengakui sekte Nushairiyah sebagai bagian tak terpisahkan dari Syi’ah Itsna Atsariyah. Pemimpin ulama Syi’ah Itsna Atsariyah di kota ilmu, Nejef, Abdul Hadi Asy-Syairazi telah menegaskan hal itu dalam bukunya yang berjudul “Al-‘Alawiyyun Syi’atu Ahlil Bait.”

Realita kontemporer memang menjadi bukti tak terbantahkan atas persatuan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah dan Nushairiyah. Sebagai sesama syi’ah ekstrim yang memiliki banyak akidah kufur (meyakini unsur ketuhanan pada diri Ali dan imam-imam ahlul bait, meyakini para imam memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib, meyakini para imam berkuasa mengatur kehidupan seluruh makhluk, dst), amat wajar bila anak bernama Nushairiyah ini pulang kandang ke pangkuan induk semangnya, Syi’ah Itsna Atsariyah. Keberpihakan Syi’ah Nushairiyah yang membantu Syi’ah Itsna ‘Asyariyah dalam membantai kaum muslimin di Lebanon dan Suriah sudah bukan rahasia lagi. (Alwi As-Saqaf, An-Nushairiyah, hlm. 6)

 

Nama-nama Kelompok Nushairiyah

Kelompok Syi’ah ekstrim ini dikenal dengan beberapa nama, yaitu:

  1. Nushairiyah. Menurut pendapat yang paling kuat, nama ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi. Nama ini adalah nama yang dibenci oleh para pengikut Nushairiyah. Mereka membela diri dengan menuduh penamaa ini berasal dari musuh-musuh mereka atas dasar kebencian. Namun fakta sejarah sejak zaman pendiri gerakan ini telah mengaitkan penamaannya dengan nama pendirinya. Bahkan, sekte-sekte ekstrim Syi’ah Itsna Asyariyah yang lain juga menyebut mereka dengan nama ini. Sehingga nama ini adalah nama mereka yang paling populer sampai saat ini.
  2. ‘Alawiyyun. Nama ini adalah nama yang paling disukai oleh para pengikut Nushairiyah, terutama demi meraih simpati dan kedekatan dengan sekte-sekte Syi’ah lainnya. Para pakar sejarah menyatakan mereka disebut ‘Alawiyyun karena menyembah Ali bin Abi Thalib dan para imam keturunannya. Mereka meyakini Ali adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Nama ini kembali dikukuhkan sebagai gelar kehormatan untuk mereka oleh penjajah Perancis saat menduduki Suriah pada Perang Dunia I, 1917 M. Gubernur Jendral Perancis di Suriah telah mengeluarkan surat keputusan resmi pada tahun 1920 M yang mengakui Al-Alawiyyun sebagai pengikut dan pembela kepentingan penjajahan Perancis. Dalam hal ini, kedudukan kelompok Nushairiyah bagi penjajah Perancis adalah seperti kedudukan agama Ahmadiyah-Qadiyaniyah bagi penjajah Inggris di India.
  3. Numairiyah. Nama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi.
  4. Surak. Nama ini diberikan oleh penguasa Turki pada saat menguasai negeri-negeri Syam. Maknanya dalam bahasa Turki kuno adalah orang-orang buangan.
  5. Syimaliyah dan Kalaziyah. Syimaliyah adalaha kelompok Nushairiyah yang meyakini bahwa setelah meninggalkan jasad manusiawinya, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan bersemayam di bulan. Adapun Kalaziyah adalah kelompok Nushairiyah yang meyakini bahwa setelah meninggalkan jasad manusiawinya, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan bersemayam di matahari. Oleh karenanya, kedua kelompok ini mengagungkan bulan dan matahari, dan melakukan sembahyang menghadapnya. (Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah, hal. 63)
  6. Terdapat beberapa nama lokal untuk mereka, seperti Takhtajiyah, Hathabun di Anatholia Barat, dan ‘Ali Ilahiyat di kawasan Persia, Turkistan, dan Kurdistan. (Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah, hlm. 31-32 dan Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hal. 323)

Bersambung…

Serial Kajian Syia’h Ekstrim Nushairiyah
Oleh: Muhib al-Majdi
http://www.arrahmah.com
filter your mind, get the truth