Anggota DPR: Tidak Pernah Merasa Melawan Suara Rakyat?
Oleh Althaf pada Ahad 08 November 2009, 06:32 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo menegaskan komisi hukum tidak pernah melawan suara rakyat. Apa yang dilakukan komisi justru untuk menolak kriminalisasi terhadap semua institusi penegak hukum, tak terkecuali Polri.
"Kita sangat tidak setuju apabila ada oknum tertentu yang mencoba melakukan kriminalisasi, baik kepada KPK, Polri, Kejaksaan serta lembaga penegak hukum lainnya," kata Bambang lewat pesan singkat kepada detikcom, Sabtu (7/11).
Seperti diberitakan, rapat Komisi III dan Kapolri Kamis lalu mendapat kritikan dari sebagian kalangan masyarakat. Pasca terbukanya rekaman penyadapan yang 'menghajar' institusi Polri, komisi dianggap tidak peka dan terkesan mendukung Polri lewat pernyataan-pernyataannya. Sebagian anggota pun memberikan tepuk tangan kepada Polri.
Dalam rapat kerja dengan KPK Rabu dan Kamis lalu, jelas Bambang, Komisi III juga secara tegas menolak kriminalisasi terhadap KPK. Hal serupa, katanya, juga ditegaskan ketika rapat dengan Kapolri.
"Kami menolak tegas kriminalisasi terhadap Polri. Saat bertemu dengan Kejaksaan hari Senin besok, Komisi III akan menegaskan hal yang sama. Kita tidak rela ada institusi penegak hukum yang dilemahkan, sehingga para koruptor bisa menjadi pemenang," ujar Bambang.
Saat rapat kerja Komisi III dan Kapolri, Bambang Soesatyo dari Fraksi Partai Golkar menyatakan dukungan untuk Polri. Hal itu dilakukan setelah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri membeberkan hasil penyidikan yang selama ini belum diungkap ke publik. Bahkan ia meminta Kapolri tidak mengabulkan pengunduran diri Komjen Pol Susno Duadji.
"Kami minta Kapolri tidak meluluskan permintaan agar Pak Susno mundur," kata Bambang saat itu.
Dewan Perwakilan Rakyat dinilai berat sebelah dalam membela kepolisian melalui rapat kerja yang berlangsung hingga Jumat (6/11) dini hari. Sikap itu dinilai menentang arus besar karena rakyat mengharapkan sikap Dewan yang lebih kritis.
Demikian pendapat sejumlah kalangan secara terpisah di Jakarta, Jumat.
Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Yudi Latif menilai DPR telah menentang arus besar rakyat. ”Kita berharap DPR bisa lebih kritis terhadap proses hukum yang dilakukan polisi, bukan DPR yang menjadi pembela polisi,” katanya.
Ketua Forum Rektor Indonesia Edy Suandi Hamid mengatakan, DPR tak lagi bisa diharapkan mewakili suara rakyat. ”Ketika suara rakyat sudah begitu meluas dan mencapai sekitar sejuta suara di dunia maya, DPR seperti tidur. Tetapi, begitu mendengar penjelasan petinggi Polri dalam rapat kerja, DPR seakan sudah mendengar kebenaran,” ujarnya.
Sulit Jadi Penyeimbang
Yudi menambahkan, DPR sulit diharapkan menjadi kekuatan penyeimbang pihak eksekutif. ”Mayoritas kekuatan DPR telah dipakai oleh kekuasaan. Sedangkan pihak oposisi sebagian disandera oleh kasus lain, misalnya dugaan penyuapan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom,” katanya.
Hal senada disampaikan Edy. ”DPR takut berseberangan dengan Polri karena bisa membuka aib sendiri. Kita kini kembali ke masa ketika oposisi sudah mati dan tak ada lagi kekuatan penyeimbang,” katanya.
