Menko Perekonomian: Jangan Halangi Modal Masuk
Oleh Althaf pada Sabtu 21 November 2009, 08:29 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa meminta agar jangan ada upaya untuk menghalang-halangi aliran modal yang akan masuk ke Indonesia.
"Kalau ada modal yang masuk jangan dihalang-halangi," kata Hatta Rajasa di Kantor Menko Perekonomian Jalan Lapangan Banteng Jakara, Jumat (20/11).
Menurut dia, kondisi perekonomian nasional termasuk pasar modal saat ini cukup bagus dan harus dijaga supaya tidak ada gangguan.
"Pasar modal tambah bagus, perlu terus dijaga kredbilitasnya sehingga modal pun terus masuk baik nasional maupun asing," katanya.
Ia mengharapkan, aliran modal di pasar modal dapat segera turun ke sektor riil termasuk untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur.
"Kita harapkan modal yang masuk merupakan modal jangka panjang sehingga dapat mengalir ke sektor riil termasuk infrastruktur," katanya.
Mengenai adanya resiko atas dana asing yaitu merupakan hot money yang ditujukan hanya untuk spekulasi, Hatta mengatakan, pengelolaan oleh Bank Indonesia (BI) dan Depkeu hingga saat ini cukup prudent.
"Apa yang dimanage BI dan Depkeu cukup prudent sehingga tidak menimbulkan distorsi," katanya.
Menurut Hatta, perlunya dana asing masuk ke Indonesia juga berkaitan dengan kebutuhan investasi di Indonesia hingga mencapai Rp2.000 triliun.
Indonesia membutuh dana investasi hingga Rp2.000 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen dalam lima tahun ke depan guna mengatasi pengangguran dan memberantas kemiskinan.
Pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hanya mampu menyediakan sekitar 20 persen atau Rp 400 triliun, sementara sebagian besar lainnya yaitu 80 persen atau Rp1.600 triliun, dibutuhkan dana dari sektor usaha swasta dalam dan luar negeri, termasuk badan usaha milik negara.
Sebelumnya Ekonom Sustainable Development Indonesia (SDI) Drajad Hari Wibowo mengingatkan perlunya pengendalian masuknya "hot money" ke Indonesia. Pengendalian masuknya hot money itu merupakan beban yang harus dilaksanakan oleh otoritas moneter maupun fiskal.
Menurut Dradjad, otoritas moneter dan fiskal patut melakukan berbagai upaya, termasuk kemungkinan meniru kebijakan Pemerintah Brazil yang menaikkan tarif pajak saham dan obligasi untuk langkah pengendalian.
Seperti diketahui, Pemerintah Brazil menaikan pajak atas saham dan obligasi di negaranya sebasar 2 persen pada 19 Oktober 2009 lalu sebagai langkah antisipasi masuknya hot money atau dana spekulasi ke Brazil.
Sementara, Pemerintah Taiwan lebih tegas lagi dengan melarang masuknya investasi asing ke deposito.
"Semua langkah untuk mengendalikan hot money layak untuk dijajaki (oleh pemerintah dan Bank Indonesia)," kata Dradjad.
Menurut dia, pengendalian hot money penting dilakukan guna menghindari aksi spekuasi yang mengancam makro ekonomi nasional sehingga perlu pengaturan mulai dari perusahaan jasa pengelola pembiayaan (fund managers) sampai perpajakan. (antara/arrahmah.com)
Baca Juga
Berita Lainnya Tentang
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
iya gitu loh
Enggak ngerti maksudnya pak.. perasaan dari dulu begini begini saja. heran.. pada nggak malu ya..
hoi hatta, jgn hamburkan uang umat utk infrastruktur macam2, tp buatlah pertanian,peternakan sbg wasilah makan umat; pendidikan sbg wasilah hilangkan jahiliah,kbodohan,klemahan; senjata sbg wasilah lindungi dr musuh Allaah, musuh umat
2000trilyun dibelikan cendol aja pak, kan bs buat renang ramai2..
maataa..tikus2..mulai menghijau..
mulut..tikus2 mulai berliur..
preman2 berdasi siap beraksi..
preman2 berdasi mulai pasang strategi..
manakala 2000trilyun mulai terealisasi..
sungguh..penuh basa basi..
faktanya nasib rakyat kian ndak pasti..
hah banyak basa basi tak bguna, ngurusin duet mulu,
urus dulu pikiran luuuuuu,,,
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Hacker Jebol Aktivasi Windows 7
- Lagi, Muslimah Jerman Jadi Korban Rasisme
- Basis Militer AS Di Irak Dihujani Mortar
- CIA Pastikan Pakistan Memperbesar Keterlibatannya
- Disinyalir Bantu Mujahidin Somalia, Eritrea Kena Sanksi PBB
- Skeptisisme Pakistan Terhadap Strategi AS Di Afghanistan
- Lagi, Israel Serang Gaza, Tiga Cedera
- Jerman Pertimbangkan Jumlah Pasukannya Di Afghanistan Tahun Depan
- 74 Jemaah Haji Wafat di Tanah Suci
- Siap-Siap Kuras Uang, Pemerintah Usul 164 RUU Thaghut Pada Prolegnas 2010-2014
Berita Terbaru
- Tentara Kafir AS Tewas dalam Operasi di Irak
- Israel Berencana Memperluas Pencaplokan Wilayah
- Grup ‘Teroris’ Tumbuh 20% di Jejaring Sosial?
- Ketegangan Terus Memuncak Di Tepi Barat
- McChrystal Tetap Berhasrat Untuk Menangkap Bin Ladin Hidup-Hidup
- AS Sediakan Suku Cadang Helikopter Bagi Pakistan
- Perusahaan Australia Siap Investasi Rp 9 Triliun
- F-16 Disiagakan Selama Kunjungan Obama
- Pakistan Tetapkan Lima Mujahid Asal Amerika Dengan Tuduhan Terorisme
- Bom Tepi Jalan Tewaskan Dua Tentara Kafir Inggris di Afghanistan
Berita Terkait
- AS-India Akan Segera Resmikan Kerja Sama Perekonomian
- Menkeu: 2009 Bukan Tahun Mudah Bagi Perekonomian
- Faktor Ekonomi Paksa Rahmat Melompat
- Prof Meuleman: Barat Juga Melaksanakan Syariat Islam
- Australia Puji Daya Tahan RI Dalam Krisis (?)
- Geithner Akui Anggaran AS Defisit
- Kasus Eksploitasi Anak Marak di Solo
- Prabowo Akui Ekonomi Indonesia ‘Mbahnya’ Liberal
- Perang Gaza Mencengkram Ekonomi Israel
the_zulfahmi on 21/11/09 05:08 PM said:
oh inikah didikan amin rais? Ternyata kapitalis juga. Ya iya lah! Budaknya sby gt loh..