Kanada Bantu IAIN Rp 60 M untuk Kembangkan Kurikulum Berbasis HAM
Oleh Althaf pada Jum'at 20 November 2009, 07:16 AM
SURABAYA (Arrahmah.com) - Suatu "kehormatan" bagi IAIN Sunan Ampel, Selasa (17/11) lalu, di mana Duta Besar Kanada untuk Indonesia YM. Mackenzie Clugston mengunjungi Kampus dan bertemu langsung dengan Rektor, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. Kedatangan YM. Mackenzie Clugston, kali ini seiring dengan kunjungan kerjanya ke Jawa Timur.
Sebagaimana telah diberitakan di media ini sebelumnya, pemerintahan Kanada telah menandatangani akad kerjasama dengan UIN Makassar dan IAIN Sunan Ampel yang diperuntukan program berbasis HAM dan jender
Kerjasama ini sebenarnya sudah ditandatangani antara Duta Besar Kanada untuk Indonesia Mackenzie Closton dan Muhammad Maftuh Basyuni di Jakarta, saat masa bakti terakhir menjadi Menag tangal 16 Oktober 2009 lalu. Nota kesepahaman (MoU) senilai 13,5 juta dolar (Rp 122,7 miliar) untuk membangun dan mendukung kedua perguruan tinggi Islam tersebut.
MoU yang dimaksudkan untuk mendukung kepemimpinan Islam tersebut disebut Proyek Supporting Islamic Leadership in Indonesia (SILE) dan didanai Canadian International Development Agency dan akan difokuskan pada Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Alaudin di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur.
Program Supporting Islamic Leadership (SILe) yang didanai oleh Pemerintah Canada, akan memakan waktu selama 7 tahun.
"Dalam rangka peningkatan kualitas SDM, dosen-dosen IAIN berpeluang untuk mendapatkan pelatihan singkat ataupun beasiswa S2 dan S3 di Canada", jelas Rektor IAIN, Dr. H. Nur Syam.
Dalam pertemuan selama 1 jam itu, Rektor didampingi Ketua Team Implementasi SILe, Masdar Hilmy, Ph.D, Dubes Kanada mengaku, pihaknya akan mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan oleh IAIN Sunan Ampel, dalam kerangka peningkatan kualitas pembelajaran yang ada, baik fisik maupun non fisik.
"Program yang sama juga ditawarkan kepada UIN Makassar dengan dana hibah dari Canadian International Development Agency (CIDA) yang nilainya untuk masing-masing institut berkisar Rp 60 miliar lebih," tambah Nur Syam.
Bagi IAIN Surabaya, katanya, program itu merupakan kerja sama ketiga dengan Kanada setelah program studi "community development" dengan Mc Gill University, Montreal, Australia dan ICIHEP (Indonesian Canadian Islamic Higher Education Project).
"Kalau ICIHEP itu untuk IAIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Yogyakarta, dan UIN Jakarta, sedangkan SILe untuk IAIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Makassar," katanya.
Menurut dia, program SILe itu mencakup dua hal yakni pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan kajian kurikulum yang bermuara pada lima tema yakni demokratisasi, good governance, HAM, gender, dan "community development."
"Untuk pengembangan SDM itu bisa nondegree dan bisa juga degree. Untuk nondegree antara lain workshop, pelatihan, seminar, dan sejenisnya yang dilakukan di Kanada atau di Indonesia, sedangkan degree merupakan beasiswa untuk S2 dan S3 ke Kanada," katanya.
Kelak dengan program ini, menurut Nur Syam, para dosen-dosen IAIN akan mendapat pelatihan secara bergilir di luar negeri, terutama di Kanada.
“Jadi nanti kita berangkatkan dosen maupun mahasiswa secara bergilir,” imbuh Nur Syam. Rencananya, program tersebut akan dilaksanakan tahun depan hingga 2017. (hdytlh/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
Program pemurtadan kali ya..
orang sekelas rektor dengan gelar yang amat panjang pasti punya alasan kuat kenapa kayak gitu..
tapi klo hanya sekedar materi yg dikejar ternyata memang tidak menjamin…
mudah2an Allah selalu membersihkan hati qta dari orang2 munafik…
mnuntut ilmu d negri kafir spy mnjd pmimpin yg mngajarkan k kafiran. mustinya org2 kafir yg dtg k ngri ini dg mnghbskan byk uang yg dbri pngjaran ttg syariat islam. Org2 hina tlah itu mmbeli org2 islam dg hrtanya. Na’udzubillah
Orang kafir memberi sesuatu tidak ada yang geratis itu harus disadari, sudah cukup pendangkalan akidah yg dilakukan mereka dg simbol HAM.
IAIN = Ingkar Allah Ingkar Nabi
guoblok tenan..ham democrazy persamaan gender adlh progam freemansory.
Menjual Aqidah membeli kekafiran. Melepas surga demi mendaptkan kesenangan dunia dan menuju neraka.
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Ledakan Peshawar, Kepolisian Kembali Menjadi Target
- Predator Tak Berawak Tewaskan Tiga Orang Di Waziristan Utara
- Karzai Janjikan Stabilitas Afghanistan Dalam 5 Tahun
- Sejumlah Negara Siap Perang Cyber
- MUI Pusat Sebut Film 2012 Hanya Imajinasi
- Meningkatnya Tentara Yang Bunuh Diri, Jadi Kekhawatiran Pentagon
- Insiden Tewasnya 13 Warga Abu Ghraib, Dikhawatirkan Memicu Bangkitnya Al-Qaidah Di Irak
- Administrasi Islam Somalia Eksekusi Perempuan Yang Melakukan Perzinahan
- Tentara Salibis Inggris Keteteran Akibat Kurang Peralatan
- Tolak Pembatasan Berekspresi di Media Baru ???
Berita Terbaru
- Serangan Roket Tewaskan Seorang Tentara di Basis NATO
- Pemerintah Transisi Somalia dan Kelompok Ahlu Sunnah Berbagi Kekuasaan
- Nama FBI Malah Bikin Kejahatan Internet Naik
- Jadwal Baru Obama ke Indonesia 23-25 Maret
- Mesir Tangkap Pelajar Yang Melakukan Protes Anti-Israel
- Pakistan Bombardir “Posisi Taliban”?
- Israel Perintahkan Tuk Hancurkan Masjid di Nablus
- AS Ingatkan Eropa Soal Diskriminasi Muslim
- Hugo Chavez Mulai Geram dengan Internet
- PKS Dukung Kunjungan Obama???
. on 20/11/09 08:20 AM said:
program cuci otak untuk merusak aqidah.dengan menuntut ilmu islam dinegara kafir.hanya akan muncul aliran islam yang liberal.
itulah propaganda negara barat lewat program beasiswa gratis .