Apakah anda menyebut diri anda sendiri sebagai teroris? Ya, saya seorang teroris. Apa ada masalah dengan hal itu? Kalau saya ingin meneror musuh Allah, apa ada masalah dengannya? Demikian Abu ’Umar seorang anggota ’Usbat Al Ansar’, berjihad di Iraq dan melakukan training-training di sana sekaligus merupakan supplier senjata bagi Al Qaidah Iraq.

Abu UmarDalam sebuah wawancara oleh TV Al-Arabiya Abu ‘Umar dengan santai menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial seputar jihad Iraq, Syekh Abu Mu’sab Az Zarqawi r.h. dan bagaimana Al Qaedah bisa mendapatkan dana sekaligus melatih para mujahidin di sana. Rekaman berdurasi 18 menit ini aslinya dalam bahasa arab dan dilengkapi teks bahasa Inggris atas kerjasama dengan Memri TV (versi lengkapnya tanpa teks dalam bahasa Inggris berdurasi lebih dari 38 menit).

Wawancara ini akan memancarkan kejeniusan dan kebenaran posisi yang dimiliki Abu Umar saat ia mengabdi pada jihad Iraq. Dari apa yang kelihatan pada wawancara ini, beliau masih menjadi bagian Al-Qaeda, tetapi bukan sebagai anggota aktif sesuai dengan keadaan beliau. The New York Times bahkan mewawancarai beliau dan menjuluki beliau sebagai ’Jihadi Trainer’.

Wawancara ini juga menunjukkan sisi humoris seorang Abu Umar. Beberapa hal penting dibicarakan oleh Abu Umar tentang mengapa intelijen Syria mendekati Abu Mus’ab Az-Zarqawi, bagaimana Syiah diilhami oleh Iran untuk memerangi pendudukan pada sebuah negara, bagaimana Al-Qaeda didanai, banyaknya ragam ras dari seluruh penjuru dunia yang berpartisipasi dalam jihad, dan hubungan antara Al-Qaeda dan Ansar Al-Sunnah. Sebuah wawancara spektakuler dari ’orang’ Al Qaedah dan pelaku langsung aksi-aksi jihad di Iraq. Selamat menikmati. (Abu ’Umar dalam hal ini memakai nama Jawhar)

Abu Umar 

Pewawancara : Siapakah shuhada Jawhar? Siapa anda? Siapa “Abu Umar”?

Jawhar : Saya adalah muslim, manusia biasa, seorang Palestina. Saya adalah seorang pengungsi, tinggal di tenda pengungsi Palestina (di Lebanon).

[…]

Pewawancara: Di bagian apakah pekerjaanmu, di ‘Ein Al-Hilweh?

Jawhar: Saya adalah seorang pedagang – dealer senjata.

Pewawancara: Anda bekerja sebagai dealer senjata?

Jawhar: Ya. Apa salahnya dengan itu? Apakah itu terlarang, atau sesuatu?

Pewawancara: Anda melakukan ini di kamp pengungsi di ‘Ein Al-Hilweh, atau di luarnya?

Jawhar: Dari luar ‘Ein Al-Hilweh dan sebaliknya.

Pewawancara: Dari luar ‘Ein Al-Hilweh…

Jawhar: Orang datang ke ‘Ein Al-Hilweh untuk membeli senjata-senjata, dan yang lainnya datang untuk menjual senjata-senjata.

Pewawancara: Dari Lebanon atau dari luar negeri?

Jawhar: Mereka datang dari Lebanon. Apa yang Anda harapkan, orang-orang dari Antioch?

Pewawancara: Apa mereka datang dari kamp pengungsi Palestina?

Jawhar: Tidak, dari sini. Dari Sidon dan Beirut. Mereka orang Lebanon. Kebanyakan orang yang membeli senjata adalah orang Lebanon, bukan orang Palestina.

Pewawancara: Siapa yang menyediakan senjata-senjata yang anda jual?

Jawhar: Kamp pengungsi penuh dengan senjata. Dealer senjata datang ke kamp setiap saat. Mereka datang dengan lisensi. Negara membantu mereka memperoleh senjata tersebut.

[…]

Abu Umar

Pewawancara: Bagaimana anda bisa memunculkan ide untuk pergi ke Iraq?