Rusdi Marpaung dan Al Araf dari Imparsial juga menilai peran dan fungsi parlemen sebagai institusi pengawasan tidak dilakukan. ”Dalam rapat kerja itu tidak terlihat fungsi checks and balances DPR,” kata Al Araf.
Tak Sensitif
Sikap sebagian besar anggota DPR juga dianggap tidak sensitif. ”DPR menunjukkan kepada publik secara telanjang bagaimana kualitas yang sesungguhnya,” kata Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Sebastian Salang.
Menurut dia, rapat itu seharusnya digunakan untuk mengklarifikasi berbagai dugaan dan rasa ketidakadilan yang muncul dalam masyarakat. Publikasi rapat juga dinilai tidak seimbang. Rapat dengan Polri disiarkan secara langsung, tetapi rapat dengan KPK tidak.
TA Legowo, Koordinator Advokasi Formappi, menambahkan, sebagai pembawa aspirasi masyarakat, DPR seharusnya menyuarakan rasa ketidakadilan publik. Anggota DPR seharusnya mengajukan bukti-bukti bantahan, bukan menelan penjelasan mitra kerja mentah-mentah. Kekurangpekaan itu membuat masyarakat semakin bingung, kepada siapa lagi mereka harus percaya dalam hal penegakan hukum.
”Mengapa Komisi III kehilangan sikap kritis dan daya gedor? Mengapa mereka tidak menanyakan tentang Susno Duadji yang masih hadir meski telah mundur sementara?” ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti.
Rumah Rakyat
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Fahri Hamzah mengatakan, DPR merupakan rumah rakyat. Siapa saja boleh datang, termasuk Polri.
Soal adanya tepuk tangan sejumlah anggota Komisi III setelah mendengar penjelasan Kepala Polri dan Susno, Fahri mengatakan, ”Kalau satu tepuk tangan, ya kadang-kadang lainnya jadi ikut.”
Sementara Ruhut Sitompul dari Fraksi Partai Demokrat mengatakan, ”Kami yang baru-baru ini masih belajar.”
Namun, lanjutnya, beberapa kali ia telah mengeluarkan pernyataan keras, seperti Susno dan para penyidik Polri harus mundur jika kelak pengadilan membebaskan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.
Ajang Penghakiman
Anies Baswedan, anggota Tim Delapan, mengatakan, rapat kerja DPR bukanlah ajang pengadilan untuk menghakimi institusi lain, tetapi untuk mendapatkan masukan dalam perbaikan kinerja pada masa mendatang. ”Seharusnya DPR berhati-hati dengan asas praduga tidak bersalah,” katanya.
Ungkapan senada dikemukakan ahli hukum tata negara Saldi Isra dan peneliti LIPI, Ikrar Nusa Bhakti. Rapat Komisi III ibaratnya teater untuk mengimbangi persidangan Mahkamah Konstitusi. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Data yang dikeluarkan Kepala Polri sudah diinterpretasi dan disusun sedemikian rupa oleh polisi. ”Beda dengan rekaman pembicaraan di Mahkamah Konstitusi, tidak ada penyusunan secara sistematis,” kata Saldi Isra.
Bagi Ikrar, masuk akal jika Polri berusaha melancarkan perang propaganda seperti itu untuk mengimbangi besarnya dukungan masyarakat selama ini kepada institusi KPK. ”Namun, yang disayangkan, mengapa anggota Komisi III justru menjadi bagian dari upaya propaganda tersebut,” katanya.
Pakar komunikasi dari Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengatakan, penjelasan Kepala Polri di DPR akan sulit mengubah opini masyarakat tentang terjadinya kriminalisasi terhadap KPK. ”Sikap Kepala Polri yang defensif malah tidak bisa membangun kepercayaan masyarakat,” katanya. (sm/arrahmah.com)
sponsored links
Website Resmi Ust Abu Jibriel
Quran sebagai Pedoman dan Pedang sebagai Pengawal
www.abujibriel.com
The Voice, The Eyes, and The Ears of Moslem
Suara, Mata, dan Telinga Kaum Muslimin
www.almuhajirun.net
Polisi tidur aja bikin susah..!
