PB Pemuda Al-Irsyad Tolak Pengapusan UU Anti Penodaan Agama
Oleh Althaf pada Senin 23 November 2009, 07:13 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Setelah PBNU menyatakan penolakan, kini, Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad meminta Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan penodaan Agama.
Menurut PB Al-Irsyad, permintaan uji materi yang dilakukan sejumlah aktivis liberal dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) itu akan merugikan dan menodai agama.
"UU ini tidak boleh dicabut. Kalau sampai dicabut, maka orang akan seenaknya menghujat dan menodai kesucian agama," kata ketua umum PB Pemuda Al-Irsyad, Geis Chalifah, di Jakarta, Jum'at (20/11).
Menurut Geis, kita tidak boleh menggunakan alasan demokrasi dan hak asasi manusia untuk mencabut UU tersebut, sebab masalah penodaan agama itu bukanlah masalah demokrasi atau HAM, tapi soal hak sebuah agama untuk mempertahankan diri dari tindak penistaan.
"Jadi, UU ini jangan sampai dihapus hanya dengan alasan demokratisasi. Itu salah besar," kata Geis.
Geis berpendapat, penghapusan UU itu justeru amat potensial merusak proses demokratisasi dan pelanggaran HAM yang jauh lebih besar. Orang akan mudah mengaku-aku sebagai nabi atau bahkan tuhan, yang bisa menimbulkan reaksi balik yang tidak terkendali dari masyarakat penganut agama yang merasa dinodai kehormatannya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Zeid Alhadadi, ketua departemen dakwah PB Pemuda Al-Irsyad. Menurut Zeid, setiap agama punya hak konstitusional di negara Republik Indonesia untuk mempertahankan eksistensi agamanya dalam konteks konstitusi negara bukan dalam konteks agama negara.
Zeid menengarai, gerakan yang berupaya menghapuskan UU tersebut lebih nampak sebagai upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan kembali paham atheisme yang sudah dilarang keras di negeri ini.
"Apalagi orang-orang itu selama ini memang dikenal sebagai penarik gerbong liberalisme dan sekulerisme," kata Zeid.
Dalam pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1965 itu dinyatakan, "Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan agama itu."
Sebagaimana diketahui, sebelumnya, sejumlah tokoh dan LSM melakukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi terhadap pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1965. Mereka antara lain, YLBHI, ELSAM, Imparsial, Desantara Foundation dan DEMOS serta tokoh-tokoh liberal seperti Abdurrahman Wahid, Siti Musdah Mulia dan Dawam Raharjo. (hdytlh/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
Iya al-Irsyad, kalau ada yang berkata itu maka dakwah dulu.
alah2… gerombolan binatang liberal ini suka main2 api yang tidak bisa dia padamkan natinya. kita tidak boleh kalah dng binatang tsb. kita harus membuat mereka sakit hati juga dng gerak kita!
halalkah darah mrk kaum jil?
Kalau komunisme adalah faham atheisme yang sumbernya dari Uni Soviet, sedang liberalisme adalah faham atheisme yang sumbernya dari negara Amerika Serikat dan Eropa. Namun yg terakhir ini lebih berbahaya krn didukung oleh dana yg besar.
Untuk melawannya tidak ada kata lain semua Ummat Islam harus bersatu padu dan kembali secara kafah pada Al-Quran dan Al-Hadits terutama dalam strategi menghadapi mereka, tidak ada tawar menawar, gunakan nilai2 keduanya.
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Kayani: 550 Tentara Pakistan Gugur Di Swat
- Urusan Hacker, Indonesia Juaranya
- Aljazair Bebaskan Dua Mantan Tahanan Guantanamo
- AS Kembangkan Milisi Anti-Taliban Di Afghanistan
- Video Wawancara Eksklusif dengan Pimpinan Mujahidin Taliban Pakistan Dirilis
- Miliband: NATO Keluar, Pemerintah Afghan Gagal
- Polisi Selidiki Penyebaran Dua Aliran Sesat
- Hacker Jebol Aktivasi Windows 7
- Menko Perekonomian: Jangan Halangi Modal Masuk
- Lagi, Muslimah Jerman Jadi Korban Rasisme
Berita Terbaru
- Serangan Mematikan Misil AS Kembali Memakan Korban Jiwa Dari Kalangan Sipil
- Mujahidin Afghan Akui Ledakkan Pangkalan NATO Di Khost
- Sertifikasi Halal LPPOM-MUI Standar Internasional
- Bali Sambut Obama, Jalan Berlubang Mendadak Ditambal
- Internet Heboh Bocoran Catatan Pejabat China
- Kunjungan Biden Tegaskan AS Tidak Bisa Berbuat Apa-Apa Terhadap Israel
- Tentara Kafir Rusia Tewas dan Terluka dalam Serangan di Chechnya
- Kakak Kandung Dulmatin Masih Ragukan Keterangan Polri
- Gates Tonton Pelatihan Militer Afghanistan
- 16 Pemuda Kashmir Tak Bersalah Ditangkap Polisi Musyrik India di Chennai
Berita Terkait
- ICMI Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan Islami
- Nasib UU No. 1/PNPS/1965 Akan “Digantung”
- Ansor Dukung Pengembangan Yogyakarta Sebagai Kota Toleransi
- Ratna Sarumpaet Roadshow Diskusi Nikah Sirri (??)
- April, Putusan Final Sidang UU Penodaan Agama
- MK Serius Kaji UU Penodaan Agama
- MUI Bangka Haramkan “Valentine Day” bagi Muslim
- Muzadi: Gus Dur Mampu Menjadikan Islam “Rahmatan lil Alamin”
- MK Janji Independen Soal Uji Materi UU Penodaan Agama
- Menag: Ada yang Menginginkan Kebebasan Agama Tanpa Batas
. on 23/11/09 07:37 AM said:
pb al irsyad, jgn tanggung, tolak semua hukum negara ini jk produk demokrasi (pemilu, dpr, mpr); jgn ingin tegakkan dien Islam dlm koridor hukum manusia, krn hukum Allaah itu tertinggi, bkn hukum manusia; Allaah Yg Tertinggi, bukan manusia!