Jawhar: Sebagian besar pemuda Muslim di Lebanon berhasrat melihat jihad di Iraq. Sebagaimana anda tahu, pada umumnya, sistem dan struktur Lebanon menghalangimu untuk pergi berperang di Palestina, walaupun begitu Palestina harus didahulukan daripada Iraq dan dari semua negara lainnya. Palestina adalah alasan utama kita. Struktur di Lebanon sini memang benar-benar kacau. Anda harus melalui ratusan ribu penghambat agar supaya mampu memerangi Yahudi di Palestina. Hal tersebut mustahil, karena tidak ada seorangpun -tanpa pengecualian- menginginkan pemuda muslim untuk pergi dan memerangi yahudi. Bahkan mereka yang memerangi yahudi melakukannya di luar pertimbangan mereka sendiri, dan tidak keluar dari ideologi. Saya mengatakan ini tentang setiap orang, tanpa pengecualian. Oleh karena itu, Iraq lebih dekat dari Palestina -bukan dalam kaitan dengan jarak, tetapi dalam pengertian bahwa anda dapat berperang di sana, karena setiap orang membuka gerbang menuju Iraq, tetapi menutup gerbang ke Palestina, walaupun itu lebih penting.

Pewawancara: Jadi anda pergi ke Iraq untuk berjihad.

Jawhar: Ya iyalah. Apa anda pikir saya pergi ke sana untuk bergabung dengan tim bowling atau tim bola basket?

[…]

Pewawancara: Bagaimana anda bisa sampai sana? Melalui perantara? Siapakah dia? Ke mana anda pergi dari ‘Ein Al-Hilweh?

Jawhar: Dari perbatasan Syria, seorang pemuda Syria membawa kami… Penyelundup ini adalah seorang Syria, dan membawa kami pada suatu tempat yang saya tidak tahu di Damaskus, dan kemudian ada van datang dan membawa kami ke jantung Damaskus. Lalu seorang ikhwan (brother) bertanggung jawab menerima kedatangan (para mujahid). Semua ini telah terkoordinasi terlebih dahulu -dari sini ke Shtura, dari Shtura ke Damaskus, dan dari Damaskus ke Iraq. Segala sesuatunya terkordinir oleh seorang ikhwan yang bertanggung jawab akan hal ini. Mereka menerima ikhwan-ikhwan dan mengirim mereka. Semua ini terorganisir. Tidak ada yang dibuat-buat semaunya sendiri.

[…]

Pewawancara: Jadi saat anda tiba di [Iraq], mereka menempatkan anda di “rumah tamu.”

Jawhar: Itu adalah sebuah rumah biasa. Kami menyebut rumah yang kami diami sebagai “rumah tamu.”

Pewawancara: Dan setelah dari rumah tamu?

Jawhar: Ya bekerja.

[…]

Pewawancara: Apakah aturan anda? Apa yang anda sudah lakukan?

Jawhar: Saya pergi ke sana untuk memimpin training militer.

Pewawancara: Training seperti apa?

Jawhar: Saya mentraining ikhwan-ikhwan untuk peperangan gerilya.

Pewawancara: Seperti apa peperangan gerilya itu?

Jawhar: Secara definisi, peperangan gerilya adalah perang dari yang lemah melawan yang kuat. Perang gerilya berbeda dari perang antara dua bala tentara.

Pewawancara: Jadi Anda mentraining mereka untuk berperang dengan senjata?

Jawhar: Saya mentraining mereka di peperangan di daerah perkotaan, menyerang, menyergap, dan menyerbu. Itulah yang dimaksud perang gerilya.

Pewawancara: Apakah Anda berpartisipasi dalam operasi?

Jawhar: Ya.

Pewawancara: Operasi-operasi yang seperti apa?

Jawhar: Hal-hal umum. Kami biasa menyerbu orang-orang Amerika. Kami biasanya memiliki operasi untuk melawan orang-orang amerika yang berada di Iraq. Kami juga terbiasa untuk mengatur penyergapan dan penyerbuan pos-pos orang Amerika.

[…]

Pewawancara: Anda berkata “melawan orang-orang Amerika”, tetapi apakah kamu mentargetkan hanya orang-orang Amerika saja?

