LONDON (Arrahmah.com) – Beberapa masjid di Inggris sedang meningkatkan keamanan setelah pembantaian yang mengerikan di Norwegia oleh seorang pria yang takut bahwa Muslim akan mengambil alih Eropa, sebuah serangan yang memperlihatkan kegagalan untuk membasmi Islamofobia yang telah mendarah daging dalam arus utama Eropa.

Para pemimpin pemerintah Eropa bahkan terus menggemburkan ketakutan terhadap Islam melalui langkah-langkah seperti larangan niqab di ruang publik, yang bertujuan memenuhi tuntutan mayoritas non-muslim yang waspada pada meningkatnya populasi Muslim di benua tersebut.

Para pemimpin komunitas Muslim mengatakan sudah waktunya bagi pemerintah untuk sadar terhadap ancaman ekstrimisme anti-Islam dan berhenti memberi ruang bagi gerakan ultranasionalis yang telah membuat terobosan politik di Belanda hingga Austria.

“Orang-orang cemas dan takut bahwa kami akan menjadi target berikutnya,” kata Mohammed Shafiq dari Yayasan Ramadhan, salah satu organisasi Muslim terbesar di Inggris. Dia berbicara kepada Associated Press dalam wawancara melalui telepon di sela-sela pertemuan cendekiawan dan pemimpin Muslim internasional, Minggu (23/7/2011). “Akibatnya, kami telah memberitahu orang untuk terus waspada dan akan ada tambahan keamanan ekstra yang ditempatkan di masjid-masjid.”

Mohammed Bechari, kepala Konferensi Islam Eropa, mengatakan bahwa meskipun jutaan Muslim Eropa lahir di sini dan telah berasimilasi ke dalam masyarakat yang menganggap dirinya terbuka dan toleran, “meningkatnya Islamofobia, rasisme, dan sentimen anti-Muslim telah menjadi semacam norma di benua ini.”

Beberapa jam setelah serangan teroris Norwegia pada hari Jumat (22/7), Belgia mulai memberlakukan undang-undang yang berisi pelarangan niqab, dengan dalih keamanan. Perancis, dengan populasi Muslim terbesar di Eropa Barat, memberlakukan hukum yang sama, dan Swiss pun telah melarang menara masjid.

Dinding sebuah masjid di kota Berezovsky di Rusia dicoret pada Jumat semalam (22/7) dengan tulisan “Rusia untuk Rusia!”, menurut situs Islamnews.ru. Sementara di Perancis, kuburan yang biasa digunakan oleh Muslim secara teratur dirusak.

Saat berita tentang serangan Norwegia pertama kali muncul, kecurigaan segera jatuh pada  Islam, yang bertanggung jawab untuk beberapa insiden teror di Eropa.

Ternyata, pemberitaan itu meleset 180 derajat. Tersangka utamanya adalah seorang pria berambut pirang yang anti-Islam serta memiliki pandangan Kristen fundamentalis.

Di Inggris dalam beberapa pekan terakhir, sebuah kepala babi sengaja disimpan di luar masjid Oxford, serta sejumlah serangan berulang terhadap kaum perempuan mengenakan jilbab dan niqab, kata Shafiq.

Kelompok Muslim itu mengatakan mereka telah lama memperingatkan polisi Inggris mengenai permusuhan kelompok sayap kanan yang terus meningkat dan dilampiaskan dalam berbagai bentuk kejahatan yang meresahkan. (althaf/arrahmah.com)