Apalagi polisi yg melek…!
Ketua DPR dan Ketua Komisi III DPR itu dari partai Demokrat. Jadi secara langsung atau tidak langsung menjadi Herder-nya pemerintah. Jika Polisi tidak dilindungi, lalu siapa yang bisa di suruh-suruh dalam urusan hukum?
Makanya polisi dilindungi DPR.
DPR itu singkatan dari Dewan Perwakilan paRtai,jadi adalah sangat naif kalo dia mewakili rakyat…rakyat yang mana ? Ngak ada amanah rakyat yg mereka pegang !
kwAk..kwak2x,ya inilah democrazy!!yg namanya"comberan”(baca democrazy)tetep aja bau,menjijikan dan seabreg kejelekan laenya
tp SALUTE u PKS yg tetep bisa mempertahankan tauhid di lembaga dmn suara rakyat adlh yg terbaik
DPR kita serahkan pada gus dur aja,dan kita2 lihat aj manusia2 berebut kedudukan dan harta demi perut keluarga n golongannya…teruskan DPR kepedulianmu ama polri, gus dur ama laskar wani bener akan melawanmu ....hee..hee..hee
jangan harap pada DPR (Dewan Perwakilan Rakus)
@fathoni, wakakaaka PKS mempertahankan tauhid??? get real bro?! dengan ikut dalam demokrasi itu aja mereka para PKS sudah mengKAFIRkan diri mereka sendiri
Lanjutkan
~
@fathoni, ktk seorg naik prahu sebrangi danau, lalu berkata,“sy tdk diatas danau, sy diatas perahu’. Apkh dia bohong atau dusta? Ktk seorg angkat diri atau org lain utk buat hukum selain hukum Allaah utk ditaati manusia, apkh dia tauhidkan Allaah?
anggota2 dpr, kalian tdk boleh buat hkm halal atas yg Allaah haramkan, tdk boleh buat hkm haram atas yg Allaah halalkan; tdk boleh buat sangsi hkm selain sangsi hkm Allaah; jk kalian lakukan, kalian anggap yg kalian buat lbh baik dr yg Allaah buat
itu sama sj kalian sjajarkan diri kalian dg Allaah, ini musyrik,haram,tdk diampuni oleh Allaah! Kpd manusia, jgn angkat anggota2 dpr, jgn trlibat pmilihan utk angkat mrk, jg dukung sistem yg angkat mrk; kalo dilakukan, klian sama dg mrk dimata Allaah
@fatoni011
Afwan akhi, ad baeknya bljar tauhid lg jg hakekat dan konsekwensinya… Tanya aj “partai dakwah” it, ap sih yg mreka dakwahkan ? Antum pasti bingung ktika jawaban mreka d cek dgn fakta d dunia persilatan… Hehe… Wallohu’alam
Kalau orang yang berlaku salah kemudian dia menyadari kesalahannya Alhamdulillah karena ada harapan mereka akan berlaku lebi baik, namun jika tidak menyadari kesalahannya Masya Allah apa yang bisa diharapkan dr org semacam ini???????
@fathoni: mau tau ttg tauhid ???
http://www.ngaji-online.co.cc ( bisa live langsung dari Madinah an-Nabawiyah )
bisa download pdf, doc & mp3. kalau sudah tahu tauhid sgera diamalkan ilmunya… Jangan sia2kan masa mudamu…
he..he..alhamdulillah yg coment diatas smg ALLAH slalu merahmatinya..dan u pks smoga ALLAH memberikan kesadaran pd mrk
pertanyaanya?