Jawhar: Setiap orang dijadikan sasaran, tetapi orang-orang Amerika menempati tempat utama.

Pewawancara: Siapakah yang anda maksud dengan “tiap orang”?

Jawhar: Siapapun yang berperang melawan “bahwa tidak ada Ilaah selain Allah.” Apakah seorang yang membela Amerika lebih baik dari mereka? Orang-orang kafir itu adalah satu dan sama saja. Seorang kafir tetaplah seorang kafir -baik dia orang Palestina, Yahudi, atau seorang Argentina. Orang-orang kafir adalah satu dan sama saja, sedangkan seorang muslim Amerika tetaplah merupakan seorang Muslim. Jadi apa masalahnya? Apa, seorang iraq yang menyimpang dan membantu Amerika harus diperlakukan selayaknya seorang yang VIP (orang yang sangat penting)? Dia jauh lebih buruk daripada orang-orang Amerika.

Pewawancara: Apakah anda mendukung ideologi Al-Qaeda saat anda pergi demi Iraq?

Jawhar: Apa, Al-Qaeda membuat-buat ideologi ini? Mereka memperoleh ideologi mereka dari Al Qur’an dan As Sunnah.

[…]

Pewawancara: Apakah anda menjumpai orang-orang dari berbagai kewarganegaraan…

Jawhar: Karena Allah, orang-orang datang dan menjadi syahid, dan kami bahkan tidak mengetahui kewarganegaraan mereka. Mari kuberitahukan sesuatu -seorang ikhwan terbunuh, dan kami masih mencoba menebak apakah dia berasal dari Eritrea, Yaman atau Sudan.

Pewawancara: Saudara Abu Omar, dari pengalamanmu, kewarganegaraan apa yang lazim di sana, selain daripada orang-orang Iraq, tentunya…

Jawhar: Adanya orang-orang Iraq di sana?!

Pewawancara: Maksudku terlepas dari orang-orang Iraq tersebut…

Jawhar: Tidak ada orang-orang Iraq bersama kami.

Pewawancara: Apakah anda serius?

Jawhar: Mereka maunya pergi tidur di rumah-rumah mereka, sementara kami tidur di pos-pos kami.

Pewawancara: Mereka nggak takut tidur di rumah-rumah mereka?

Jawhar: Untuk apa mereka harus takut? Kebanyakan dari mereka tidak dikenal [sebagai anggota Al-Qaeda]. Hanya beberapa dari mereka yang dikenal sebagai anggota Al-Qaeda. Mereka melindungi identitas mereka saat mereka harus bergerak.

Pewawancara: Jadi ada juga orang-orang Iraq…

Jawhar: Ada banyak yang tidak dikenali sebagai anggota Al-Qaeda. Mereka semua menggunakan topeng ski.

Pewawancara: Kapankah mereka melaksanakan operasi-operasinya?

Jawhar: Ya. Kami memiliki bersama kami saudara-saudara dari Tunisia, dari Libya, Algeria (Al Jazair), Moroko… Sejujurnya, saya tidak pernah melihat seorang pun dari Mauritania di sana. Ada saudara-saudara dari Mesir, saudara-saudara dari Jazirah Arab… Saya berjumpa beberapa saudara dari Kuwait, seorang saudara dari Qatar… Ada juga saudara-saudara dari Palestina, Syria tentunya juga, dan saudara-saudara dari Jordania…

[…]

Pewawancara: Berapa banyak regu yang kamu training di Iraq?

Jawhar: Dengan izin Allah, banyak. Saya memimpin training sepanjang waktu selama saya berada di sana.

Pewawancara: Berapa banyak anggota yang dimiliki oleh tiap regu?

Jawhar: Ya tergantung lah -lima, enam, tujuh… Pada beberapa area, kami tidak bisa memiliki regu dalam jumlah besar. Hal itu tergantung pada areanya. Pada beberapa area, kami bisa mentraining tanpa ada masalah, dan pada area lain, trainingnya sedikit sulit.

Pewawancara: Kekuatan keamanan pasti mengajar-ngejar anda, tentu saja.

