SERBIA (Arrahmah.com) – Kepala polisi rahasia mantan Presiden Milosevic dan organisator kelompok pembantaian warga Serbia selama pembersihan etnis oleh negara pecahan Yugoslavia itu ternyata adalah agen tertinggi CIA Amerika Serikat di Belgrad, menurut laporan dari Radio independen Beograd B92.

Tuduhan yang melibatkan Jovica Stanistic, kepala polisi rahasia BD sejak 1992 sampai akhir dasawarsa secara teratur memberitahukan anggota CIA mengenai di kondisi internal  kabinet Milosevic telah mengejutkan Serbia.

Stanisic pada akhirnya mengakui ia telah melayani dua orang tuannya selama delapan tahun dengan sangat setia. Saat ini ia tengah menghadapi tuduhan melakukan kejahatan perang di Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag.

Selama bertahun-tahun Yoguslavia hidup dalam peperangan yang mengerikan, dia bertindak sebagai penggerak kampanye pembantaian Milosevic di Kroasia, Kosovo dan Bosnia, termasuk Sebrenica.

Berdasarkan tuduhan yang dihadapinya, Stanisic merupakan bagian dari jaringan kejahatan yang terdiri dari mantan presiden Serbia Slobodan MIlosevic dan politisi Serbia lainnya.

Dermot Groome, jaksa kepala Den Haag, secara spesifik menuduhnya memberangkatkan pasukan mematikan Kalajengking dan Baret Merah Serbia ke beberapa negara bagian yang meminta kemerdekaan dari Belgrad.

Seperti mata-mata Perang Dingin, kepala polisi rahasia Serbia menemui CIA di tempat yang aman, taman dan perahu di sungai Sava untuk mengkhianati rencana aksi tuannya. Dia menyediakan informasi tempat penyanderaan anggota NATO, membantu CIA dalam untuk membuat kuburan massal bagi para muslim dan menolong AS membuat basis rahasia di Bosnia untuk mengawasi pelaksanaan kesepakatan damai Dayton 1995.

Ini seperti menjadi pertanyaan yang membuat Washington kikuk. Dengan seperangkat rancangan pembantaian orang-orang Kroasia, Bosnia, dan Albania oleh Stanisic dari awal 1990-an, haruskah Presiden Clinton memutuskan kesepakatan dengan Milosevic di Dayton, Ohio, dalam rangka mengakhiri perang Bosnia dengan syarat-syarat yang adil bagi orang Serbia? Atau, memakai bukti Stanisic, haruskah Amerika tidak membuka kedok Milosevic dan Radovan Karadzic, petinggi Republika Srpska, sebagai penjahat perang dan pembantaian dan meminta penyerahan mereka?

Dari sel penjaranya di Den Haag, Stanisic menyangkal tuduhan terhadapnya melalui sebuah memoar yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai orang yang sudah mencoba meredakan Milosevic dan sudah melakukan transaksi luar biasa untuk meredakan kegawatan.

Dalam gerakan yang tak biasa, CIA sudah mengajukan dokumen sangat rahasia ke pengadilan yang menegaskan bahwa Stanisic memiliki rencana lain di balik aktivitas ‘membantu untuk mewujudkan perdamaian bagi daerah dan membantu kerja agen’. Dia membantu mengamankan beberapa tindakan perang Bosnia yang paling eksplosif.

Dalam wawancara dengan majalah Los Angeles Times, William Lofgren, penyeleksi anggota CIA, sekarang pensiun, mengatakan: “Stanisic menyediakan informasi berharga dari lingkaran dalam Milosevic. Tetapi dia tidak pernah menerima uang dari CIA, mengerjakan dengan agen dalam sebuah operasi atau mengambil langkah terang-terangan bahwa untuk mengkhianati majikannya.”

Oleh karena itu, Persidangan Den Haag kini harus menghakimi seseorang yang menurut dugaan mengirim pasukan kematian Kalajengking ke Srebrenica untuk membuat kesepakatan dengan siapapun yang melarikan diri dari wilayah muslim yang dilindungi PBB, sembari bekerja dengan CIA mengakhiri perang etnis Milosevic.

Cara yang rupanya dilihatkan CIA mengenai ‘aset’ Belgrad diperlihatkan dalam wawancara dengan Balkan Insight, yang sedikit diketahui oleh orang Eropa tenggara.

Gambar yang muncul adalah bayangan tua dan menarik dari aula cermin. Greg Miller dalam Los Angeles Times, menulis tentang hubungan antara CIA dan kepala polisi rahasia Serbia, yang mengatakan: “Saat saya bercerita dalam LAT, CIA tidak melihat Stanisic sebagai seorang ‘anggota paduan suara’. Ketika anda berbicara dengan orang-orang yang bekerja untuk aksi mata-mata, maka ini yang seringkali jadi kasus.”

“Karena sifat pekerjaan itu, tugas itu, mereka bekerja dengan orang-orang yang tidak mempunyai rekor yang tak bersalah. Namun akan sulit dan tidak efektif bagi mereka jika hanya bekerja dengan orang yang tidak bersalah,” ungkap Miller.

“Orang-orang di Belgrad yang sudah mengikuti karir Jovica Stanisic akan mengatakan bahwa Stanistic adalah seorang pakar di bidangnya; dia adalah mata-mata yang terlatih dan efektif. Motivasinya adalah mengetahui apa yang ingin dilakukan AS.”

“Dia tidak percaya bahwa Milosevic membawa negara ini di jalur yang benar – oleh sebab itu, dia ingin mempengaruhi peristiwa dan kegiatan. Dia melihat dirinya sebagai orang penting yang dapat menciptakan situasi tertentu yang akan mempengaruhi ha-hal yang akan terjadi di Belgrad.

Stanisic rupanya akan melakukannya sendiri, sambil tetap menjadi seorang Serbia yang Loyal. Namun ia tidak berhasil.

Sekarang dia mesti menjelaskan tindakannya sebagai letnan setia Milosevic di Den Haag. (Althaf/arrahmah/tum/sunhrld)