Tokoh Liberal Tuduh MUI Mendorong Kekerasan
Oleh Althaf pada Jum'at 01 Januari 2010, 06:49 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Tantangan demokrasi juga datang dari kelompok-kelompok keagamaan yang kurang toleran terhadap keragaman. Sikap-sikap antagonis yang diperlihatkan lembaga Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap kelompok-kelompok minoritas, seperti Ahmadiyah, mendorong aksi-aksi kekerasan di tengah masyarakat. Seperti dilaporkan Komnas HAM, fatwa-fatwa intoleran yang dikeluarkan MUI telah mendorong terjadinya kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas keagamaan, khususnya Ahmadiyah.
Begitu juga, kelompok-kelompok radikal seperti Front Pembela Islam (FPI), merupakan ancaman bagi kebebasan di tengah masyarakat. Tindakan-tindakan FPI yang mengancam kelompok atau orang yang mereka anggap berseberangan, telah membuat keresahan.
Penyerangan yang mereka lakukan terhadap anggota aliansi umat beragama (AKKBB) di Monas beberapa bulan lalu, merupakan ancaman besar yang datang dari sesama masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan tokoh liberal yang juga Deputi Direktur Freedom Institute, Luthfi Assyaukanie, dalam konferensi tentang demokrasi di Asia, Council of Asian Liberals and Democrats (CALD).
Acara yang berlangsung selama dua hari (28-29 November), diselenggarakan di Manila, Filipina. Konferensi mengambil tema “Democracy’s Continuing Struggles in Asia: Countervailing Repression, Intolerance and Opportunism”, menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, think tanks, dan politisi dari beberapa negara di Asia.
Pria yang pernah mendapat undangan ke Israel ini menjadi pembicara untuk mengulas tentang perkembangan demokrasi di Indonesia. Hadir dalam konferensi itu, antara lain Emil Kirjas (Sekjen Liberal International), Neric Acosta (Sekjen Council of Asian Liberals and Democrats), Chia Kwang Chye (Wakil Presiden Parti Gerakan Rakyat Malaysia), dan Rainer Adam (Direktur Regional FNS). Berbicara pada sesi pertama, Luthfi, menyampaikan kertas kerjanya berjudul “Promoting Tolerance to Counter Dogmatism: Indonesia’s Democratic Gains.”
Selain menuduh MUI dan FPI, dalam presentasinya Luthfi menjelaskan tantangan-tantangan demokrasi yang dihadapi Indonesia.
Ia menyebut, tantangan demokrasi yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya datang dari negara, tapi juga dari masyarakat.
Ada dua tantangan besar yang datang dari negara saat ini yang bisa menghalangi proses demokratisasi di Indonesia. Pertama, praktik-praktik korupsi yang dilakukan lembaga-lembaga negara. Kedua, ancaman terhadap kebebasan pers dengan semakin banyaknya kasus kekerasan terhadap pekerja media.
Lembaga kepolisian merupakan lembaga publik yang paling rentan terhadap korupsi. Konflik antara kepolisian dan KPK yang tengah berlangsung merupakan kulminasi dari problem korupsi yang kompleks dalam lembaga ini.
Menurut Transparansi Internasional Indonesia (TII), selama 2008 kepolisian menempati ranking tertinggi sebagai lembaga terkorup di Indonesia, diikuti bea cukai dan kantor imigrasi. Praktik-praktik korupsi ini semakin menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara. Lemahnya penegakan hukum (rule of law) menjadi sebab utama terus bertahannya praktik-praktik korupsi di negeri ini.
Begitu juga, kasus-kasus kekerasan yang menimpa wartawan, membuat indeks kebebasan pers di Indonesia mengalami penurunan tajam. Pada masa-masa awal Reformasi, menurut Reporters Sans Frontiers, posisi Indonesia cukup baik, yakni menempati ranking ke-57 dari seluruh negara di dunia. Tapi, setelah 10 tahun Reformasi, posisi Indonesia selalu di atas angka 100. Ini berlaku sejak 2004, ketika Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden. Ketidakjelasan sanksi hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap pekerja media dianggap sebagai salah satu sebab mundurnya kebebasan pers di negeri ini.
Di tengah dua ancaman itu, Luthfi menegaskan pentingnya memperkuat peran masyarakat dan organisasi-organisasi sipil, baik dalam melakukan pemantauan kepada lembaga-lembaga pemerintah maupun memberikan advokasi kepada masyarakat. Lembaga-lembaga pemantauan seperti Indonesian Corruption Watch (ICW) memainkan peran yang besar dalam mengawasi kinerja pemerintah.