Jawhar: Kalau itu hanya kekuatan keamanan, mungkin tidak ada masalah. Masalahnya adalah kapal terbang di atas. Anda bahkan tidak akan tahu kapan sebuah pesawat sedang mengikutimu dari atas.

Pewawancara: Di mana Anda melaksanakan training?

Jawhar: Di hutan-hutan dan rimba-rimba… Satu-satunya yang kami khawatiri adalah [pesawat terbang] di atas. Kami tidak khawatir segala sesuatunya tetapi pesawat mata-mata. Hal yang mengkhawatirkan para pejuang Iraq adalah pesawat-pesawat ini, karena Amerika memiliki keunggulan di udara saja. Satu-satunya masalah di Iraq adalah angkatan udara.

Pewawancara: Di mana anda mengadakan training Anda? Bagaimana mungkin Anda bisa mntraining banyak orang, tanpa seorang pun mendengar suara tembakan apa pun, dan tanpa membangun kecurigaan seorang pun dari wilayah tersebut?

Jawhar: Area ini pada dasarnya berada di bawah kekuasaan kami. Itu sangatlah mustahil bagi saya untuk masuk ke dalam rumah, mengetahui bahwa seseorang bisa saja keluar dan memasukkan aku ke dalam. Area ini sepenuhnya aman.

Pewawancara: Jadi, area itu ‘milik’ mu-Al Qaedah atau para pendukungnya?

Jawhar: Jika itu tidak merupakan milik kami, setidaknya itu merupakan area yang di luar pengawasan. Seluruh area ini berada dalam kekuasaan organisasi Al-Qaeda.

Pewawancara: Siapakah “Ansar Al-Sunna”?

Jawhar: Mula-mula, mereka adalah orang Kurdis. Mereka dekat dengan perbatasan Jordania-Iraq, dan selanjutnya, mereka menyebar sepanjang Iraq. Awalnya, mereka dipanggil “Ansar Al-Islam,” dan kemudian mereka menjadi “Ansar Al-Sunna.”

[…]

Pewawancara: Apakah Ansar Al-Sunna memiliki perjanjian dengan Al-Qaeda? Apakah mereka berpartisipasi dalam operasi-operasi mereka, dan bersama-sama memiliki ideologi yang sama, dalam teori dan dalam penerapannya?

Jawhar: Tentu saja, sepenuhnya. Memang ada persekutuan, dan mereka memiliki ideologi yang sama. Amir mereka dipanggil sebagai Abu Hassan Al-Syafi’i.

Pewawancara: Apakah anda pernah berjumpa dengan Abu Mus’ab Al-Zarqawi?

Jawhar: Sheikh Abu Mus’ab tidak muncul terlalu sering. Tidak semua ikhwan berjumpa dengannya. Tetapi terkadang, Sheikh Abu Mus’ab mengadakan kunjungan ke base kami, dan beliau akan datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kami akan duduk mengelilingi beliau, dan pemuda-pemuda akan berjalan mengitari Sheikh. Mereka bisa jadi duduk bersama kami untuk 15 menit, setengah jam atau satu jam, dan kemudian mereka akan berkata selamat tinggal dan bergerak cepat.

Pewawancara: Apa sebenarnya yang dia minta kepada anda untuk dilakukan?

Jawhar: Sekali beliau mengirim seorang ikhwan sebagai wakilnya, dan meminta saya untuk melaksanakan operasi-operasi di area Baghdad.

Pewawancara: Apakah kamu melaksanakannya?

Jawhar: Ya, Segala Puji bagi Allah.

Pewawancara: Operasi-operasi seperti apa?

Jawhar: Pengeboman dan pembunuhan-pembunuhan. Hal-hal umum. Apalagi yang bisa beliau minta dari kami?

Pewawancara: Melawan orang-orang Iraq, atau…

Jawhar: Tidak, melawan orang-orang Amerika.

[…]

Jawhar: Saya punya kemampuan untuk membuat [bahan peledak] dari bahan-bahan kimia, dan saya juga bisa menggunakan [peledak yang telah siap diledakkan].

Pewawancara: Dan bahan-bahan ini bisa didapatkan?

Jawhar: Ya, bahan-bahan ini disediakan di pasar-pasar. Saya tidak bisa mengungkapkan secara persisnya bagaimana saya membuatnya, karena besok mungkin seseorang akan mulai menjualnya di pasar.