bisakah mempertahankan tauhid dilingkup kekafiran??jawaban ya brarti ia “luar biasa"jawaban tdk brarti rahmat,ridho,maqfiroh ALLAH menyertainya..insyaALLAH
“Wahai rakyat indonesia..ketahuilah..tdk mungkin DPR melawan suara rakyat ttttapi klu nilep uang rakyat..YYYA.. jd dpr kan jg pakai modal om..masak nggak mbalikin modal dulu”
Biasa..kata bang jablay sambil ngunyah banggreng.
mapuslah kalian semua yang ikut pemilu demokrasi inilah hasil dari pemilu itu
Kalau kita baca Al Qur’aan dengan sungguh sungguh, pastilah kita akan menjauhi dan menolak Demokrasi. Sebab al Qur’aan melaknat habis sistem demokrasi. Demi Allah ! Yang berkarib dengan Demokrasi karena mereka belum mengkaji Al Qur’aan dg tuntas
Pemerintah, DPR, Kepolisian, Kejaksaan, mereka adalah satu kesatuan saling bekerja sama untuk memperkaya diri sendiri. Merel\ka berpesta pora di tengah-tengah penderitaan rakyatnya..
Anda harus login untuk memberikan komentar
Berita Sebelumnya
- Sambutan Hangat Untuk Motorola Droid
- Presiden Somalia Jalan-Jalan Ke Kenya Cari Bantuan
- Kerjasama Nuklir AS-Rusia Dimulai Akhir Tahun
- Lagi, Klaim Militer Pakistan Atas 'Kegagahan'-nya Di Waziristan
- Norwegia Tolak Gugatan Yang Menyeret Pejabat Israel Atas Kejahatan Perang Di Jalur Gaza
- PBB Tidak 'Mangkat' Dari Afghanistan
- NATO Berikan Sinyal Peringatan Pada Karzai
- Polandia Minta Perlindungan AS Untuk Menghadapi Agresi Rusia
- Brown Peringatkan Afghanistan Bisa Kehilangan Dukungan Dunia
- Advan Tawarkan 5 Pilihan Bundel Produk
Berita Terbaru
- Obama Adakan Pertemuan Perang Afghanistan
- Inilah Daftar Hitam Negara Pembatas Internet
- Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Latgab Antiteror
- Ledakan Berangkai Mencabik Kota Lahore
- Komandan Inggris : Perubahan Strategi Taliban Sangat Cepat
- India-Rusia Tanda Tangani 19 Perjanjian
- Lagi, Tentara AS Akhiri Hidup Di Afghanistan
- Kampanye Anti-Islam Dalam Pemilihan Perancis
- Warnet Bisa Tangkal Teroris Lewat Daftar Pengunjung?
- Kongres AS Mendesak AS Segera ‘Rangkul’ Muslim?
Berita Terkait
- Hatta: Demokrasi tak Bermakna Tanpa “Sejahterakan Rakyat”
- Islam dan Demokrasi Masih Jadi Perdebatan di Kalangan Muslim
- Demokrasi Porno: Demi Pilkada Artis Seronok Rogoh Kocek 10 M
- Demokrasi Porno: Artis ‘Bom Seks’ Boleh Memimpin Ulama dan Umat Islam Sukabumi
- Guttenberg Bersikukuh Minta Taliban Masuk Dalam Pemerintahan Afghanistan
- Siap-Siap Kuras Uang, Pemerintah Usul 164 RUU Thaghut Pada Prolegnas 2010-2014
- Pernyataan Imarah Islam Afghanistan Mengenai Pembatalan Pemilihan, Melodrama Amerika
- Amin Rais: Indonesia Buktikan Islam Selaras Dengan Demokrasi (?)
- Wajah Baru Anggota DPR Dinilai “Meragukan”
- Kontrak Jelas, PKS Persilakan PDIP Masuk Koalisi?
. on 08/11/09 11:38 AM said:
seumur hidup saya.jika ketemu polisi hanya dipalakin mulu.gak kurang gak lebih.sueerrrrrr!