JAKARTA (Arrahmah.com) – Fenomena tokoh-tokoh Syi’ah masuk partai politik bukan hanya sekarang , dari dulu juga sudah ada. Dahulu ada Zulfan Lindan di PDIP, Abdillah Toha di PAN dan lain-lain. Hanya sekarang mereka lebih memperbayak dan besar-besaran masuk menjadi caleg. Hal ini untuk menguatkan suara mereka dalam hal membela hak-hak mereka dan lebih banyak lagi memperjuangkan hak-hak politik mereka di parlemen dan pemerintahan.

Kepada arrahmah.com, Ahad (19/52013) Ustadz Farid Achmad Okbah MA, Direktur Pesantren Al-Islam Bekasi, mengatakan: “Mengkhawatirkan sekali kondisi perkembangan Syi’ah di Indonesia.” Beliau juga mengutarkan Syi’ah di Indonesia bergerak di semua lini, “Mereka bergerak di politik, ya itulah masuk partai. Mereka bergerak di masyarakat masuk lewat pengajian di kampung-kampung, di majelis ta’lim, di kantor-kantor.” Urainya pagi tadi.

Penduduk muslim Indonesia yang mayoritas sunni (orang Ahlussunnah) telah dirusak oleh pemahaman syi’i (orang Syi’ah). Syi’i melancarkan propagandanya kepada sunni bukan kepada orang-orang non muslim. Jadi yang banyak menjadi korban atas hal ini adalah sunni. “Korban-korban Syi’ah mayoritas orang Ahlusunnah. Relitas sekarang ini mayoritas pengikut Syi’ah adalah dari kalangan Ahlusunnah. Jadi mereka mensyi’ahkan orang-orang Ahlusunnah.” Begitu ustadz Farid memberi catatan.

Di satu sisi umat Islam yang sunni ini juga kurang memahami ajaran Islam yang sesungguhnya, “Karena kosong, karena ga ngerti karena polos”, demikian ujarnya. kaum Muslimin terbelakang dalam pemahaman terhadap aqidah Islam yang shahîhah (benar) yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah.

Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu sangat jauh dari manhaj Salafush Shâlih. Mereka hanya sekedar mengenal nama yang agung ini, namun dari sisi pemahaman pengamalan dan dakwah jauh sekali dari pemahaman dan praktek Salaful Ummah (generasi terbaik umat Islam). Memang ada sebagian kaum Muslimin yang menyeru kepada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi menurut pemahaman masing-masing tanpa ada satu metode yang akan mengarahkan dan membawa mereka kepada pemahaman yang shahîh (benar).

Pengajian Syi’ah di tingkat bawah , di kampung-kampung mengajak ibu-ibu untuk mencintai ahlul bait Nabi. Sebuah ajakan yang awalnya baik dan sesuai sunnah tapi kesananya menipu dan menyessatkan karena dibawa pada pemahaman Syi’ah Rafidhah. Dimulai dari pendekatan dengan mengatasnamakan ahlul bait kemudian berlanjut dengan pemujaan terhadap manusia, yaitu dengan membangun kubur-kubur dan meminta kepada penghuni kubur serta penyebaran berbagai macam bid’ah lainnya.Mengapa ibu-ibu? Karena peran perempuan sangat penting dan besar sekali. Oleh karena itu mereka membutuhkan ibu-ibu untuk mendukung ajaran mereka.

Adapun pengajian di kantor-kantor terus berjalan dengan memberikan pengajaran tafsir Al-Qur’an tidak melalui hadist atau sunah. Karena mereka jauh sekali dari sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bahkan mereka menolak hadits. Bagaimana mungkin mereka bisa menerima hadits Bukhâri, Muslim dan lain-lain sementara para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits ini dianggap kafir ?! Mereka juga menvonis kufur kepada ahlus sunnah termasuk Bukhâri, Muslim dan ulama ahli hadits lainnya. Oleh karena itu, mereka selalu memulainya dengan tafsir dengan meruju’ ke kitab-kitab tafsir Syi’ah.

Di tingkat pelajar dan mahasiswa, mendakwahi para pelajar khususnya mahasiswa. Untuk lapisan ini, mereka masuk lewat penyebaran nikah mut’ah karena para pemuda ini memang sangat aktif mencari hal-hal baru untuk kemudian dicoba. Setelah memberikan kenikmatan syaithaniyah, mereka mulai mendekati para pemuda ini dengan memberikan citra, bahwa ajaran Syi’ah itu benar dan lain sebagainya

Media mereka juga terus bekerja, cetak, maupun elektronik; televisi,radio, dan media online. Syiah memanfaatkan media cetak untuk menyebarkan pahamnya. Untuk itu mereka membuat selebaran, majalah dan membangun puluhan penerbit dan percetakan seperti Mizan, Pelita Bandung, Hidayah, as-Sajjad, Abu Dzar Jakarta, Yapi Lampung, Lentera dan sebagainya.

Secara umum buku yang diterbitkan adalah buku terjemahkan dari buku-buku karya ulama Syi’ah seperti Khomaini, Muthahhari, Ali Syariati, Muhammad at-Tijani at-Tunisi dan lain-lain. Ada pula buku-buku yang merupakan hasil karya putra-putri Syi’ah Indonesia.

Adapun majalah dan selebaran yang mereka terbitkan antara lain:

1. Majalah al-Quds diterbitkan oleh kedutaan Iran di Jakarta dengan bahasa Indonesa.
2. Majalah al-Mawaddah diterbitkan oleh IJABI cabang Bandung, Jabar.
3. Majalah al-Huda diterbitkan oleh Syi’ah di Jakarta.
4. Majalah al-Hikmah diterbitkan oleh yayasan al-Muthahari Bandung.
5. Majalah al-Musthafa diterbitkan oleh Syi’ah di Jakarta.
6. Buletin al-Jawad dan al-Ghadir diterbitkan oleh yayasan al-Jawad Jakarta.
7. Buletin at-Tanwir diterbitkan oleh yayasan al-Muthahari.
8. Buletin Ibnus Sabil diterbitkan oleh Syi’ah di Pekalongan, dll.

Lembaga-lembaga pendidikan Syi’ah adalah:

1. SMA Plus Muthahhari Bandung dan Jakarta
2. Pendidikan Islam Al-Jawad
3. Islamic College for Advanced Studies
4. Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai SMP Jakarta
5. Sekolah Tinggi Madinatul Ilmu Depok Jawa Barat
6. Madrasah Nurul Iman Sorong Irian
7. Pesantren Al-Hadi Pekalongan
8. Pesantren YAPI Bangil Jawa Timur

(azmuttaqin/arrahmah.com)