Pewawancara: Dari mana anda memperoleh mobil-mobil itu?

Jawhar: Beberapa mobil yang kami kendarai milik ikhwan-ikhwan, dan yang lainnya merupakan barang rampasan yang diambil dari orang-orang Amerika atau Iraq. Jadi kami menggunakan mobil-mobil ini.

Pewawancara: Dari mana anda memperoleh uang? Dari mana asal dana Al-Qaeda di Iraq?

Jawhar: Kami biasanya memperoleh bantuan dari luar negeri dan kami biasanya memperoleh harta rampasan. Bila kami mengambil 200-300 mobil sebagai harta rampasan -apakah anda mengharapkan kami akan mengendarai mereka semua? Jadi kami menjualnya ke Kurdis, dan inilah cara kami mendapatkan uang.

Pewawancara: Apakah Anda utamanya menjual mobil-mobil tadi pada Kurdis?

Jawhar: Ya, bahkan Kurdis membeli mobil-mobil polisi. Jika kami memperoleh mobil polisi sebagai barang rampasan, mereka akan membelinya tanpa mempermasalahkannya. Dan Kurdis memiliki banyak uang sekarang. Orang terkaya di Iraq adalah orang Kurdis, kemudian datanglah kaum Syiah, dan kaum Sunni yang merupakan orang-orang termiskin dari semuanya.

[…]

Pewawancara: Dapatkah anda uraikan struktur organisasi tersebut, mulai dari atas piramid hingga divisi yang lebih rendah?

Jawhar: Saudara Abu Mus’ab, semoga pertolongan Allah atasnya, berada pada puncak piramid. Kemudian datanglah saudara-saudara yang bertanggung jawab atas wilayah-wilayah lainnya, seperti Amir di lajur Baghdad, Amir Al Anbar, Amir Mosul. Kemudian Amir administratif. Kemudian Amir yang berwenang pada masalah keagamaan, dan kemudian Amir Militer. Amir militer memegang komando terhadap Amir alat peledak, Amir granat, amir penyerbuan, yakni yang bertanggung jawab atas penyerbuan, dan Amir yang bertanggung jawab pada hal rampasan perang. Ada juga Amir administratif, dan ada pula Amir Militer. Di bawah Amir militer, ada Amir yang lain yaitu Amir yang berwenang terhadap aktivitas militer.

Pewawancara: Apakah anda adalah Amir di sana?

Jawhar: Saya dulu adalah Amir training. Saya adalah Amir yang mentraining ikhwan-ikhwan, dan saya memiliki kamp training.

Pewawancara: Di mana?

Jawhar: Di Haditha.

[…]

Jawhar: Orang-orang dari intelijen Syria datang, dan meminta untuk bertemu dengan sheikh Abu Mus’ab. Mereka berkata kepada beliau: “Saudaraku, senjata-senjata apa sajakah yang engkau butuhkan?” Mereka ingin membantu, tetapi [Al-Zarqawi] berkata : “Tidak, kami telah memiliki semua yang kami butuhkan.” Beliau tidak akan mengambil apapun dari mereka, walaupun kami dalam keadaan sangat-sangat butuh bantuan akan senjata-senjata. Kami tidak ingin mengambil apapun dari orang-orang Syria, sehingga di kemudian hari kelak kami tidak dikatakan bekerja sama dengan mereka. Inilah posisi Sheikh Abu Mus’ab. Beliau dalam keadaan membutuhkan tiap satu peluru, dan itu ditawarkan kepada beliau apapun yang beliau inginkan. Beliau berkata : “Saya memerangi orang-orang Amerika, dengan atau tanpa Anda. Mengapa saya harus memerangi orang-orang Amerika untuk kepentingan Anda?”

Pewawancara: Bagaimana mungkin intelijen Syria dapat mencapai Abu Mus’ab Al-Zarqawi? Apa tujuan mereka? Apa yang mereka inginkan?