Selain menuduh ormas Islam, Lutfi juga sempat mempromosikan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang disebutnya berperan dalam melakukan advokasi kepada masyarakat untuk bersikap toleran dan menghargai satu sama lain. (hdytlh/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
...kecuali kepada mereka yang belum mendengar perkataan Allah maka kita wajib dakwah atau mereka yang taubat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka boleh bergerak kemana saja di bumi Allah.
Kami menilai kalian Kafir karena kalian telah berkata bahwa selain Islam ada din yang sama benarnya dengan Islam dan kalian wala kepada Kafirin dan bara’ kepada Muslimin. Adapun urusan hati itu urusan Allah bukan kami.
mrk sdh lama wajib diperangi; dg propaganda mrk thd masyarakat indonesia, jk masyarakat dukung dan terima propaganda mrk, jadikan masyarakat indonesia scr umum msk kdlm gol yg diperangi, baik yang ngaku muslim atau kafir
negri dan bangsa ini tdk sadar, kelihatan seolah “maju” dg liberalisme & demokrasi, tp hakikatnya sdg tuju kehancuran krn Allaah, wallaahua’lam, arahkan dan giring mrk ke zona perang, diperangi para muwahhid yg tdk punya jalan lain
hi negri kufur, Rasul SAW sabda, kami tdk iman sblm kami lbh cintai Allaah & Rasul dr semua manusia dijagat, apatah lg kalian; mk, jk kalian sdh mufakat atas kemurtadan, perangi kalian demi Allaah, RasulNya, izharnya dien adlh satu2nya jalan
Mereka itulah yang menjelek-jelekkan negeri Indonesia di mata dunia Internasional. Lihat saja, siapa yang mendukung disintegrasi?.
Dasar hamba2 Thoghut…mampus lu ke neraka dg kebebasanmu.
Mari kita melihat diri kita semua, seberapa banyak yang telah kita persembahkan untuk agama dan ummat ini????
@ eyangdur: Yang pasti kami tidak menghina, mengolok-olok, dan mencela agama Islam yang mulia ini….!!!
CONFIRM. @LV & @Q929
Smoga Allaah menetapkan hidayah Pada kita, Amiin. Allaahu Akbar!!!
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Kedubes AS Peringatkan Teror di Bali??
- Menkeu: 2009 Bukan Tahun Mudah Bagi Perekonomian
- 2010, Adobe Jadi Sasaran Utama Hacker
- Klarifikasi TTP Tepis Keterlibatannya Dalam Serangan Karachi
- "Saya Masih Hidup," Kata Syaikh Anwar Awlaki, Meskipun Ada Serangan AS
- Misil AS Hilangkan Nyawa Tiga Sipil Pakistan
- Panetta: 7 Staf CIA Tewas di Forward Operating Base Chapman Afghanistan
- Tokoh Hindu: Kita Kehilangan Guru Pluralisme (??)
- Mbah Idris: Gus Dur Sosok Liberal
- Hacker Jerman Jebol Kode untuk Sadap GSM
Berita Terbaru
- Israel Berencana Memperluas Pencaplokan Wilayah
- Grup ‘Teroris’ Tumbuh 20% di Jejaring Sosial?
- Ketegangan Terus Memuncak Di Tepi Barat
- McChrystal Tetap Berhasrat Untuk Menangkap Bin Ladin Hidup-Hidup
- AS Sediakan Suku Cadang Helikopter Bagi Pakistan
- Perusahaan Australia Siap Investasi Rp 9 Triliun
- F-16 Disiagakan Selama Kunjungan Obama
- Pakistan Tetapkan Lima Mujahid Asal Amerika Dengan Tuduhan Terorisme
- Bom Tepi Jalan Tewaskan Dua Tentara Kafir Inggris di Afghanistan
- Lagi, Tujuh Tentara Rusia Tewas dan Terluka di Chechnya
Berita Terkait
- Sertifikasi Halal LPPOM-MUI Standar Internasional
- MU I: Pemindai Tubuh Terlalu ‘‘Telanjang” dan Melanggar HAM
- Program Sertifikasi Halal MUI Ditolak Beberapa Pengusaha
- Penyelenggara Perayaan Ikut Kena Getah Dosa Valentine’s Day
- MUI Bangka Haramkan “Valentine Day” bagi Muslim
- LPPOM MUI: Masih Sedikit RPH Bersertifikasi Halal
- MUI dan KPID Sumsel Menyoal “Take Him Out Indonesia”
- FPI Akan Demo Besar-Besaran, MUI Bukan Eksekutor Film Porno
- MUI Jatim Dukung Pengharaman Foto Pranikah
- Sebut Gus Dur ‘Bapak Pluralisme’, SBY Lecehkan Gus Dur?
. on 01/01/10 10:25 AM said:
Wajar saja ada kekerasan kepada kalian wahai Murtadin. Selama kalian menolak untuk taubat maka kami semampu kami akan terus menimpakan kekerasan kepada kalian…