Reportase Arrahmah.com berjudul Mereka Telah Pergi, Namun Aksinya Masih Deperdebatkan, mendapat bantahan. Penulis buku Mengoreksi Jihad Global Imam Samudra, Hepi Andi Bastoni, mengirimkan email kepada redaksi Arrahmah.com dan keberatan atas reportase acara diskusi buku tersebut. Berikut emailnya.

Bantahan dari Penulis Buku
MENGOREKSI JIHAD GLOBAL IMAM SAMUDERA
Terhadap pemberitaan http://www.ar-rahman.com

baca berita lengkapnya disini

Pro Kontra Bom Syahid di Wilayah Aman
(Bantahan dari Penulis Buku Mengoreksi Jihad Global Imam Samudera)

Oleh: Hepi Andi Bastoni
email:

andi_bastoni@yahoo.com.

Ada beberapa kesalahan FATAL dalam pemberitaan (tulisan) yang dimuat di http://www.ar-rahmah.com tersebut.

1.    Di paragraf kedua, ada kesalahan ketik pada nama penulis. Tertulis Hepi Andi Bastono, padahal yang benar adalah Hepi Andi Bastoni. Namun ini tidak terlalu signifikan.

2.    Pada paragraf ketiga tertulis: Walau banyak kekurangan dalam buku serta ketidakjelasan fikrah buku tersebut, namun salah satu anggota DPR dari PKS menyatakan dukungannya yang tertuang dalam testimoni.

Entah apa maksud penulis berita ini dengan menyebut buku Mengoreksi Jihad Global Imam Samudera (MJGIS), dengan ketidakjelasan fikrah. Padahal, jika pembaca buku ini meneliti dengan detil, fikrahnya begitu jelas. Yang dikritik bukan jihadnya tapi metode yang dipakai Imam Samudera dan kawan-kawan. Pemikiran seperti ini tidak muncul dari penulis sendiri. Pada galeri pendapat di akhir buku, ada beberapa tokoh Islam yang secara umum tidak sependapat dengan aksi Imam Samudera dkk. Almarhum KH Ohan Sujana, misalnya, pada halaman 132 mengatakan: Itu memang salah. (Sebab), itu kan (orang asing yang ada di Bali, pen), bukan kafir harbi. Pada halaman 133 Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan: Mereka Patut Dikoreksi… Mereka cuma salah perhitungan. Kenapa mengebom di wilayah aman? Kalau di wilayah perang tidak apa-apa.

KH Cholil Ridwan pada halaman 137 mengatakan: Kasus Imam Samudera Penuh dengan Pertanyaan. KH Cholil menambahkan, ada ditemukan bahan C-4 yang tidak bisa diperoleh oleh ketiganya. Lebih tegas, pada halaman 138, Juru Bicara HTI Ismail Yusanto mengatakan: Ini Adalah Operasi Intelijen. Ustadz Syuhada Bahri pada halaman 142 menegaskan: Aksi Bomnya Kita Tidak Setuju. Pendapat Mahfudz Siddiq yang disinggung penulis dalam tulisannya, justru tidak setegas komentar tokoh lainnya. Pada halaman 144, ia hanya mengatakan: …mengutip pendapat Yusuf al-Qaradhawi, jihad senjata hanya bisa dilakukan di wilayah konflik atau yang sedang berperang.

Jadi, aksi Imam Samudera dkk memang penuh kontroversi. Masalah setuju dan tidak, itu ijtihad masing-masing. Pendapat penulis dalam buku MJGIS, bahwa jihad fisik itu wajib dan sudah sangat jelas dalam syariat Islam. Namun pelaksanaannya, tidak bisa dilakukan serampangan. Harus ada aturan. Di antaranya adalah tidak dilakukan di wilayah aman, dimana tak sedang berlangsung perang. Seandainya, aksi Imam Samudera dkk itu dilaksanakan di Afgan atau Palestina, penulis buku MJGIS setuju 100 persen! Dan, pendapat ini dianut oleh banyak kalangan.

3.    Ini kesalahan paling fatal yang dilakukan penulis berita di atas. Yakni, “Dalam buku di halaman 190, mereka (penulis-red) menyitir sebuah hadist yang tidak beralasan, hadist tersebut berbunyi “Kita telah kembali dari perang kecil menuju perang besar, yaitu perang melawan hawa nafsu).  Jika digali menurut ilmu hadist, hadist ini adalah hadist dhaif atau maudu’ dan tidak terdapat dibanyak kitab, hanya terdapat di kitab Ihya Ulumuddin tulisan Imam Ghazali,” ujar Ust. Abu Jibriel mengomentari isi buku.

Kesalahan pertama: Buku MJGIS terdiri hanya 161 halaman. Bagaimana mungkin dalam berita itu disebutkan halaman 190! Entah Ustadz Abu Jibrilnya yang salah ucap atau penulis berita itu yang salah tulis, yang jelas, halaman 190 dalam buku MJGIS itu tidak ada! Kalau halamannya saja tidak ada, bagaimana mungkin hadits dhaif itu bisa masuk. Untuk diketahui, ketiga penulis buku MJGIS tersebut pernah mengenyam pendidikan di LIPIA Jakarta. Tentu sudah sangat mafhum bahwa hadits dimaksud adalah dhaif. Jadi, sangat mustahil kami (para penulis) menggunakan hadits itu sebagai dalil.