Jawhar: Orang-orang Syria tidak tertarik sama sekali bila orang-orang Iraq tetap tenang untuk sesaat. Mereka mengambil keuntungan dari hal ini. Semakin banyak Iraq dihancurkan, mereka semakin senang, karena bila Amerika merasa nyaman di Iraq, mereka (Amerika) akan bisa bergerak ke banyak tempat-tempat lainnya. Untuk alasan yang sama, hal ini bukanlah ketertarikan bagi orang-orang Iran… Saya tidak tahu apakah anda menyadarinya, tetapi orang-orang Syiah mulai memerangi orang-orang Amerika sejak 2 tahun lalu. Hal ini bukanlah karena orang-orang Syiah-orang-orang Iran meminta mereka untuk berperang, dan mengirim senjata-senjata mereka, alat-alat peledak, dan sebagainya, tetapi karena.. bila orang-orang Amerika merasa nyaman berada di Iraq, mereka (Amerika) akan bergerak ke area lainnya. Apakah anda lupa dengan Timur Tengah Baru?  

[…]

Jawhar: Kami memiliki bersama kami seorang ikhwan dari Tunisia, semoga Allah menerima beliau [sebagai shuhada], yang mengatur penangkapan sinyal dari pesawat mata-mata, dan dia bisa melihat apapun yang sedang dilihat oleh orang-orang Amerika.

Pewawancara: Jadi ada orang-orang yang memiliki kekhususan dalam bidang teknologi?

Jawhar: Kami memiliki seorang ikhwan dari Amerika bersama kami, kami memiliki ikhwan dari Belgia dan Perancis. Mereka semua berpendidikan dan intelek. Bersama saya, seorang saudara dengan gelar M.A di bidang ekonomi. Dia pernah sekali mengadakan pelajaran tentang kerugian yang terjadi terkait kejadian 9/11. Dia menghitung kerugian ekonomi Amerika hingga sen terakhir.

Pewawancara: Dari mana dia berasal?

Jawhar: Dia adalah seorang Palestina dari Jordan. Dia juga memiliki kewarganegaraan Inggris.

Pewawancara: Apakah dulu ada kontak antara organisasi utama Al-Qaeda dan Al-Qaeda di Iraq dan cabang-cabang lainnya?

Jawhar: Ketika Sheikh Abu Mus’ab, Allah memberikan pertolongan atasnya, mengikrarkan kesetiaan kepada Sheikh Osama, dengan cara yang natural, hubungan itu terbentuk.

Pewawancara: Bagaimana kontak ini dilakukan? Melalui internet?

Jawhar: Hal ini yang saya tidak tahu.

Pewawancara: Melalui perantara?

Jawhar: Saya tidak tahu.

[…]

Pewawancara: Kapankah anda bergabung ‘Usbat Al-Ansar?

Jawhar: Pada 1991.

Pewawancara: Mengapa anda bergabung dengan mereka?

Jawhar: Karena ideologi mereka. Mereka memanggil untuk jihad, kebangkitan kekhilafahan Islam, dan kebebasan Palestina, dan pikiran inilah yang memberi daya tarik tersendiri bagiku. Lagipula, saya seorang muslim, jadi saya bergabung dengan ‘Usbat Al-Ansar.

Pewawancara: Anda melatih orang sekarang. Siapa yang melatihmu?

Jawhar: Saya menerima training saat saya berada di ‘Usbat Al-Ansar, dan sebelum itu, Saya adalah anggota pemuda Fatah. Pada umumnya, kebanyakan orang-orang Palestina tau bagaimana cara menggunakan senjata.

Pewawancara: Apakah kamu pergi ke Afghanistan atau Pakistan?

Jawhar: Saya berharap demikian, tetapi itu tidak terjadi. Saya tidak memiliki kehormatan untuk berangkat ke sana.

Pewawancara: Apakah anda berharap untuk kembali ke Iraq?

Jawhar: Enggaklah, untuk apa? Palestine lebih dekat.

[…]

Jawhar: Kami mengalami perselisihan dengan PLO. Tidak ada suatu pun yang perlu membuat kita malu. Apa, mereka boleh membunuh kami, tetapi kami tidak boleh membunuh mereka? Ini adalah suatu hal yang wajar. Mereka seharusnya membuktikan apa pun yang mereka tuduhkan kepada kami. Apakah mereka memiliki bukti? Mereka tidak memiliki bukti apa pun, tetapi mereka mengisukan keputusannya.

Pewawancara: Apakah kamu dijatuhi hukuman mati?

Jawhar: Aku memperoleh beberapa vonis mati dan juga dakwa’an hukuman seumur hidup. Tidak ada apa-apa dengan hal itu. Apa ada masalah? Mereka dapat membuat sebanyak mungkin dakwaan berlapis sesuka mereka. Hal ini bagi saya merupakan suatu kehormatan.

Pewawancara: Apakah anda menyebut diri anda sendiri sebagai teroris?

Jawhar: Ya, saya seorang teroris. Apa ada masalah dengan hal itu? Kalau saya ingin meneror musuh Allah, apa ada masalah dengannya?

[…]

Pewawancara: Abu Omar, apakah di Lebanon ada Al-Qaeda?

Jawhar: Tidak sejauh yang aku tahu, karena Sheikh Osama tidak tertarik pada Lebanon atau bahkan Syria.

[…]

Jawhar: Dengan mempertimbangkan operasi-operasi, saya tidak harus pergi kepada Amir urusan agama (syariah), tetapi bila kami ditangkap, katakanlah, seorang Iraq… Pada sebagian besar kasus, anda membutuhkan peraturan agama selama interogasi. Tetapi bila kita pergi kepada Amir dan bertanya pada beliau apakah saya diizinkan untuk memerangi Amerika, saya bisa dianggap idiot. Tetapi dengan mempertimbangkan orang-orang Iraq dan persoalan-persoalan lainnya, Anda perlu berkonsultasi pada Amir urusan agama.

Pewawancara: Apakah anda pernah berpartisipasi pada suatu operasi penculikan?

Jawhar: Ya, sekali saya pernah menculik seseorang di kota sasaran. Apa ada masalah? Saya membawa dia dan meninggalkan di market. Patroli Amerika saat itu melewati kami, tapi apa ada masalah?

Pewawancara: Mengapa kamu menculiknya?

Jawhar: Karena dia bekerja sama dengan orang Amerika.

Pewawancara: Apakah dia orang Iraq?

Jawhar: Ya.

Pewawancara: Apa yang anda lakukan dengannya?

Jawhar: Kami membawanya untuk “jalan-jalan.”

Pewawancara: Jalan-jalan yang seperti apa?

Jawhar: Kami menyerahkan dia kepada ikhwan yang memimpin interogasi. Tugasku hanyalah menculik dia. Ikhwan-ikhwan yang memimpin interogasi mengadakan kesepakatan dengannya.

Pewawancara: Siapa yang memutuskan apa yang harus diperbuat terhadapnya?

Jawhar: Amir yang berkaitan dengan penetapan agama membuat keputusan apakah ia harus dibunuh, dicambuk, dicerca, dilepaskan, atau dijebloskan ke dalam penjara. Amir yang mengurus pengaturan keagamaanlah yang memutuskan.

Pewawancara: Apakah Anda menculik orang untuk uang tebusan?

Jawhar: Hukum Islam melarang hal ini, kecuali bila mereka orang kafir. Saya diizinkan menculik orang kafir untuk uang tebusan, tetapi tidak untuk Muslim atau Muslim yang menyimpang.

[…]

Jawhar: Sheikh Abu Mus’ab saat itu ditawari berjuta dollar saat menculik duta besar Mesir, tetapi beliau menolak, karena hukum Islam mewajibkan membunuh duta besar ini.

Pewawancara: Apakah anda berada di sana?

Jawhar: Tidak, saat itu saya di sini.

Pewawancara: Apakah anda tahu apa yang terjadi padanya?

Jawhar: Mereka menjagalnya.

[…]

Pewawancara: Bagaimana bisa Al-Qaeda memiliki hak untuk mengeksekusi orang?

Jawhar: Tentu saja mereka memiliki hak. Apa masalahnya? Bagaimana bisa idiot-idiot itu ada di Lebanon sini, di Jordan, atau di tempat lain, apakah mereka punya hak untuk menjatuhkan hukuman atau menjebloskan ke dalam penjara? apakah, mereka lebih baik dari saya?

24 Desember  2007

Weekly Interview

Ar Rahmah Media Network

http://www.arrahmah.com

The State of Islamic Media