BAGHDAD (Arrahmah.com) – Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak pada Senin (22/7/2013) pagi menyatakan serangan terhadap penjara dan pelarian para tahanan adalah perkara yang tidak bisa didiamkan, Almada Press melaporkan.

Komisi membenarkan beredarnya berita-berita yang menyebutkan sekitar 500 sampai 1000 tahanan berhasil melarikan diri dari penjara Abu Ghuraib dan penjara Taji di ibukota Baghdad. Komisi menegaskan kaburnya tahanan dalam jumlah sebanyak itu, jika berita-berita itu benar, adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan di Somalia sekalipun.

Dalam jumpa pers yang digelar pada gedung Parlemen Irak, anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak Hakim az-Zamili mengatakan, “Peristiwa yang terjadi kemarin malam, berupa serangan terhadap penjara, pelarian dan kaburnya para tahanan dari penjara Abu Ghuraib dan penjara Taji adalah perkara yang tidak bisa didiamkan. Itu perkara yang belum pernah terjadi di negara manapun di dunia, bahkan tidak juga di Somalia.”

“Serangan terhadap aparat keamanan di distrik Abu Ghuraib, distrik Taji dan distrik-distrik lainnya dalam satu waktu dan secara serentak merupakan persoalan yang sangat serius,” kata az-Zamili.

Az-Zamili menyatakan pemerintah menutup-nutupi jumlah tahanan yang kabur dari kedua penjara itu.

“Informasi-informasi yang sampai kepada kami menyatakan sekitar 500 tahanan telah melarikan diri. Bahkan beberapa berita menyebutkan jumlah yang kabur mencapai 1000 tahanan,” kata az-Zamili.

Az-Zamili menyatakan keheranannya tentang “kevakuman” komando intelijen dan kinerja intelijen sehingga terjadi beberapa serangan bom mobil dan bom rompi, ditambah tembakan sejumlah mortar dan senapan beragam jenis dalam satu waktu secara serentak. Az-Zamili mengisyaratkan sejumlah besar “komandan Al-Qaeda” kabur dari kedua penjara di Baghdad tersebut.

“Ada ketelodoran dari Direktorat Penjara dan orang-orang yang teledor itu harus diajukan ke pengadilan untuk diperiksa.”

Az-Zamili menambahkan, “Al-Qaeda selalu melakukan serangan seperti ini pada pertengahan bulan Ramadhan, namun tindakan antisipasi (aparat keamanan Irak) tidak sesuai taraf yang diharapkan.”

Dalam pernyataan resminya Departemen Hukum Irak pada Senin (22/7/2013) pagi menyebutkan serangan “teroris Al-Qaeda” terhadap penjara Abu Ghuraib dan penjara Taji pada Ahad malam mengakibatkan 68 korban tewas dan cedera di pihak aparat keamanan Irak. Serangan itu melibatkan 9 pelaku serangan berani mati, 3 bom mobil dan sekitar 100 tembakan mortar. Departemen Hukum Irak telah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki operasi serangan dan berita kaburnya ratusan tahanan.

Sedikit berbeda dengan pernyataan resmi Departemen Hukum Irak, sumber pada Departemen Dalam Negeri Irak menyebutkan serangan terhadap penjara Hut, distrik Taji, Baghdad Utara dilakukan dengan empat buah bom mobil, tiga orang penyerang berani mati dan tembakan mortar. Sementara serangan terhadap penjara Abu Ghuraib, Baghdad Barat, pada waktu yang bersamaan, terjadi dengan dua bom mobil dan tembakan beberapa mortar.

Menurut sumber itu helikopter-helikopter militer terbang di atas penjara Abu Ghuraib dan penjara Taji untuk mengamankan lokasi sekitar kedua penjara di ibukota Baghdad tersebut. Sementara itu tentara dan polisi Irak dikerahkan untuk memblokade jalan-jalan menuju kedua penjara.

Mujahidin Daulah Islam Irak dan Jama’ah Ansharul Islam melakukan serangan skala besar dan sangat berani di jantung ibukota rezim Syiah Irak pada Ahad (21/7/2013). Serangan itu merupakan salah satu serangan terbesar mujahidin Irak selama beberapa tahun terakhir, laporan kantor berita Nora News. (muhibalmajdi/arrahmah.com)