Penulis memang mencantumkan hadits tersebut di halaman 114 dan bukan 190. Namun pencantuman itu justru untuk memberi tahu pembaca bahwa hadits itu bermasalah. Berikut kami kutipkan langsung tulisan tentang hadits tersebut dari halaman 114: Rasulullah bersabda, “Kita baru kembali dari jihad kecil  menuju jihad besar.” Hadits ini dhaif secara riwayat bahkan ada yang mengatakan palsu. Hadits dhaif atau palsu ini juga yang melandasi……”

Jadi, berita tentang acara Bedah Buku MJGIS tersebut sangat menyesatkan. Penulis buku MJGIS hampir bisa menyimpulkan, saudara Hanin Mazaya (penulis berita itu) belum atau tidak membaca lengkap isi buku MJGIS. Jika ia membaca dengan lengkap, maka kesimpulan yang mengatakan bahwa buku MJGIS bermaksud melencengkan makna jihad tak kan muncul.

Sebaliknya, jika Anda membaca bab awal buku MJGIS ini, Anda akan mendapatkan pujian dan sanjungan penulis terhadap pribadi Imam Samudera dkk. Bahkan, dalam majalah al-Mujtama’ edisi 8 Th 1 27 November 2008, penulis menurunkan artikel berjudul Aroma Wangi Sambut Jenazah Amrozi Cs. Meski tidak secara tegas menyebut ketiganya syahid, tapi dari tanda-tandanya, penulis menyimpulkan dan turut berdoa: Imam Samudera digolongkan ke dalam kelompok para syuhada. Wallahu a’lam.

—————————————————————————————————

Arrahmah.com, 100 % Jihad

Berikut beberapa catatan dari Arrahmah.com mengomentari email dari Hepi Andi Bastoni. Arrahmah.com mengakui terdapat kesalahan penulisan nama, dari yang seharusnya ditulis Hepi Andi Bastoni, menjadi Hepi Andi Bastono, dan sebagaimana disampaikan sendiri oleh Hepi Andi Bastoni, hal tersebut tidak terlalu signifikan. Kesalahan ketik semacam ini manusiawi, dan bisa menimpa siapa saja, sebagaimana Hepi Andi Bastoni juga salah ketika menulis nama dan alamat situs Arrahmah.com menjadi :  http://www.ar-rahman.com (seharusnya /). Namun demikian, Arrahmah.com tetap menghaturkan permohonan maaf dalam kesalahan ini.

Tiap media, apalagi personal, memiliki fikrah berbeda-beda. Jika Arrahmah.com dalam laporan atau pemberitaannya menilai fikrah seseorang atau buku tertentu tidak jelas, maka itu adalah hak Arrahmah.com. Hal penting yang harus digaris bawahi adalah Arrahmah.com hanya menyimpulkan jalannya acara “Diskusi dan Bedah Buku Mengoreksi Jihad Global Imam Samudra” pada tanggal 17 April 2009 di masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, dan mengutip inti diskusi yang disampaikan oleh para pembicara.

Arrahmah.com bisa menerima pendapat penulis MJGIS, yang mengatakan bahwa aksi Imam dkk penuh kontroversi. Tapi yang juga harus diingat, pendapat penulis MJGIS juga kontroversi, ketika mengemukakan beberapa alasan, seperti ; pelaksanaan aksi tidak bisa dilakukan serampangan, harus ada aturan, wilayah aman, dimana tak sedang berlangsung perang. Arrahmah.com yakin bahwa Trio Syuhada telah memahami dan memilih aksi mereka dengan pemahaman fiqh jihad yang berbeda dengan penulis MJGIS dan mereka (Trio Syuhada) yakin dan setuju 100 persen dengan aksi mereka, meskipun pendapat ini tidak dianut oleh banyak kalangan. Bukankah kebenaran itu tetap kebenaran, meskipun hanya seorang diri?! 

Arrahmah.com kembali mengakui kesalahan dalam pengutipan hadits yang terdapat di dalam buku MJGIS, yang seharusnya di halaman 109, namun ditulis di halaman 190. Sudah kami sampaikan di awal, ini juga manusiawi. Esensi terpenting adalah hadits dhaif (bahkan palsu) yang telah dikomentari oleh Ustadz Abu Jibriel. Kami telah mengkonfirmasi hal ini kepada Ustadz Abu Jibriel dan beliau menyampaikan yang beliau permasalahkan adalah mengapa hadits tersebut tertulis dengan perawi Imam At Tirmidzi, sedangkan Imam At Tirmidzi tidak pernah meriwayatkan hadits tersebut. Apalagi, ketika hadits dhaif tersebut dijadikan dalil oleh Ustadz Sobari di buku tersebut, penulis MJGIS tidak membantahnya secara tegas. Ini tentu akan mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap hadits tersebut.

Dengan demikian Arrahmah.com hanya menjalankan tugas jurnalismenya, yakni amar ma’ruf nahi munkar dan menyampaikan apa adanya acara tersebut sesuai dengan fikrah, serta visi dan misi Arrahmah.com. Dengan demikian, tentang pemahaman jihad yang lurus bisa saja berbeda antara Arrahmah.com dengan penulis buku MJGIS, atau yang lainnya. Atas dasar itu pula, Arrahmah.com bisa saja menganggap sebuah buku atau pemahaman tertentu melenceng atau bertentangan dengan pemahaman jihad yang shahih. 

Wallahu’alam bis showab!

Redaksi Arrahmah.Com

Topik: